imsitumeang

Pesan Penghargaan Nobel Perdamaian Bagi China

In Uncategorized on f 18, 10 at 4:15 am

Penganugerahan Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2010 kepada Liu Xiaobo menjadi pertanda yang jelas dan tegas. Dunia mengingatkan Pemerintah China.

Pertanda tersebut memesankan bahwa kemajuan di bidang ekonomi yang memberi kemakmuran bagi China harus dibarengi kemajuan di bidang politik, yaitu penghormatan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). Apalah makna kemakmuran kalau penghargaan terhadap kemanusiaan justru dikurangi.

Liu Xiaobo, yang meringkuk dalam sel di sebuah kota, 500 kilometer dari Beijing, adalah pejuang HAM. Ia menjadi orang ketiga yang ketika Penghargaan Nobel Perdamaian diumumkan ia dipenjara pemerintahnya. Dua tokoh lainnya ialah pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi (1991), dan tokoh perdamaian Jerman beraliran radikal, Carl von Ossietzky (1935).

Keputusan Komite Nobel Norwegia (Den Norske Nobelkomite) yang menganugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo adalah pengakuan terhadap “perjuangan panjang dan tanpa kekerasan bagi penegakan HAM yang fundamental di China”.

Penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya juga hadiah bagi rakyat Tibet, Xinjiang, dan kelompok minoritas di China, yang kurang menikmati kebebasan sebagai manusia.

Sangat rasional kalau Pemerintah China tidak menyenangi keputusan Komite Nobel Norwegia tersebut. Malahan, tersiar di media massa, Kementerian Luar Negeri China menyebut penganugerahan sebagai “penodaan” terhadap tradisi Penghargaan Nobel Perdamaian.

Liu Xiaobo disebut sebagai ”seorang penjahat yang dihukum karena melanggar hukum China”. Apakah Komite Nobel Norwegia bertindak salah? Liu Xiaobo menjadi simbol terkemuka perjuangan aktivis gerakan prodemokrasi dan HAM China.

Berkat dokumen yang disebut Charter 08, Liu Xiaobo menyerukan reformasi konstitusional yang bertahap di China. Seruan yang didukung rakyat China. Semula ada 300 peneken dokumen sebagai pendukung. Setelah disebar via internet, jumlahnya menjadi 10.000 penanda tangan yang sebagian besar adalah kaum intelektual.

Memang, mereka tidak merepresentasikan rakyat China yang jumlahnya lebih satu miliar. Tapi, perkembangan China dilatari sejarah reformasi politik yang dipimpin kaum elitenya.

Setelah terpilih, Liu Xiaobo mendedikasikan hadiah bergengsi tersebut untuk “jiwa-jiwa yang hilang” dalam tragedi di Lapangan Tiananmen tanggal 4 Juni 1989. Human Rights in China (HRIC) yang berbasis di Amerika Serikat mengutip pernyataan istri Liu, Liu Xia, yang mengutip ucapan Liu kepada istrinya. Hari itu, pasukan China menghadang demonstran hingga menewaskan ratusan orang.

Akhirnya, seperti kalimat yang mengawali tulisan ini, pesan Penghargaan Nobel Perdamaian bagi Liu Xiaobo adalah pertanda yang jelas dan tegas: reformasi ekonomi harus disertai reformasi politik. Jika tanpa reformasi di bidang politik yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan, keberhasilan di bidang ekonomi akan kehilangan makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: