imsitumeang

Israel yang Sulit Ditekan

In Uncategorized on f 18, 10 at 7:50 am

Entah berapa kali digelar perundingan “damai” antara Palestina dan Israel di Timur Tengah. Israel selalu berhasil menggagalkan proses perdamaian, jika Palestina menyerang Israel di forum-forum internasional. Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mewanti-wanti tidak akan menghadiri perundingan jika Israel meneruskan pembangunan permukiman di lahan yang diduduki Israel sejak perang tahun 1967.

Terakhir, perundingan pertama secara langsung antara kedua negara diprakarsai Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Hussein Obama yang dimulai hari Kamis (2/9/2010) menyimpulkan: Israel tidak berniat damai! Sebelumnya, Obama menyuarakan kefrustrasiannya saat jumpa pers di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir di Washington, yang dilansir Reuters, hari Rabu (14/4/2010).

Israel tidak berniat damai? Ya, sebuah kesimpulan yang tidak prematur. Perdamaian yang didorong AS dihalangi oleh perseteruan mengenai pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur yang dihuni warga Palestina. Isu yang memicu ketegangan antara Tel Aviv-Washington DC.

Kita meyakini, seluruh rakyat Israel menginginkan perdamaian. Mereka juga capai, lelah, dan bosan hidup dalam ketegangan bernapas permusuhan. Tetapi, harus diakui, ada juga pejabat teras Israel kubu garis keras yang menginginkan dan mempertahankan perkembangan sekarang, antara perang dan damai. Mereka antara lain pejabat teras rezim zionis Israel, walaupun diberitakan terjadi friksi antara Partai Likud sebagai incumbent yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Benyamin Netanyahu dan Partai Kadima yang dipimpin Tzipi Livni yang memperlemah kesolidan mereka. Isu terbuka di Israel, bahkan media massa zionis menyebutnya sebagai perang antarpartai zionis.

Sebelum meletus insiden Mavi Marmara, dunia menyaksikan betapa Israel sulit ditekan. Mavi Marmara, kapal utama kafilah Freedom Flotilla to Gaza yang berpenumpang 750 aktivis kemanusiaan anggota parlemen 12 negara, wartawan, bersama delapan kapal lain, berusaha menembus blokade Israel menuju Gaza.

Mengapa ke Gaza? Karena Gaza adalah kawasan Palestina yang hampir empat tahun terakhir diembargo, baik militer, politik, dan ekonomi, oleh Israel, AS, Mesir, dan lain-lain. Embargo diberlakukan karena rakyat Gaza memilih untuk tidak tunduk terhadap kebijakan zionis Israel dan menginginkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat dan tanah Palestina yang sejak 63 tahun lalu dijajah zionis Israel.

Pernyataan Israel sulit ditekan diungkap Ahmet Davut Oğlu (Ahmad Dawud Oglu), salah seorang penasihat PM Turki Recep Tayyip Erdogan melalui wawancara televisi satelit Al Jazeera di awal bulan Juni 2010 yang lalu. Ia sama sekali tidak menduga Israel bertindak brutal terhadap kafilah Freedom Flotilla to Gaza yang membawa bantuan kemanusiaan.

Jika Israel bisa bertindak brutal terhadap Turki, negara Islam pertama yang mengakui negara Israel tahun 1949, bagaimana terhadap negara lain yang tak berjasa apa pun bagi negara Israel. Oleh media massa di jazirah Arab, yang Oğlu dijuluki sebagai arsitek politik luar negeri Turki (Muhandis as-Siyasah al-Kharijiyyah at-Turkiyyah) hendak menjadikan Turki kembali “mewarisi” keagungan imperium Utsmani (Ottoman) Turki yang pengaruhnya malang melintang di sasah konstelasi global.

Mengapa Israel berani? Setidaknya, tiga faktor mengapa Israel berani bersikap brutal atau tak gentar terhadap tekanan dunia.

Kesatu, Israel secara psikologis merasa negara di atas hukum. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab Amr Moussa di sebuah forum ekonomi di Doha, Qatar, juga awal Juni 2010 ini, mengatakan, “Israel selalu berani berbuat semena-mena karena Israel secara psikologis sudah merasa sebagai negara di atas hukum, di mana semua tindakannya sepanjang sejarah tidak pernah mendapat sanksi, bahkan selalu memperoleh perlindungan dari adidaya, AS.”

PM Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut Israel sebagai negara tiran, sehingga bisa berbuat semaunya tanpa pencegahan.

Bothaina Shaaban, penasihat urusan pers Presiden Suriah Bashar al-Assad, mengatakan, sangat naif jika Barat menunjukkan sikap lemah bahkan membisu terhadap serangan militer Israel ke kapal kemanusiaan Gaza. Ia menuduh Barat-Israel berkonspirasi.

Shaaban menyatakan, tuntutan Barat agar dibentuk komite penyidik independen hanya dagelan seperti komite yang dipimpin mantan jaksa Afrika Selatan, Richard Goldstone, yang diprakarsai Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan kejahatan perang Israel di Jalur Gaza yang disidik komite ternyata berakhir tanpa kabar. Komite penyidik independen apa pun tidak bakal menyampaikan laporannya ke Dewan Keamanan PBB yang bisa menjatuhkan sanksi untuk Israel, karena akan diveto AS. Seharusnya, sanksi ditindaklanjuti Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda.

Kedua, komposisi koalisi pemerintahan Netanyahu saat ini yang notabene kubu agama dan nasionalis radikal. Komposisi tersebut tidak hanya menolak perdamaian juga tidak segan-segan menggelar kekerasan. Serangan militer Israel terhadap kapal utama kafilah Freedom Flotilla to Gaza tanggal 31 Mei 2010 yang lalu tidak terlepas dari faktor tersebut.

Bandingkan dengan komposisi koalisi pemerintahan PM Ehud Olmert, yang mengizinkan kapal misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Ternyata, kebijakan Olmert menguntungkan semua pihak, baik Israel maupun kapal itu.

Koalisi Pemerintah Israel saat ini berintikan kubu garis keras. Serangan terhadap Mavi Marmara adalah salah satu yang memakan korban, termasuk menyerang 12 relawan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), empat relawan Medical Emergency Recue Committe (MER-C), seorang wartawan TVOne, dan tiga relawan Sahabat Al Aqsha-Hidayatullah yang diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanggal 8 Juni 2010 di kantornya, bukan di Istana Negara, Jakarta.

Ketiga, ideologi keamanan yang dianut sejak negara Israel berdiri tahun 1948. Dua pendekatan keamanan menjadi acuan, yaitu pendekatan keamanan terhadap Palestina dan pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah, seperti Iran, Suriah, Hezbollah (Hizbu’llah) atau “Partai Allah”, dan Hamas (Harakat al-Muqāwamat al-Islāmiyyah) atau “Gerakan Pertahanan Islam” (“Islamic Resistance Movement”).

Pendekatan keamanan Israel terhadap Palestina sejak bergulirnya gerakan Zionisme. Israel berusaha menekuk Palestina dan mengusirnya dari tanah yang diklaim Israel sebagai kepunyaan nenek moyangnya.

Pascaperang tahun 1967, Israel berdalih keamanan menggerakkan proyek permukiman Yahudi di seantero Palestina yang dilanjutkan rezim zionis berikutnya.

Menyukseskan ekspansinya, Israel menghindari perundingan yang serius dengan Palestina. Baginya, keberhasilan perundingan tergantung konsesi tanah untuk Palestina.

Serangan militer Israel terhadap kapal misi kemanusiaan merupakan upaya Israel untuk menggagalkan perundingan. Jika Abbas membekukan perundingan tidak langsung, yang digalang utusan khusus AS George Mitchell, berarti Abbas dalam skenario Israel. Kubu garis keras Israel memiliki kepentingan, yaitu memacetkan perundingan.

Pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah dirancang David Ben Gurion sebelum negara Israel berdiri tahun 1948. Ben Gurion kemudian menjadi PM pertama Israel.

Pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah adalah kekuatan militer Israel harus unggul dan tidak boleh lemah dan ragu menghadapi segala ancaman, termasuk aksi aktivis perdamaian pro-Palestina yang tak bersenjata. AS beserta sekutu dekatnya mendukung keamanan Israel memerangi aktivitas yang disebut terorisme.

Tidak mengherankan jika Israel hari Kamis (7/10/2010) di New York menandatangani kontrak 2,75 miliar dolar AS untuk pembelian 20 pesawat tempur jet siluman F-35 buatan Lockheed Martin. Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Ehud Shani mengatakan dalam upacara penandatanganan bahwa penyerahan pesawat tempur diperkirakan antara tahun 2015 dan 2017 serta Israel mempunyai pilihan untuk membeli 55 lagi pesawat.

Michael Oren, Duta Besar Israel untuk AS, menyebut kontrak itu “suatu perkembangan yang mempunyai arti strategi dan sejarah yang penting.” Karena Israel menganggap Republik Islam Iran sebagai ancaman strategis, pesawat-pesawat tempur itu akan mencapainya tanpa terdeteksi radar. Israel menyebut seruan Iran untuk menghancurkan negara Yahudi itu, program nuklirnya yang dicurigai, dan misil-misilnya sebagai ancaman strategis.

Akankah Israel bertahan? Atau, masa depan Israel akan sangat berbahaya jika perdamaian Timur Tengah tidak tercapai, seperti diungkap Raja Yordania Abdullah dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal yang dipublikasi online bulan April 2010 yang lalu? Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: