imsitumeang

Orang Indonesia yang Gampang Marah

In Uncategorized on f 12, 10 at 5:32 am

Jika di tengah masyarakat kita kerap terjadi kebrutalan dan kerusuhan, pertanda orang Indonesia gampang marah: kehilangan sabar dan akal. Maka, yang dipamerkan justru emosi dan senjata, yang diagungkan ialah kehendak mau menang sendiri dengan cara apa pun, termasuk membunuh.

Persoalan sepele saja menyulut kemarahan yang berakibat fatal, karena memakan korban jiwa dan harta. Kita menyaksikannya pekan-pekan ini. Misalnya saja, kebrutalan dan kerusuhan di Tarakan, Kalimantan Timur, merenggut tiga nyawa dan melukai puluhan lainnya. Ribuan perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi untuk mencari tempat berlindung seperti di kantor polisi atau markas tentara serta rumah-rumah ibadah.

Tak hanya di Tarakan, di Jakarta dua kubu preman berseteru. Mereka serang menyerang di dekat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tiga nyawa melayang sia-sia. Mereka tidak mempedulikan imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memprihatinkan berbagai kebrutalan dan kerusuhan di beberapa lokasi Tanah Air.

Kini, orang Indonesia gampang marah. Kita menjadi bangsa yang bengis. Kita kehilangan toleransi. Kohesitas di antara beragam etnik mulai merenggang yang diganti semangat saling membantai, saling membunuh.

Tragedi Tarakan yang terjadi sejak hari Minggu (26/9) adalah bukti kegagalan negara mengantisipasinya. Padahal, bukan perkara yang baru terjadi bentrokan antaretnik di daerah-daerah. Banyak pengalaman kita menangani konflik antaretnik, tetapi tidak berbekas sebagai pelajaran atau hikmah.

Ada kasus di Sampit, Kalimantan Tengah, beberapa tahun silam yang menelan banyak korban. Juga kasus di Poso, Sulawesi Tengah; Ambon, Maluku; Abepura, Papua; dan sejumlah tempat lainnya. Semuanya menebarkan maut dan berbau amis.

Apa akibatnya? Menyebabkan masyarakat setempat trauma, saling curiga. Mereka tidak mempercayai sesama. Yang memprihatinkan itu terjadi di Tarakan dan Jakarta.

Ada banyak faktor yang menyulut konflik. Sebagian faktornya adalah rebutan sumber daya ekonomi dan non-ekonomi.

Masyarakat pendatang menguasai sumber daya ekonomi tertentu dan menyingkirkan sumber daya ekonomi masyarakat bukan pendatang. Menimbulkan iritasi yang meledak menjadi kebrutalan dan kerusuhan.

Mestinya, bentrokan dicegah jika aparat negara sigap mengetahui fenomena dan tangkas mengantisipasinya. Bentrokan antarkubu preman di Jakarta Selatan, misalnya, bibit-bibitnya diketahui pekan sebelumnya. Tetapi aparat negara lalai, alpa, atau acuh. Setelah korban berjatuhan, polisi mendatangi lokasi.

Pemerintah jangan mendiamkan fenomena yang berpotensi konflik. Jangan sibuk memoles citra. Aparat negara jangan menyepelekan gejala kemudian lalai, alpa, atau acuh. Harus sigap mengetahui fenomena dan tangkas mengantisipasinya. Kebrutalan dan kerusuhan tidak diselesaikan hanya berpidato.

Kita gemas jika preman berkuasa ketimbang aparat negara. Mereka leluasa menenteng samurai, parang, dan kelewang di jalan-jalan kota, mencari musuh, tidak dilucuti polisi. Bahkan, mereka menggenggam senjata api dan melepas tembakan.

Saling membunuh tanpa toleransi adalah peradaban yang primitif. Ternyata, orang Indonesia gampang marah! Peradaban kita belum modern alias kuno.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: