imsitumeang

Archive for Oktober, 2010|Monthly archive page

Kaya Tapi Indonesia Rawan Pangan

In Uncategorized on f 25, 10 at 4:38 am

INDONESIA dipredikati negeri yang varian tanaman pangannya beragam. Tapi, tidak serta-merta memenuhi kebutuhan penduduknya.

Kementerian Pertanian mendata, daerah-daerah yang rawan pangan di Tanah Air sekitar 4,5%, sebagian besar di Indonesia bagian timur.

Fakta lain yang memprihatinkan, global hunger index (indeks kelaparan dunia) yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memosisikan, dari lima kategori, Indonesia termasuk negara yang berkategori ‘serius’ rawan pangan.

Lima kategorinya, dari yang terburuk ‘sangat mengkhawatirkan’, ‘mengkhawatirkan’, ‘serius’, ‘moderat’, ke yang terbaik ‘rendah’. Jadi, kategori ‘serius’ rawan pangan tergolong buruk, karena hanya satu tingkat di atas kategori ‘mengkhawatirkan’.

Indeks kelaparan dunia mencatat 122 negara dalam tahap berkembang dan transisi, sisanya 29 negara memiliki tingkat kelaparan yang ‘sangat mengkhawatirkan’ dan ‘mengkhawatirkan’, antara lain Burundi, Chad, Kongo, dan Eritrea. Sebagian besar mereka di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Berarti, negara-negara tersebut hanya satu tingkat lebih jelek jika dibanding Indonesia. Bagi negara-negara di Afrika yang varian tanaman pangannya tidak beragam alias terbatas, jika terancaman rawan pangan bisa dianggap wajar. Tetapi, bagi Indonesia yang varian tanaman pangannya beragam, malah tergolong negara yang memiliki megabiodiversity, maka jika terancam rawan pangan tidak bisa dianggap wajar alias ironi.

Penyebabnya, kebijakan pangan yang salah. Di antaranya, menyeragamkan jenis makanan pokok, yakni beras. Celakanya, lahan bertanam padi terus menerus tergerus dan tergusur oleh permukiman atau area lainnya dan infrastruktur jalan tol.

Hampir tidak ada penduduk di negeri ini yang tidak mengonsumsi nasi. Padahal, dulu kita mengenal penduduk Madura yang makanan pokoknya jagung dan sagu yang dikonsumsi penduduk Maluku. Semua kearifan lokal tersebut punah.

Akibatnya, ketika persediaan beras menipis akibat panen padi yang gagal, rawan pangan pun tak terelakkan. Lalu, Pemerintah meminta penduduk Indonesia mengurangi makan nasi, sedangkan pemerintah daerah berkampanye mengurangi konsumsi beras minimal seporsi sehari. Makan nasi dibatasi, begitu komentar orang-orang yang kadung seneng makan nasi.

Karenanya, kebijakan pangan yang salah harus diperbaiki, yaitu kita harus serius mendiversifikasikan jenis makanan pokok. Kebijakan pangan yang salah lainnya adalah Pemerintah mengekspor ketika kebutuhan pengan di dalam negeri belum mencukupi. Indonesia yang kaya hasil laut, misalnya, defisit perdagangan ikan hingga 1 juta ton per tahun.

Ketika persediaan beras menipis, Pemerintah mengimpornya dari Vietnam atau China. Padahal, Pemerintah bisa menggenjot pengolahan varian tanaman pangan lainnya agar dikonsumsi penduduk, seperti singkong, kentang, jagung, atau buah-buahan yang biasa dijadikan sebagai alternatif. Apalagi, trend manusia modern yang mengurangi makan nasi atau memperbanyak makan lauk-pauk, sayur-mayur, atau buah-buahan.

Rawan pangan memang bukan monopoli Indonesia. Tapi, Pemerintah tidak sigap mengantisipasi ancaman tersebut. China, Filipina, bahkan Thailand dan Vietnam yang menjadi lumbung beras kini mulai mencadangkan pangan untuk kebutuhan di dalam negerinya agar terhindar ancaman tahun 2011. Apalagi, perubahan iklim dan cuaca yang ekstrim mengubah sikluas masa tanam pangan di banyak negara.

Di sini, kita cekcok menyoal apakah Indonesia surplus beras atau tidak. Bahkan, kita terjebak dalam perdebatan benar-salahnya Indonesia rawan pangan. Cape deh…

Iklan

Kinerja Pemerintahan yang Buruk

In Uncategorized on f 25, 10 at 3:29 am

Kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono di bidang ekonomi, lumayan. Perekonomian bertumbuh positif, kemiskinan dan pengangguran pun menurun.

Kendati demikian, masyarakat tetap kecewa, karena Pemerintah mestinya bisa memacu kencang pertumbuhan di bidang ekonomi. Ternyata, Pemerintah kurang mempercayai dirinya sendiri. Karena kurang, Pemerintah mematok angka pertumbuhan yang rendah.

Padahal, banyak kalangan, termasuk World Bank dan International Monetary Fund, meyakini pertumbuhan di bidang ekonomi bisa melewati target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun 2008, yakni 5,8%. Malah, sebagian ekonom memprediksi kita bisa 7%.

Setidaknya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan 90% target kinerja yang tercapai. Klaim keberhasilan bukan sekadar bualan. Faktanya, di bidang ekonomi, secara makro, pertumbuhan ekonomi tahun 2010 mencapai 5,5%, lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya (4,5%).

Kemiskinan dan pengangguran juga menurun. Total orang miskin yang berjumlah 32,5 juta tahun 2009 menjadi 31 juta jiwa tahun ini. Sementara, total orang nganggur berkurang dari 8,1% tahun 2009 menjadi 7,4% tahun ini.

Peringkat daya saing global Indonesia juga meningkat signifikan. Forum Ekonomi Dunia, misalnya, mengumumkan indeks daya saing global kita di posisi yang ke-44 atau menaik sepuluh tingkat ketimbang tahun 2009.

Di kawasan ASEAN, posisi Indonesia lebih baik dibanding Vietnam yang di posisi ke-59, Filipina (85), dan Kamboja (109). Tapi, Indonesia lebih buruk dibanding Singapura (3), Malaysia (26), Brunei (28), dan Thailand (38).

Di bidang politik dan keamanan selama setahun terakhir juga berhasil. Setidaknya, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menangkap teroris di Aceh, Sumatera, dan Jawa.

Begitu pun, koalisi Pemerintah melalui Sekretariat Bersama yang masih solid harus dianggap sebagai keberhasilan. Meskipun bergejolak, toh kubu Yudhoyono-Boediono tetap menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tapi, di samping keberhasilan juga terkesan pasangan Yudhoyono-Boediono lamban mengatasi persoalan. Di bidang lain, misalnya hukum, mereka belepotan. Pengungkapan kasus-kasus mafia hukum yang hanya menyentuh pelaku kelas teri, tidak kelas kakap. Kasus mega skandal Bank Century juga belum tuntas.

Mereka juga gagal mewujudkan birokrasi yang bersih. Kita tidak menerima kelanjutan reformasi birokrasi jajaran Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keungan, pembalakan hutan yang melibatkan aparatur Kementerian Kehutanan, analisis lingkungan “pesanan” yang melibatkan aparatur Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Lebih sulit lagi jika mengawasi pelaksana teknisnya seperti dinas, kantor, atau badan di pemerintahan daerah.

Pemerintahan Yudhoyono-Boediono gagal mempercepat pembangunan infrastruktur. Selama setahun terakhir, tak banyak perbaikan infrastruktur. Hanya sedikit proyek pembangkit listrik yang didirikan, satu ruas jalan tol yang dibangun di Jawa, dan beberapa renovasi bandar udara atau pelabuhan laut.

Banyak ruas jalan rusak di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Papua yang terbengkalai. Sulit membayangkan pertumbuhan di bidang ekonomi bergerak cepat hanya mengandalkan infrastruktur yang seadanya.

Tidak mengherankan jika pengusaha mengeluhkan urusan yang ribet jika berbisnis di negeri ini. Misalnya, mengurus barang impor atau ekspor di pelabuhan laut tidak hanya ruwet tapi juga mahal. Pengusaha Sofjan Wanandi mengakui ekses biaya pengurusan di pelabuhan laut bisa 14%. Biaya siluman masih terjadi di hampir semua instansi Pemerintah yang mengakibatkan ekonomi berbiaya tinggi.

Pengusaha juga bertambah pusing jika berurusan dengan pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, kota). Banyak aturan yang simpang-siur dan inkonsisten. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bahkan menemukan 3.091 peraturan daerah (perda) yang bermasalah selama sembilan tahun terakhir.

Semuanya sebagai konsekuensi pelaksanaan otonomi daerah. Setiap daerah seolah-olah berlomba membuat aturan sendiri-sendiri. Tapi, seharusnya tumpang-tindih kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa segera diatasi jika Pemerintah bergerak yang cepat.

Mari kita menyimak ungkapan Vikram Nehru, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, yang mengatakan bahwa iklim usaha dan infrastruktur merupakan kunci keberhasilan pembangunan Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Mereka bisa pulih lebih cepat setelah kolaps akibat krisis mondial tahun 2008. Sayangnya, dua faktor ini yang ditelantarkan Pemerintah.

Kalangan yang optimistis masih berharap pemerintahan Yudhoyono-Boediono membuat gebrakan untuk masa jabatan empat tahun ke depan. Tapi, harapan tersebut hanya sia-sia jika Pemerintah tidak memperbaiki kelemahannya. Evaluasi menjadi salah satu kunci sukses tidaknya pemerintahan Yudhoyono-Boediono, beserta menteri-menterinya yang tanggal 20 Oktober 2010 berusia setahun.

Tidak aneh bila Presiden-Wakil Presiden harus mengevaluasi kinerja kabinetnya. Kita harus jujur mengakui, banyak persoalan yang belum terselesaikan, antara lain karena kerja menteri-menterinya yang lamban tanpa inisiatif. Perkara-perkara itu yang kemudian melahirkan ketidakpuasan seperti aksi peringatan setahun pemerintahan Yudhoyono-Boediono.

Popularitas pasangan yang menurun disebabkan harapan publik yang terlalu besar, sementara implementasinya terlalu kecil. Publik tidak puas jika pencapaiannya terlalu kecil dari yang seharusnya bisa. Tapi, Pemerintah tidak introspeksi, tidak komunikatif, dan hanya basa-basi. Penegakan hukum adalah salah satu yang terparah.

Sukses Kunjungan Ahmadinejad ke Lebanon

In Uncategorized on f 18, 10 at 10:23 am

Luar Biasa! Media massa asing meliput kunjungan resmi dua hari Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad ke Lebanon, sejak hari Rabu (13/10/2010). Ia ke sana setelah diundang sejawatnya, Presiden Lebanon Michel Sleiman.

Ketibaannya dieluk-eluk massa, baik masyarakat maupun pejabat tinggi Beirut. Media massa dunia tak ketinggalan. Mereka menyiarkan lawatan Ahmadinejad disertai berita sambutan rakyat Lebanon.

Berdiri tegak di atas kendaraan terbuka, ia melewati jalan 5 kilometer dari Bandar Udara Internasional Rafik Hariri ke Istana Kepresidenan Baabda yang dijejali laki-laki, perempuan, tua, dan muda, termasuk anak-anak. Mereka mengusung poster Imam Ayatullah Ruhullah Khomeini, Imam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Ahmadinejad, bendera Iran dan Lebanon, seraya berteriak “selamat datang”.

Ahmadinejad disambut sorak-sorai warga Beirut di pinggir jalan. Di antaranya banyak yang menunggu berjam-jam agar melihat pemimpin berumur 53 tahun itu. Sesuai tradisi Lebanon, mereka menabur bunga dan beras sebagai penghormatan dan pemuliaan tamu. Rombongan beberapa kali terhenti, karena massa meluapkan kegembiraannya.

Di Beirut selatan, markas kelompok Hizbullah yang dipimpin Hassan Nasrallah, Ahmadinejad juga dielu-eluk massa. Sebagian pendapat warga yang dikutip berikut mengungkap kecintaannya. “Dia orang yang hebat dan menyenangkan,” Zynab Sharara, seorang gadis pelajar berumur 16 tahun, mengaku. “Dia dicintai rakyat di sini karena dukungan yang diberikannya kepada kami selama perang 2006.”

Ali Moussa (39) mengatakan, kunjungan Ahmadinejad merupakan salah satu hari terpenting dalam sejarah Lebanon. “Dia simbol perlawanan kami terhadap musuh, Israel,” Moussa menyatakannya, seperti dilansir Sydney Morning Herald, hari Kamis (14/10/2010). “Dia mempermalukan dunia Arab yang meninggalkan Lebanon selama perang bulan Juli 2006.”

“Dia orang yang akan membantu merebut kembali tanah Palestina untuk rakyat Arab. Dia pahlawan dan dia layak mendapat penyambutan ini. Saya berdoa untuk orang ini,” ia melanjutkan.

Sementara itu, berbagai kelompok atau partai dan tokoh agama mengeluarkan statement terpisah. Mereka memuji kebijakan Iran dan menekankan urgensitas peningkatan kerjasama bilateral Tehran-Beirut di segala bidang.

Berbagai liputan media massa asing menyebut luar biasa sambutan rakyat Lebanon, seperti Kantor Berita Agence France-Presse (AFP). Lain lagi laporan Kantor Berita Deutsche Presse-Agentur GmbH (DPA) saat rombongan Ahmadinejad melintasi jalan dari bandara udara ke istana kepresidenan, bahwa sebuah lagu disiarkan melalui pengeras suara dan ribuan balon dilepas. Laporan senada juga ditulis Associated Press (AP).

Televisi Al Jazeera menyebut sambutan rakyat Lebanon sangat meriah. Televisi yang meliput rute-rute Ahmadinejad ini menyatakan lawatan tersebut sangat sensitif dan kunjungan pertama kali Ahmadinejad ke Lebanon sejak menjabat presiden lima tahun ini. Media massa Rusia juga meliputnya.

Tapi, tidak semua orang menyambut kedatangan Ahmadinejad. Sebuah surat terbuka yang ditandatangani 250 politikus, dokter, guru, dan wartawan menudingnya mencampuri urusan Lebanon. “Anda mengulangi apa yang telah dilakukan oleh orang lain sebelum Anda dengan mengintervensi urusan dalam negeri kami,” demikian isinya.

Ahmadinejad disambut Sleiman di Istana Kepresidenan Baabda. Setelah bertemu Sleiman, ia berdialog dengan Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri, Ketua Parlemen Nabih Berri, dan pejabat tinggi lainnya.

Agenda lain lawatannya adalah menggalang kerjasama di bidang ekonomi, penandatanganan nota kesepahaman perdagangan, perindustrian, keenergian, kesehatan, lingkungan, dan pendidikan. Ia juga mengunjungi wilayah selatan Lebanon yang dikuasai Hizbullah, yaitu desa-desa Bint Jbeil dan Maroun al-Ras, lokasi kebrutalan zionis Israel selama perang musim panas tahun 2006.

Surat kabar berbahasa Arab di London, Inggris, Al-Quds al-Arabi, memberitakan bahwa Ahmadinejad berniat mendekati perbatasan sambil “melemparkan batu-batu ke prajurit Israel dari pagar”. Tapi, ia tidak melakukannya.

Imbas lawatan Ahmadinejad menghantui petinggi Israel, terutama pejabat militer dan keamanan, dua pekan terakhir. Mereka berulangkali menyatakan kekhawatirannya. “Lawatan Ahmadinejad ke Lebanon, khususnya kunjungannya ke kawasan selatan, merupakan kemenangan Presiden Iran. Dan, Hizbullah menjadi pihak yang paling penting dalam kunjungan Ahmadinejad,” Koran Haaretz edisi Ahad (17/10/2010) menulisnya seperti dikutip Islamic Republic News Agency (IRNA).

Koran ini mengkhawatirkan peran baru Lebanon sebagai poros muqawama terhadap Israel di kawasan Timur Tengah. Israel kian gerah akibat kepopuleran Iran di perbatasan utara Palestina pendudukan, yang dalam kamus politik internasional dikenal sebagai pangkalan bom atom dan gudang senjata pembunuh massal.

Zionis Israel sebelumnya melancarkan perang propaganda yang mengesankan kunjungan Ahmadinejad sebagai lawatan berbahaya. Tapi bagi Lebanon, kunjungan itu diyakini mempererat hubungan kedua negara dan memperkokoh persatuan di dalam negeri Lebanon.

Pemerintah Israel gencar membujuk pejabat-pejabat Lebanon agar membatalkan kunjungan Ahmadinejad. Mereka menyebutnya sebagai provokasi. Menjelang kedatangan Ahmadinejad, seperti diberitakan Sydney Morning Herald, Rabu (6/10/2010), Israel menambah jumlah pasukannya di sepanjang perbatasan Israel dan Lebanon.

Pejabat-pejabat Israel juga mengkhawatir Ahmadinejad menggunakan kunjungan resminya untuk merundingkan penjualan senjata Iran ke Lebanon. Pemerintah Israel menggunakan berbagai saluran diplomatik, termasuk melobi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy untuk membujuk Hariri dan Sleiman.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki menekankan kesiapan Tehran mendukung Beirut. “Iran siap memberikan dukungan ekonomi yang tidak terbatas dan bahkan dukungan militer untuk pemerintah dan rakyat Lebanon.” Sebelumnya, Sleiman meminta Iran mempersenjatai militer Lebanon dan melengkapi peralatannya.

Presiden Suriah Bashar al-Assad, salah satu sekutu Ahmadinejad, juga diberitakan prihatin, karena kunjungan itu berpotensi menimbulkan ketegangan di kawasan tersebut. Dia dikabarkan meminta Ahmadinejad menunda kunjungannya.

Ahmadinejad menelepon Raja Abdullah dari Arab Saudi, hari Selasa (12/10/2010) sebelum bertolak. Pada kesempatan itu, Abdullah menyinggung kunjungan tersebut. “Kini masalah ketenangan, stabilitas, dan ketiadaan friksi di Lebanon merupakan hal yang sangat penting dan kita melangkah ke arah sana.”

Tapi, Sekjen Gerakan Hizbullah Lebanon Sayid Hasan Nasrullah dan Ketua Gerakan Kebebasan Patriotik Michel Aoun menggambarkan lawatan Ahmadinejad sebagai kunjungan bersejarah. Pernyataan yang dikeluarkan hari Sabtu (16/10/2010) setelah mereka membicarakan perkembangan nasional dan regional dan menyatakan kesuksesan kunjungan Ahmadinejad.

Hari Jumat (15/10/2010), Hizbullah dan Gerakan Amal mengucapkan terimakasih kepada Ahmadinejad dan menyebut acaranya sebagai tanda ikatan yang erat antara kedua negara.

Sangat beralasan jika ketibaannya dieluk-eluk massa. Ahmadinejad sangat populer di mata bangsa Lebanon karena dianggap simbol muqawama. Ia blak-blakan mengkritik kekejaman zionis Israel kepada Lebanon dan Palestina serta menyerukan negara-negara regional bersatu melawannya dan memuji Lebanon sebagai sekolah muqawama menghadapi kekuatan arogan.

Banyak analis mempercayai lawatan Ahmadinejad mengonsolidasi posisi perlawanan kepada Israel. Karena, sebagaimana penekanan pakar militer dan politik, saat ini zionis Israel tidak memiliki kekuatan untuk menjamin keamanan yang dijanjikannya di Palestina pendudukan. Belum lagi, betapa Amerika Serikat (AS) masih dililit krisis ekonomi serta perang Irak dan Afghanistan.

Rezim penjajah ini tengah menyaksikan saat-saat kehancurannya dan muqawama rakyat semakin kuat. Kenyataan hari Kamis (14/10/2010) di Desa Bint Jbeil, ribuan warga mendengarkan pesan Revolusi Islam Iran yang dilisankan Ahmadinejad. Pesannya mengulangi ucapan Khomeini bahwa ‘Israel harus lenyap dari muka bumi’ dan ‘Israel bakal musnah’.

Pesan ini menunjukkan betapa zionis Israel selain kalah dari sisi militer, juga dari sisi politik dan pandangan masyarakat Timur Tengah bahwa mereka tidak lagi berani mengaku-aku sebagai terkuat di kawasan. Saat yang sama, media-media massa Barat setelah menayangkan live pidato Ahmadinejad segera menyorot wajah-wajah militer zionis Israel yang kuyu. Pertanyaannya, apakah peti mati zionis Israel telah disiapkan?

Israel yang Sulit Ditekan

In Uncategorized on f 18, 10 at 7:50 am

Entah berapa kali digelar perundingan “damai” antara Palestina dan Israel di Timur Tengah. Israel selalu berhasil menggagalkan proses perdamaian, jika Palestina menyerang Israel di forum-forum internasional. Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mewanti-wanti tidak akan menghadiri perundingan jika Israel meneruskan pembangunan permukiman di lahan yang diduduki Israel sejak perang tahun 1967.

Terakhir, perundingan pertama secara langsung antara kedua negara diprakarsai Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Hussein Obama yang dimulai hari Kamis (2/9/2010) menyimpulkan: Israel tidak berniat damai! Sebelumnya, Obama menyuarakan kefrustrasiannya saat jumpa pers di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir di Washington, yang dilansir Reuters, hari Rabu (14/4/2010).

Israel tidak berniat damai? Ya, sebuah kesimpulan yang tidak prematur. Perdamaian yang didorong AS dihalangi oleh perseteruan mengenai pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur yang dihuni warga Palestina. Isu yang memicu ketegangan antara Tel Aviv-Washington DC.

Kita meyakini, seluruh rakyat Israel menginginkan perdamaian. Mereka juga capai, lelah, dan bosan hidup dalam ketegangan bernapas permusuhan. Tetapi, harus diakui, ada juga pejabat teras Israel kubu garis keras yang menginginkan dan mempertahankan perkembangan sekarang, antara perang dan damai. Mereka antara lain pejabat teras rezim zionis Israel, walaupun diberitakan terjadi friksi antara Partai Likud sebagai incumbent yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Benyamin Netanyahu dan Partai Kadima yang dipimpin Tzipi Livni yang memperlemah kesolidan mereka. Isu terbuka di Israel, bahkan media massa zionis menyebutnya sebagai perang antarpartai zionis.

Sebelum meletus insiden Mavi Marmara, dunia menyaksikan betapa Israel sulit ditekan. Mavi Marmara, kapal utama kafilah Freedom Flotilla to Gaza yang berpenumpang 750 aktivis kemanusiaan anggota parlemen 12 negara, wartawan, bersama delapan kapal lain, berusaha menembus blokade Israel menuju Gaza.

Mengapa ke Gaza? Karena Gaza adalah kawasan Palestina yang hampir empat tahun terakhir diembargo, baik militer, politik, dan ekonomi, oleh Israel, AS, Mesir, dan lain-lain. Embargo diberlakukan karena rakyat Gaza memilih untuk tidak tunduk terhadap kebijakan zionis Israel dan menginginkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat dan tanah Palestina yang sejak 63 tahun lalu dijajah zionis Israel.

Pernyataan Israel sulit ditekan diungkap Ahmet Davut Oğlu (Ahmad Dawud Oglu), salah seorang penasihat PM Turki Recep Tayyip Erdogan melalui wawancara televisi satelit Al Jazeera di awal bulan Juni 2010 yang lalu. Ia sama sekali tidak menduga Israel bertindak brutal terhadap kafilah Freedom Flotilla to Gaza yang membawa bantuan kemanusiaan.

Jika Israel bisa bertindak brutal terhadap Turki, negara Islam pertama yang mengakui negara Israel tahun 1949, bagaimana terhadap negara lain yang tak berjasa apa pun bagi negara Israel. Oleh media massa di jazirah Arab, yang Oğlu dijuluki sebagai arsitek politik luar negeri Turki (Muhandis as-Siyasah al-Kharijiyyah at-Turkiyyah) hendak menjadikan Turki kembali “mewarisi” keagungan imperium Utsmani (Ottoman) Turki yang pengaruhnya malang melintang di sasah konstelasi global.

Mengapa Israel berani? Setidaknya, tiga faktor mengapa Israel berani bersikap brutal atau tak gentar terhadap tekanan dunia.

Kesatu, Israel secara psikologis merasa negara di atas hukum. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab Amr Moussa di sebuah forum ekonomi di Doha, Qatar, juga awal Juni 2010 ini, mengatakan, “Israel selalu berani berbuat semena-mena karena Israel secara psikologis sudah merasa sebagai negara di atas hukum, di mana semua tindakannya sepanjang sejarah tidak pernah mendapat sanksi, bahkan selalu memperoleh perlindungan dari adidaya, AS.”

PM Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut Israel sebagai negara tiran, sehingga bisa berbuat semaunya tanpa pencegahan.

Bothaina Shaaban, penasihat urusan pers Presiden Suriah Bashar al-Assad, mengatakan, sangat naif jika Barat menunjukkan sikap lemah bahkan membisu terhadap serangan militer Israel ke kapal kemanusiaan Gaza. Ia menuduh Barat-Israel berkonspirasi.

Shaaban menyatakan, tuntutan Barat agar dibentuk komite penyidik independen hanya dagelan seperti komite yang dipimpin mantan jaksa Afrika Selatan, Richard Goldstone, yang diprakarsai Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan kejahatan perang Israel di Jalur Gaza yang disidik komite ternyata berakhir tanpa kabar. Komite penyidik independen apa pun tidak bakal menyampaikan laporannya ke Dewan Keamanan PBB yang bisa menjatuhkan sanksi untuk Israel, karena akan diveto AS. Seharusnya, sanksi ditindaklanjuti Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda.

Kedua, komposisi koalisi pemerintahan Netanyahu saat ini yang notabene kubu agama dan nasionalis radikal. Komposisi tersebut tidak hanya menolak perdamaian juga tidak segan-segan menggelar kekerasan. Serangan militer Israel terhadap kapal utama kafilah Freedom Flotilla to Gaza tanggal 31 Mei 2010 yang lalu tidak terlepas dari faktor tersebut.

Bandingkan dengan komposisi koalisi pemerintahan PM Ehud Olmert, yang mengizinkan kapal misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Ternyata, kebijakan Olmert menguntungkan semua pihak, baik Israel maupun kapal itu.

Koalisi Pemerintah Israel saat ini berintikan kubu garis keras. Serangan terhadap Mavi Marmara adalah salah satu yang memakan korban, termasuk menyerang 12 relawan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), empat relawan Medical Emergency Recue Committe (MER-C), seorang wartawan TVOne, dan tiga relawan Sahabat Al Aqsha-Hidayatullah yang diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanggal 8 Juni 2010 di kantornya, bukan di Istana Negara, Jakarta.

Ketiga, ideologi keamanan yang dianut sejak negara Israel berdiri tahun 1948. Dua pendekatan keamanan menjadi acuan, yaitu pendekatan keamanan terhadap Palestina dan pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah, seperti Iran, Suriah, Hezbollah (Hizbu’llah) atau “Partai Allah”, dan Hamas (Harakat al-Muqāwamat al-Islāmiyyah) atau “Gerakan Pertahanan Islam” (“Islamic Resistance Movement”).

Pendekatan keamanan Israel terhadap Palestina sejak bergulirnya gerakan Zionisme. Israel berusaha menekuk Palestina dan mengusirnya dari tanah yang diklaim Israel sebagai kepunyaan nenek moyangnya.

Pascaperang tahun 1967, Israel berdalih keamanan menggerakkan proyek permukiman Yahudi di seantero Palestina yang dilanjutkan rezim zionis berikutnya.

Menyukseskan ekspansinya, Israel menghindari perundingan yang serius dengan Palestina. Baginya, keberhasilan perundingan tergantung konsesi tanah untuk Palestina.

Serangan militer Israel terhadap kapal misi kemanusiaan merupakan upaya Israel untuk menggagalkan perundingan. Jika Abbas membekukan perundingan tidak langsung, yang digalang utusan khusus AS George Mitchell, berarti Abbas dalam skenario Israel. Kubu garis keras Israel memiliki kepentingan, yaitu memacetkan perundingan.

Pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah dirancang David Ben Gurion sebelum negara Israel berdiri tahun 1948. Ben Gurion kemudian menjadi PM pertama Israel.

Pendekatan keamanan terhadap musuh-musuhnya di Timur Tengah adalah kekuatan militer Israel harus unggul dan tidak boleh lemah dan ragu menghadapi segala ancaman, termasuk aksi aktivis perdamaian pro-Palestina yang tak bersenjata. AS beserta sekutu dekatnya mendukung keamanan Israel memerangi aktivitas yang disebut terorisme.

Tidak mengherankan jika Israel hari Kamis (7/10/2010) di New York menandatangani kontrak 2,75 miliar dolar AS untuk pembelian 20 pesawat tempur jet siluman F-35 buatan Lockheed Martin. Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Ehud Shani mengatakan dalam upacara penandatanganan bahwa penyerahan pesawat tempur diperkirakan antara tahun 2015 dan 2017 serta Israel mempunyai pilihan untuk membeli 55 lagi pesawat.

Michael Oren, Duta Besar Israel untuk AS, menyebut kontrak itu “suatu perkembangan yang mempunyai arti strategi dan sejarah yang penting.” Karena Israel menganggap Republik Islam Iran sebagai ancaman strategis, pesawat-pesawat tempur itu akan mencapainya tanpa terdeteksi radar. Israel menyebut seruan Iran untuk menghancurkan negara Yahudi itu, program nuklirnya yang dicurigai, dan misil-misilnya sebagai ancaman strategis.

Akankah Israel bertahan? Atau, masa depan Israel akan sangat berbahaya jika perdamaian Timur Tengah tidak tercapai, seperti diungkap Raja Yordania Abdullah dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal yang dipublikasi online bulan April 2010 yang lalu? Wallahu’alam.

Pesan Penghargaan Nobel Perdamaian Bagi China

In Uncategorized on f 18, 10 at 4:15 am

Penganugerahan Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2010 kepada Liu Xiaobo menjadi pertanda yang jelas dan tegas. Dunia mengingatkan Pemerintah China.

Pertanda tersebut memesankan bahwa kemajuan di bidang ekonomi yang memberi kemakmuran bagi China harus dibarengi kemajuan di bidang politik, yaitu penghormatan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). Apalah makna kemakmuran kalau penghargaan terhadap kemanusiaan justru dikurangi.

Liu Xiaobo, yang meringkuk dalam sel di sebuah kota, 500 kilometer dari Beijing, adalah pejuang HAM. Ia menjadi orang ketiga yang ketika Penghargaan Nobel Perdamaian diumumkan ia dipenjara pemerintahnya. Dua tokoh lainnya ialah pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi (1991), dan tokoh perdamaian Jerman beraliran radikal, Carl von Ossietzky (1935).

Keputusan Komite Nobel Norwegia (Den Norske Nobelkomite) yang menganugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo adalah pengakuan terhadap “perjuangan panjang dan tanpa kekerasan bagi penegakan HAM yang fundamental di China”.

Penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya juga hadiah bagi rakyat Tibet, Xinjiang, dan kelompok minoritas di China, yang kurang menikmati kebebasan sebagai manusia.

Sangat rasional kalau Pemerintah China tidak menyenangi keputusan Komite Nobel Norwegia tersebut. Malahan, tersiar di media massa, Kementerian Luar Negeri China menyebut penganugerahan sebagai “penodaan” terhadap tradisi Penghargaan Nobel Perdamaian.

Liu Xiaobo disebut sebagai ”seorang penjahat yang dihukum karena melanggar hukum China”. Apakah Komite Nobel Norwegia bertindak salah? Liu Xiaobo menjadi simbol terkemuka perjuangan aktivis gerakan prodemokrasi dan HAM China.

Berkat dokumen yang disebut Charter 08, Liu Xiaobo menyerukan reformasi konstitusional yang bertahap di China. Seruan yang didukung rakyat China. Semula ada 300 peneken dokumen sebagai pendukung. Setelah disebar via internet, jumlahnya menjadi 10.000 penanda tangan yang sebagian besar adalah kaum intelektual.

Memang, mereka tidak merepresentasikan rakyat China yang jumlahnya lebih satu miliar. Tapi, perkembangan China dilatari sejarah reformasi politik yang dipimpin kaum elitenya.

Setelah terpilih, Liu Xiaobo mendedikasikan hadiah bergengsi tersebut untuk “jiwa-jiwa yang hilang” dalam tragedi di Lapangan Tiananmen tanggal 4 Juni 1989. Human Rights in China (HRIC) yang berbasis di Amerika Serikat mengutip pernyataan istri Liu, Liu Xia, yang mengutip ucapan Liu kepada istrinya. Hari itu, pasukan China menghadang demonstran hingga menewaskan ratusan orang.

Akhirnya, seperti kalimat yang mengawali tulisan ini, pesan Penghargaan Nobel Perdamaian bagi Liu Xiaobo adalah pertanda yang jelas dan tegas: reformasi ekonomi harus disertai reformasi politik. Jika tanpa reformasi di bidang politik yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan, keberhasilan di bidang ekonomi akan kehilangan makna.

Penghargaan Nobel Sains dan Kecenderungannya

In Uncategorized on f 18, 10 at 3:31 am

Pertumbuhan tinggi ekonomi negara-negara berkembang dipengaruhi faktor sains atau ilmu pengetahuan dan teknologi. Ya, sains dan teknologi menjadi faktor kunci.

Tapi, selama perkembangannya, sains dan teknologi kerap dikaitkan dengan tujuan pragmatis. Akibatnya, sains dasar menjadi kehilangan posisi alias dipandang sebelah mata. Padahal, penelitian sains dasar sangat dibutuhkan, khususnya membuka perbatasan atau frontier yang baru mengenai alam raya dan rahasianya.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Kungliga Vetenskapsakademien) yang bertujuan mempromosikan ilmu, khususnya ilmu alam dan matematika, saban tahun memberikan Penghargaan Nobel. Organisasi independen yang didirikan Raja Fredrik I tahun 1739 ini tidak melulu mempertimbangkan sains dasar sebagai alasan penganugerahan Penghargaan Nobel.

Makanya, astronomi dan matematika tidak termasuk kategori, sebaliknya dipilih fisika dan kimia. Komite-komite akademi ini juga dewan pemilih bagi Penghargaan Nobel dalam bidang ilmu ekonomi.

Fisika dan Kimia, betapapun mengandung sains dasar, cepat atau lambat akan diikuti aplikasi praktis yang kelak diterapkan dalam industri. Tapi, ada astronom yang memperoleh Penghargaan Nobel Fisika, yakni S Chandrasekhar, sebagai penemu hukum evolusi bintang.

Kita juga merasak dan melihat pertimbangan praktis saat penganugerahan Penghargaan Nobel tahun 2010. Untuk fisika, Penghargaan Nobel diterima Andre Geim dan Konstantin Novoselov, keduanya kelahiran Rusia, karena karyanya di bidang grafin (graphene) diperkirakan menggantikan silikon sebagai material dasar elektronik.

Grafin adalah satu bentuk karbon seukuran atom. Kendati secara teoretis dikaji sebelum tahun 2004, tahun itulah Geim dan Novoselov menemukan teknik mengisolasi lembaran material yang stabil ini.

Untuk kimia, Penghargaan Nobel diraih trio Richard Heck (Amerika Serikat) serta Ei-ichi Negishi dan Akira Suzuki (Jepang). Karya mereka dikaji empat dekade silam tetapi hingga kini diakui sebagai peralatan tercanggih. Disebut sebagai palladium-catalyzed cross couplings, kimiawan bisa menyambung-nyambung atom karbon. Langkah penentu membentuk molekul kompleks.

Kita mengagumi karya-karya peraih Penghargaan Nobel sains. Karya-karya yang mengilhami, visioner, disertai pandangan bahwa riset mereka bermanfaat kelak bagi umat manusia.

Semestinya, Penghargaan Nobel sains mengilhami ilmuwan Indonesia. Kalaupun Penghargaan Nobel masih jauh, karena sarana dan prasarana penelitian yang belum memadai, setidaknya dipastikan ada sasaran antara yang kelak dicapai. Kita menyadari semuanya membutuhkan ketekunan dan kecerdasan yang luar biasa.

Kita menggugah ilmuwan Indonesia untuk berorientasi Penghargaan Nobel, betapapun pola kehidupan kini mengarah ke materialistik dan instant yang tidak kondusif bagi penelitian. Syukurnya, kita bergembira mengingat banyak anak-anak negeri ini yang meraih medali (emas, perak, perunggu, gelar honorable mention) olimpiade sains (matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi).

Sang juara-juara ini ditawari beasiswa kuliah di universitas-universitas prestisius di dalam dan luar negeri. Kita berharap, generasi mereka kelak menggondol Penghargaan Nobel.

Orang Indonesia yang Gampang Marah

In Uncategorized on f 12, 10 at 5:32 am

Jika di tengah masyarakat kita kerap terjadi kebrutalan dan kerusuhan, pertanda orang Indonesia gampang marah: kehilangan sabar dan akal. Maka, yang dipamerkan justru emosi dan senjata, yang diagungkan ialah kehendak mau menang sendiri dengan cara apa pun, termasuk membunuh.

Persoalan sepele saja menyulut kemarahan yang berakibat fatal, karena memakan korban jiwa dan harta. Kita menyaksikannya pekan-pekan ini. Misalnya saja, kebrutalan dan kerusuhan di Tarakan, Kalimantan Timur, merenggut tiga nyawa dan melukai puluhan lainnya. Ribuan perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi untuk mencari tempat berlindung seperti di kantor polisi atau markas tentara serta rumah-rumah ibadah.

Tak hanya di Tarakan, di Jakarta dua kubu preman berseteru. Mereka serang menyerang di dekat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tiga nyawa melayang sia-sia. Mereka tidak mempedulikan imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memprihatinkan berbagai kebrutalan dan kerusuhan di beberapa lokasi Tanah Air.

Kini, orang Indonesia gampang marah. Kita menjadi bangsa yang bengis. Kita kehilangan toleransi. Kohesitas di antara beragam etnik mulai merenggang yang diganti semangat saling membantai, saling membunuh.

Tragedi Tarakan yang terjadi sejak hari Minggu (26/9) adalah bukti kegagalan negara mengantisipasinya. Padahal, bukan perkara yang baru terjadi bentrokan antaretnik di daerah-daerah. Banyak pengalaman kita menangani konflik antaretnik, tetapi tidak berbekas sebagai pelajaran atau hikmah.

Ada kasus di Sampit, Kalimantan Tengah, beberapa tahun silam yang menelan banyak korban. Juga kasus di Poso, Sulawesi Tengah; Ambon, Maluku; Abepura, Papua; dan sejumlah tempat lainnya. Semuanya menebarkan maut dan berbau amis.

Apa akibatnya? Menyebabkan masyarakat setempat trauma, saling curiga. Mereka tidak mempercayai sesama. Yang memprihatinkan itu terjadi di Tarakan dan Jakarta.

Ada banyak faktor yang menyulut konflik. Sebagian faktornya adalah rebutan sumber daya ekonomi dan non-ekonomi.

Masyarakat pendatang menguasai sumber daya ekonomi tertentu dan menyingkirkan sumber daya ekonomi masyarakat bukan pendatang. Menimbulkan iritasi yang meledak menjadi kebrutalan dan kerusuhan.

Mestinya, bentrokan dicegah jika aparat negara sigap mengetahui fenomena dan tangkas mengantisipasinya. Bentrokan antarkubu preman di Jakarta Selatan, misalnya, bibit-bibitnya diketahui pekan sebelumnya. Tetapi aparat negara lalai, alpa, atau acuh. Setelah korban berjatuhan, polisi mendatangi lokasi.

Pemerintah jangan mendiamkan fenomena yang berpotensi konflik. Jangan sibuk memoles citra. Aparat negara jangan menyepelekan gejala kemudian lalai, alpa, atau acuh. Harus sigap mengetahui fenomena dan tangkas mengantisipasinya. Kebrutalan dan kerusuhan tidak diselesaikan hanya berpidato.

Kita gemas jika preman berkuasa ketimbang aparat negara. Mereka leluasa menenteng samurai, parang, dan kelewang di jalan-jalan kota, mencari musuh, tidak dilucuti polisi. Bahkan, mereka menggenggam senjata api dan melepas tembakan.

Saling membunuh tanpa toleransi adalah peradaban yang primitif. Ternyata, orang Indonesia gampang marah! Peradaban kita belum modern alias kuno.