imsitumeang

Duit Menumpuk di Bank

In Uncategorized on f 29, 10 at 3:54 am

Dana yang menggunung di bank tanpa tersalurkan menandakan ada yang salah dalam sistem perekonomian kita. Solusi seluruhnya tidak bisa diharapkan dari sektor perbankan. Langkah konkrit Pemerintah untuk membenahi karut-marut sektor industri dan infrastruktur adalah kuncinya.

Data terakhir Bank Indonesia (BI) membuat mata terbelakak. Betapa tidak, angka undisbursed loan per bulan April 2010 yang lalu bernilai Rp 474 triliun atau menaik 76% dari tahun sebelumnya. Berarti, kendati bank memberikan komitmen untuk mengucurkan pinjaman, ternyata debitor tak tertarik mencairkannya. Hingga akhir Juni 2010, angkanya masih di atas Rp 400 triliun.

Pertambahan kredit yang menganggur jelas jauh lebih cepat dari pertambahan jumlah pinjaman yang dikucurkan bank. Total kredit yang disalurkan bank hanya Rp 106 triliun atau pertumbuhannya kurang 20% setahun terakhir. Angka tersebut menyimpulkan bahwa banyak pengusaha yang ragu untuk memanfaatkan kredit bank. Dampaknya, roda ekonomi tak bergerak selincah yang diharapkan.

Jika berpaling sejenak ke belakang, fenomena ini bukan yang baru. Biang keroknya belum berubah. Bunga bank yang tinggi salah satunya. Bunga pinjaman, yang kini anteng di kisaran 14-17%, dianggap kelewat tinggi. Akibatnya, meski komitmen bank untuk mengucurkan kredit dikantongi, pengusaha tak mencairkannya dan berharap bunga tersebut turun. Pilihan lainnya, mereka beralih ke bank-bank di luar negeri, yang menawarkan bunga jauh lebih rendah.

Ketidakpastian perekonomian dunia sebagai imbas krisis Yunani juga memperkuat alasan pengusaha menunda pencairan kredit. Tapi, jika angka undisbursed loan di sektor infrastruktur hingga 40% maka tak adil jika menyalahkan faktor bunga dan ketidakpastian perekonomian dunia sebagai penyebab. Fenomena mandeknya proyek-proyek jalan tol membuktikannya.

Pencairan kredit untuk proyek jalan tol terganjal berbagai hambatan investasi, seperti urusan pembebasan tanah. Berbelitnya tetek-bengek perizinan di proyek infrastruktur juga kerap memperumit persoalan. Faktor-faktor tersebut membuat pengusaha terpaksa menunda niatnya mencairkan kredit. Sebab, mereka tak mau beban bunga kreditnya terus bertambah, sementara laba yang diharapkan tak kunjung dinikmati.

Gambaran kenyataan ini menjelaskan bahwa perbaikan iklim investasi merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan oleh Pemerintah. Kemudahan berinvestasi, pemangkasan biaya tinggi, pemberantasan praktik pungli, dan pembenahan infrastruktur di dalam negeri menjadi persyaratan yang sejak dulu dituntut investor domestik dan asing.

Tanpa itu semua, kita sulit berharap investasi akan membaik seperti yang diangan-angankan. Investor akan memilih membiakkan duitnya di bank untuk mendulang untung ketimbang bertaruh lewat proyek investasi yang dibiayai kredit bank.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: