imsitumeang

Keteguhan Sikap Seorang Obama

In Uncategorized on f 3, 10 at 2:24 pm

Barack Hussein Obama, Presiden ke-44 Amerika Serikat, melakoni yang bisa diungkap dengan frasa Obama seorang versus mayoritas rakyatnya. Ia menempuh resiko kehilangan popularitas: menolak aspirasi masyarakat yang berkeberatan jika rencana pembangunan Cordova House sebagai pusat kegiatan Islam dekat Ground Zero, New York. Baru kali ini presiden keturunan Afrika-Amerika Serikat yang pertama itu menghadapi mayoritas rakyatnya—sebagian mungkin pendukungnya.

Obama berpendapat bahwa umat (minoritas) muslim berhak menunaikan ibadahnya seperti umat beragama lain di Negeri Abang Sam ini. Ia sekubu dengan Walikota New York Michael Bloomberg, yang mengatakan “akan menjadi hari yang menyedihkan untuk Amerika” jika penentang memblokir rencana tersebut berikut masjid di atas tanah pribadi setinggi 13 lantai, yang diurus menurut prosedur hukum lokal, yang posisinya tidak jauh dari lokasi lokasi reruntuhan gedung World Trade Center (WTC) di kawasan Manhattan akibat serangan teroris 11 September 2001.

Rencana pembangunan itu juga ditentang politikus konservatif. Sejumlah politikus Partai Republik yang menentang bertekad menggunakan isu ini untuk merebut mayoritas kursi Kongres dari Partai Demokrat dalam pemilihan parlemen Amerika Serikat, November nanti. Mereka keberatan lokasinya, yang hanya dua blok jauhnya dari lokasi reruntuhan dan rencana tersebut hanya melukai perasaan keluarga ribuan korban.

Di tengah perdebatan, warga muslim, kristiani, Yahudi, dan kelompok-kelompok sipil Amerika Serikat berkoalisi atas nama New York Neighbors for American Values. Mereka mendukung sepenuhnya mendukung rencana tersebut, karena perdebatan itu menimbulkan ketakutan dan perpecahan. Koalisi yang terdiri atas sekitar 40 kelompok sipil dan agama tersebut berjuang menegakkan kebebasan sesuai konstitusi Amerika Serikat. “Kita tidak diserang oleh dunia muslim,” Donna O’Connor berteriak selaku juru bicara kelompok September 11th Families for Peaceful Tomorrows.

Dari kejauhan, kita mengagumi keteguhan sikap Obama mempertahankan nilai-nilai prinsipiil yaitu kebebasan beragama, kendati karenanya ia menempuh resiko. Padahal, belum lama berselang Obama yang menjabat sejak 20 Januari 2009 menggantikan George Walker Bush itu meluncurkan kebijakan yang populis setelah mengegolkan undang-undang reformasi kesehatan. Ia juga dipuji lantaran memaksa British Petroleum (BP) membersihkan tumpahan minyak mereka di Teluk Meksiko.

Namun, bagi lulusan Universitas Columbia dan Sekolah Hukum Universitas Harvard ini, popularitas bukan persoalan harus selalu harus dibela mati-matian. Menurut lelaki kelahiran Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961, yang sejak awal kampanyenya menawarkan “perubahan” itu, cara pandang mayoritas rakyatnya yang syakwasangka terhadap Islam (malahan Islamofobia) harus dikoreksi.

Jika 44% koresponden jajak pendapat yang dimuat Time menganggap bahwa membangun masjid tak jauh dari Ground Zero sebagai pelecehan terhadap korban peristiwa 11/9 berarti mereka mempercayai Islam dan teror yang menewaskan 2.600 orang itu sebagai perkara tak terpisah. Sebagian responden juga mempercayai bahwa Islam mendorong aksi kekerasan terhadap pemeluk agama lain. Akhirnya, 61% koresponden menolak rencana itu—yang disimpulkan Time sebagai Islamofobia.

Ketidaktahuan yang cenderung syakwasangka ini hendak diluruskan anak pasangan Barack Hussein Obama, Sr, seorang Kenya dari Nyang’oma Kogelo, Distrik Siaya, Kenya, dan Ann Dunham, seorang Amerika Serikat dari Wichita, Kansas. Tak ayal, kekecewaan kebanyakan rakyat Amerika Serikat yang setahun lalu memilihnya pun membubung. Setelah pernyataan dukungannya, bertambah banyak warga Amerika Serikat yang mempercayai ia seorang muslim.

Jajak pendapat yang dikumpulkan Pew Forum on Religion and Public Life membuktikan 18% warga Amerika Serikat meyakini Obama seorang muslim. Angka tersebut menaik dari jajak pendapat sebelumnya, Maret 2009, yang hanya 11%. Bahkan, 43% responden mengaku tidak mengetahui agama yang dianut Obama.

Gedung Putih menegaskan bahwa Obama seorang Kristen. Penegasan yang disampaikan menyusul polling tersebut. “Presiden sudah jelas seorang Kristen. Dia berdoa setiap hari. Dia berkomunikasi dengan penasihat agamanya setiap hari,” juru bicara Gedung Putih Bill Burton menepis dugaan itu. Tentu saja isu ini tak menguntungkannya.

Obama pun berkali-kali menegaskan bahwa yang dilakukannya hanya membela nilai-nilai Amerika Serikat. Karena itu, berbeda dengan pendapat penentang rencana itu, Obama justru menolak mengaitkan teror 11/9 dengan muslim Amerika Serikat. Bersama Walikota Bloomberg, ia membedakan muslim di Amerika Serikat dengan teroris sebagai musuh bersama yang mengancam Amerika Serikat hingga kini.

Berkat keyakinannya, diam-diam Obama yang diketahui masih memahami dan berbicara bahasa Indonesia secara sederhana ini mengirimkan pesan khusus yang luhur: Amerika Serikat juga tanah air bagi minoritas muslim di sana. Mereka pun mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti umat beragama lainnya untuk mempertahankan Amerika Serikat.

Dalam pidato kemenangannya di depan ratusan ribu pendukungnya di Taman Grant di Chicago, Obama menyatakan bahwa “perubahan telah tiba di Amerika.” Presiden yang disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat tanggal 20 Januari 2009 ini membuktikan konsistensinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: