imsitumeang

Memindahkan Ibukota Negara

In Uncategorized on f 2, 10 at 1:01 pm

JAKARTA ibukota yang sarat beban. Jakarta kewalahan menanggungnya akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya saat menginjak usia ke-483. Sedikitnya tiga masalah yang rutin menghantui Jakarta: banjir yang rutin, lalu lintas yang macet, dan ruang terbuka yang minim.

Banjir menjadi momok karena sungai, situ, dan tanah di ibukota tak lagi menampung curahan air hujan. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta hanya mengeruk alur sungai atau membeton kanal-kanalnya serta membebankan alirannya ke kanal-kanal sungai. Pemerintah Provinsi gagal memperluas ruang serapan air, padahal tata kelola air yang tambal sulam justru menjadikan persoalan banjir tak selesai.

Kemacetan menambah beban Jakarta. Lalu lintas yang tak bergerak adalah menu sehari-hari bagi pengendara. Pertambahan jumlah kendaraan (motor, mobil) yang melebihi kapasitas jalan. Akibatnya, asap kendaraan memperburuk kualitas udara dan memosisikan Jakarta sebagai ibukota terpolusi ketiga di dunia menyusul Meksiko dan Bangkok.

Luas ruang terbuka hijau di DKI Jakarta gagal mencapai persentase yang disyaratkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Undang-undang menyebutkan, setiap provinsi idealnya memiliki ruang terbuka hijau seluas 30% dari total wilayahnya. Tapi kini hanya 9,6% yang di bawah target yang dicanangkan Pemerintah Provinsi, yakni 14% dari total 657 km² luas wilayahnya.

Alhasil, beberapa julukan yang tidak enak ditujukan ke Jakarta. Ada yang menyebutnya kota stroke, yang pembuluh darahnya menyempit ke otak, bahkan pecah. Ada yang mengucapnya kota usus buntu yang terinfeksi sehingga harus disembelih. Semua julukan menandakan betapa sarat beban Jakarta sebagai ibukota negara. Penyakitnya komplikasi.

Jelaslah, Jakarta mengandung beragam masalah. Julukan-julukan itu dahulu ditujukan ke Bangkok, ibukota Thailand. Sekarang, menjadi gelar ibukota negara Republik Indonesia yang berulang tahun kemerdekaan yang ke-65. Celakanya semua ditanggung tanpa malu, apalagi perasaan bersalah, bahkan membiarkan.

Tentu saja elite negara tidak merasakannya. Sebab, mereka lancar melewati lalu lintas setelah menggusur penggendara lainnya dari jalan-jalan. Mereka tidak merasa terdesak untuk memperbaiki transportasi berikut layanannya agar murah dan aman dinikmati warganya.

Jakarta juga krisis air bersih. Umumnya warga menyedot air tanah karena perusahaan air minur yang dimiliki pemerintah provinsi tidak menyediakan air bersih.

Jakarta pun diliputi udara kotor. Sangat terasa sebagian akibat buangan kendaraan yang disemburkan melalui knalpot.

Daftar penyakit tersebut panjang, sehingga disimpulkan bahwa Jakarta tidak lagi layak menjadi ibukota negara. Jakarta tidak memiliki daya dukung untuk memikul beban yang sarat, baik sebagai ibukota negara dan ibukota provinsi sekaligus maupun sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan negara sekaligus.

Jadi, memindahkan ibukota negara dan pusat pemerintahan negara ke kota lain sangat cocok. Mengapa harus di Pulau Jawa? Palangkaraya di Kalimantan atau Makassar di Sulawesi patut dipertimbangkan.

Bahkan, lebih radikal lagi, yaitu mendistribusikan pusat-pusat kekuasaan negara ke berbagai kota. Jangan dibiarkan menumpuk di satu kota saja.

Misalnya, Mahkamah Agung dipindah ke kota kecil, sehingga putusan hakimnya terpantau siapa saja yang mondar-mandir ke kantornya. Demikian pula Mahkamah Konstitusi dipindah ke kota kecil lainnya, sehingga putusan hakimnya mengawal konstitusi. Bisa dipertimbangkan Bukittinggi untuk Mahkamah Agung dan Batu untuk Mahkamah Konstitusi.

Semuanya pemancing kreativitas. Menyebut satu atau dua kota kecil sebagai contoh hanya hendak menunjukkan betapa luas Tanah Air kita. Nusantara yang kaya raya beserta bentang alam yang memungkinan sebagai solusi untuk terbebas dari siksaan ibukota negara yang berpenyakit komplikasi.

Relokasi pusat-pusat kekuasaan berdampak ikutan, yaitu meredistribusi pusat-pusat pertumbuhan. Jakarta kelak hanya ibukota DKI Jakarta dan pusat bisnis, sehingga ia terbebas dari penyakit stroke dan infeksi usus buntu yang berkepanjangan.

Bila beberapa masalah tak terselesaikan, Jakarta menjadi ibukota yang kurang layak dihuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: