imsitumeang

Tegaslah Kepada Malaysia

In Uncategorized on f 29, 10 at 6:49 am

SEMANGAT hari kemerdekaan 17 Agustus ternyata tidak memotivasi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tegas kepada pemerintah Negeri Jiran, Malaysia—kerap diplesetkan sebagai Malingsia! Sejak gerakan Ganyang Malaysia yang dikobarkan Presiden Soekarno tanggal 27 Juli 1963, Indonesia tak pernah lagi bersikap yang tegas kepada Malaysia.

Menghadapi pelecehan Malaysia, Presiden Soekarno menyerukan, “Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat. Yoo… ayoo… kita… Ganyang… Ganyang… Malaysia….”

Kini, insiden pelanggaran berulang-ulang terjadi di wilayah daratan dan lautan Indonesia. Tetapi dibiarkan Pemerintah Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pidato kenegaraan Presiden menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-65 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat  (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/8), menyatakan, “Kita kini menempuh politik luar negeri ke segala arah. Kita dapat mempunyai sejuta kawan, tanpa musuh.”

Prinsip zero enemy millions friends (musuh nol, teman jutaan) yang didengungkan Presiden bukan berarti Indonesia harus mengalah demi menghindari permusuhan. Saat kita diinjak-injak, Pemerintah Indonesia jangan berdiam diri saja. Malaysia justru memanfaatkan solidaritas serumpun untuk memperlakukan kita inferior dan kamuflatif seolah-olah bersahabat.

Sikap lemah Indonesia membuat Malaysia besar kepala. Mereka terus saja memprovokasi. Alih-alih meminta maaf atas penangkapan dan perlakuan terhadap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan kita, mereka malah menantang.

Pemerintah Malaysia mengingatkan bahwa mereka mulai kehilangan kesabaran menyikapi demonstrasi warga Indonesia di depan kedutaan besar (kedubes) Malaysia di Jakarta atau konsulat jenderal (konjen) Malaysia di Medan dan Pekanbaru. Terutama demonstrasi Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang melempari kantor kedubes dengan tinja manusia atau demonstrasi warga Indonesia disertai pembakaran bendera Malaysia di depan konjen di Medan dan Pekanbaru. Juga, rencana sejumlah warga Indonesia untuk men-sweeping warga Malaysia di Indonesia.

“Saya sangat sedih melihat demonstrasi terus terjadi. Mereka punya masalah politik dan dalam negeri sendiri di Indonesia. Tapi kami tidak mau Malaysia yang menjadi korban,” Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman Said menegaskannya saat konferensi pers seperti dilansir situs The Star. Ia mengancam tidak akan menoleransinya. “Kami telah sampai pada satu titik yang sudah melewati kesabaran kami.”

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Tun Najib Razak menuding serangkaian demonstrasi di Jakarta dilakukan kelompok bayaran. Dalam pernyataan persnya seusai memimpin pertemuan dengan Dewan Agung United Malays National Organisation (UMNO) di Putra World Trade Center (PWTC), Kuala Lumpur, Jumat (27/8), Najib menuding demonstran itu dibayar pihak tertentu yang ingin mengganggu hubungan Malaysia dan Indonesia. “Mereka ingin kita marah sehingga kalau ditanggapi, hubungan (kita) dengan Indonesia akan hambar. Kita tidak boleh terjebak dalam permainan mereka.”

Pemerintah Malaysia mengancam akan membatasi warganya berkunjung ke Indonesia. Dalam nota protes yang dikirimkan kepada Menlu Marty Natalegawa, Datuk Seri Anifah juga keberatan atas tindakan pengusiran warga Malaysia di Indonesia. “Ini menimbulkan kemarahan rakyat Malaysia. Jika situasinya mendesak, kami akan mengeluarkan peringatkan kepada warga Malaysia untuk tidak mengunjungi Indonesia kecuali jika betul-betul penting.”

Reaksi yang keras ditunjukkan Pemerintah Malaysia terhadap Pemerintah Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Sayangnya, Pemerintah Indonesia tidak bereaksi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya menyurati Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Tun Najib Razak dan mengajak penyelesaian kemelut secara damai.

Sikap Indonesia yang lembek terhadap Malaysia, kendati mereka berkali-kali melecehkan kita, karena Pemerintah Indonesia menerapkan soft diplomacy. Akibatnya, Indonesia terjebak pola yang diterapkan Pemerintah Malaysia yang selalu mendengungkan “saudara serumpun” sebagai dalih penyelesaian berbagai masalah.

ASEAN solidarity hanya semboyan. Kalau lagi baik, mereka selalu mengatakan “saudara serumpun”, tetapi masyarakatnya selalu menyebut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai “Indon” alias “jongos” atau “budak”. Tidak menghormati. Sekali-sekali kita perlu keras, jangan terjebak saudara serumpun.”

Yang terakhir, polisi Malaysia menangkap tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia setelah insiden di perairan Tanjung Barakit, Bintan, Kepulauan Riau, Jumat (13/8) malam. Ironisnya, arogansi Malaysia kian setelah mereka berhasil mengklaim Pulau Sipadan-Ligitan dan Blok Ambalat menjadi incaran berikutnya. Begitu juga dengan klaim-klaim budaya yang membuktikan betapa Malaysia seenaknya bisa menyepelekan serta mempermalukan Indonesia.

Sampai kapan semuanya dibiarkan? Harus ada wibawa yang ditegakkan kembali sebagai negara yang besar dan berdaulat. Dan jangan memberi hati kepada Malaysia, kecuali harga diri telah mati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: