imsitumeang

Beban Hidup yang Kian Berat

In Uncategorized on f 3, 10 at 4:34 am

KEKAYAAN alam di Indonesia yang melimpah ternyata berbanding terbalik dengan kesejahteraan penduduknya. Hanya sebagian kecil yang menikmati kemakmuran jika dibanding dengan sebagian besar penduduk yang miskin. Mereka menanggung beban hidup yang kian berat.

Misalnya, kenaikan harga berbagai komoditas yang menjadi kebutuhan pokok, seperti sayur-sayuran, ikan, dan daging dari 10% ke 20%. Kenaikan harga-harga tersebut, antara lain akibat pasokan yang berkurang dan distribusinya yang terganggu setelah iklim yang berubah-ubah.

Bisa diperkirakan, harga-harga kebutuhan pokok akan menaik ketika kita memasuki bulan puasa yang beberapa pekan lagi. Kenaikan yang jelas-jelas memukul kalangan marginal. Saat bersamaan, mereka mengeluarkan biaya untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya yang memasuki tahun ajaran baru. Tak berhenti di situ. Beban hidup juga dipikul kalangan marginal akibat kenaikan tarif listrik yang berlaku sejak tanggal 1 Juli 2010.

Kalangan usahawan, yang terkena dampak kenaikan tarif listrik, tidak akan bersedia untuk menanggung resiko. Sehingga, seperti biasanya, mereka menaikkan harga jual produk-produknya. Malahan, sektor-sektor tertentu, seperti industri sepatu dan tekstil, bersiap-siap untuk memecat ratusan ribu karyawannya.

Fakta-fakta itu membuktikan, lagi-lagi Pemerintah kerap mengeluarkan kebijakan yang tidak pro-publik, apalagi pro-poor sebagai kalangan marginal. Menaikkan tarif listrik hanya jalan pintas yang mudah dilakukan Pemerintah dan PT PLN (Persero) tanpa upaya yang keras dan serius. Padahal, kenaikan tarif listrik justru memicu harga-harga kebutuhan pokok.

Kemampuan Pemerintah untuk mengurangi beban hidup penduduk yang kian berat, celakanya, terlemahkan oleh perilaku koruptif penyelenggara negara beserta “peliharaannya” yang tidak berkurang signifikan. Termasuk perilaku aparat penegak hukum yang bermain mata dengan koruptor.

Korupsi kian massif. Beriringan dengan kebocoran dana pembangunan yang membesar, yang melebihi 30% seperti yang pernah dikemukakan begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo. Dari berbagai kebocoran dana pembangunan, bila dimisalkan saluran uang ke proyek adalah pipa air, maka kebocoran di tangan godfather berada tepat di mulut pipa air itu.

Jelaslah, ada yang salah dalam proses pembangunan selama ini. Kekayaan alam dikuras habis-habisan oleh lingkaran pebisnis yang itu-itu saja. Investor asing dimudahkan, sementara investor domestik disulitkan.

Jaringan perusahaan multinasional yang kontrak karyanya merugikan bagian pendapatan negara justru dibiarkan. Mulai dari minyak, gas, batubara, nikel, emas, tembaga. Justru dikabarkan, PT Freeport Indonesia diam-diam menambang uranium yang menjadi bahan pengayaan nuklir. Kita meyakini, beberapa perusahaan multinasional lain melaporkan kegiatan tidak seluruhnya.

Demikianlah. Bertahun-tahun Pemerintah meyakini trickledown effect (dampak penetesan ke bawah) tidak menjadi kenyataan. Pertumbuhan tidak otomatis melahirkan pemerataan. Teori pertumbuhan juga ditopang oleh kepercayaan bahwa kekuatan pasar bebas (free market) melengkapi trickle-down effect dan menciptakan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari perkotaan ke pedesaan.

Sewaktu penyampaian visi misi dan program saat debat antarcalon presiden di Grand Studio Metro TV, Kedoya, Jakarta, Kamis (25/06/09) malam, Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan pengentasan kemiskinan dan pengangguran melalui peningkatan perekonomian dan intervensi Pemerintah terhadap program-program pengentasan kemiskinan dan pengangguran seperti merevitalisasi ekonomi pedesaan, membangun infrastruktur, menggairahkan sektor riil, dan menggalakkan investasi.

Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5% tahun 2010 diperkirakan membuka 1,875 juta lapangan pekerjaan yang baru. Catatannya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi tercipta 375.000 lapangan pekerjaan yang baru. Ternyata, Pemerintah gagal membuka lapangan pekerjaan dan pengembangan sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja yang terbesar. Makanya, terjadi pelambatan dalam menurunkan kemiskinan. Hanya menurun sekitar 1,5 juta orang ketimbang tahun lalu.

Bila beban hidup kian berat dari waktu ke waktu sementara perilaku koruptif penyelenggara negara tidak berkurang signifikan, amat tidak pantas Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim sukses mengelola bangsa dan negara ini. Kita memiliki presiden, tapi dia bukan pemimpin. Mana tahan!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: