imsitumeang

Ledakan Tabung Gas yang Tak Berakhir

In Uncategorized on f 28, 10 at 10:03 am

LEDAKAN tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram masih menu media massa kita saban hari. Mirip bom yang diledakkan jaringan teroris, ledakannya sambung-menyambung. Korban pun berjatuhan, entah yang meninggal dunia atau luka-luka bakar.

Tidak hanya nyawa yang melayang, harta juga terbakar. Yang tersisa hanya isak tangis dan derita rakyat. Sungguh sangat memprihatinkan dan memilukan. Mengapa?

Karena, yang menjadi korban ledakan gas adalah rakyat kelas bawah. Mereka adalah sasaran program konversi dari minyak tanah ke gas sejak tahun 2007. Selama tiga tahun terakhir, didistribusikan sekitar 45 juta tabung gas di tengah masyarakat sebagai paket perdana (tabung, kompor, dan aksesori lainnya). Di antaranya, 9 juta tabung gas tidak memenuhi standar.

Menanggulangi insiden demi insiden itu, Pemerintah mengerahkan kementerian dan lembaga yang terkait untuk bersinergi dalam sebuah tim guna menyelesaikan dan mencegahnya semakin meluas. Kementerian dan lembaga yang dikoordinir Kementerian Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat sebagai koordinator nasional itu terdiri atas Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral yang menyediakan dan mendistribusikan elpiji serta meneliti dan mengembangkan teknologi yang kompak dan aman dalam pemanfaatan elpiji seagai bahan bakar rumah tangga; Kementerian Perindustrian yang mengawasi produk pendukung program seperti tabung, kompor, selang, katup, dan regulator yang bersama PT Pertamina (Persero) mengontrol kualitasnya, terutama perangkat paket perdana.

Kemudian, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mengawai produk tabung elpiji (bejana tekan); Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang menyosialisasikan penggunaan elpiji; Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang mengawasi perilaku pidana atau kriminal dalam pemanfaatan elpiji; Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang merumuskan dan menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI); pemerintah daerah provinsi, kabupaten, kota yang menyosialisasikan penggunaan elpiji di daerah-daerah; dan PT Pertaminan (Persero) yang bersama Kementerian Perindustrian mengontrol kualitas, terutama perangkat paket perdana saat pengadaan.

Meski mengerahkan segerbong instansi, belum ada tanda-tanda ledakan tabung gas akan berakhir. Padahal, insiden demi insiden dibicarakan, baik di rapat kabinet yang dipimpin Presiden maupun di rapat menteri-menteri terkait. Tetapi, masalahnya tak jua tuntas. Yang ditunggu rakyat adalah keamanan dan kenyamanan menggunakan elpiji tapi justru tidak bisa dijamin Pemerintah.

Rapat tetap saja digelar, tetapi kesimpulannya hanya di atas meja. Rakyat semakin gelisah dan bertanya, “Hari ini, giliran siapa dijemput maut?” Sungguh mengkhawatirkan!

Kita berkesimpulan, Pemerintah terlalu lamban dan bodoh merespon masalah wong alit alias kaum papa, hanya gesit jika menyangkut masalah wong elite alias kaum kaya. Nyawa rakyat kecil seolah-olah amat murah. Puluhan orang meninggal dunia, puluhan lainnya luka-luka bakar dan mengerang di rumah-rumah sakit.

Masih kurangkah semua itu? Haruskah mereka meniru ibu Rido Januar (usia 4 tahun), Susi Hariyani, yang mengadu ke Istana Negara dari kampungnya di Bojonegoro, agar Presiden (Pemerintah) memerhatikan (mengobati) anaknya? Luka bakar membekasi seluruh wajah, tangan, dan kaki rido setelah ibunya jetrekin kompor tabung gas, yang meledak saat jetrekan keempat. Kini Rido harus berbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk menjalani operasi plastik?

Bagaimana korban ledakan tabung gas lainnya? Pemerintah membutuhkan berapa korban lagi untuk teryakini agar segera bertindak? Nasib rakyat kecil yang tragis, karena kegagalan program konversi!

Ternyata, Pemerintah lebih mementingkan penyelamatan dana subsidi minyak tanah ketimbang nyawa rakyatnya. Pemerintah hanya mengejar target pengurangan subsidi hingga Rp 40 triliun akhir tahun 2010 ini. Mengapa Pemerintah pelit untuk menyelamatkan nyawa dan harta rakyat kecil?

Padahal, tidak sulit jika Pemerintah menarik tabung-tabung gas yang tidak ber-SNI, lalu menggantinya. Tidak sampai Rp 1 triliun dana yang dikeluarkan untuk pengadaan tabung gas yang baru. Dana itu bisa dialokasikan dari penghematan subsidi yang hingga bulan Juni mencapai Rp30 triliun.

Kita juga bertanya-tanya mengapa banyak vendor yang terlibat program konversi? Bayangkan saja, ada 74 vendor tabung gas elpiji 3 kg, 32 vendor kompor, 15 vendor selang, 15 vendor katup, dan 13 vendor regulator. Bagaimana mengawasinya sejak diproduksi hingga didistribusikan?

Bangsa kita ini gemar mengatasi masalah dengan membentuk tim antarkementerian dan lembaga. Tim yang hanya rapat tanpa hasil. Belum lagi, Pemerintah mengaku belum menetapkan mekanisme kerja antarkementerian dan lembaga yang bertanggung jawab. Padahal, dari satu ledakan ke ledakan yang lain tidak bisa diselesaikan hanya lewat rapat yang berhari-hari, tapi aksi yang berani oleh pemimpin yang tegas dan cepat bertindak. Jumlah korban bukan hanya angka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: