imsitumeang

Elite-elite Berjiwa Kerdil

In Uncategorized on f 2, 10 at 9:37 am

PANGGUNG perpolitikan kita sangat diramaikan elite yang memburu mahkota kekuasaan di segala jenjang jabatan publik. Bahkan, tanpa malu, mereka tidak lagi mendemosikan atau mendegradasikan dirinya asalkan bisa bertahta di singgasana.

Bayangkan saja, ada elite yang menjadi menteri, eh mau juga turun jabatan menjadi walikota. Ada yang menjadi calon wakil presiden tapi gagal, oke saja menerima pinangan untuk menjadi calon gubernur.

Malahan, ada walikota yang menjabat dua periode alias 10 tahun, tanpa malu mencalonkan diri menjadi wakil walikota untuk periode berikutnya.

Fenomena haus jabatan publik juga terjadi ketika mereka mendaftarkan diri menjadi calon ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi menolak mundur permanen dari jabatan publik yang didudukinya kini.

Semuanya dilakukan dengan berlindung kepada undang-undang.

Bukankah undang-undang tidak melarang mantan walikota mencalonkan diri menjadi wakil walikota, mantan calon wakil presiden menjadi calon gubernur? Undang-undang memang tidak mengatur perihal jiwa kerdil semacam ini.

Kasus yang terbaru ialah Andi Nurpati, komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang kepincut menjadi pengurus pusat Partai Demokrat. Padahal, ia masih di KPU. Anggota KPU adalah seorang wasit, tapi ia ingin juga menjadi pemain.

Undang-undang melarangnya, tetapi setelah dikecam habis-habisan Andi Nurpati pun mengundurkan diri. Tanpa merasa bersalah.

Semuanya membuktikan tiga fakta. Kesatu, cenderung jabatan publik di level nasional maupun lokal diperebutkan elite yang itu-itu saja. Sedikit banyak menandakan kemacetan sirkulasi elite.

Kedua, celakanya, karena bukan hanya kemacetan sirkulasi elite yang terjadi di negeri ini, melainkan juga kekerdilan jiwa. Hanya orang-orang yang berjiwa kerdil yang sengaja tanpa malu mendemosikan atau mendegradasikan dirinya.

Ketiga, juga membuktikan elite yang hidupnya bergantung dan menyusu ke negara. Dengan menjadi pejabat publik, segala kebutuhan hidupnya–dari mobil, rumah, ke ajudan–ditanggung oleh negara.

Ada orang sejak zaman Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, hingga Pak Susilo sebagai presiden, terus-menerus tiada terputus hidupnya bergantung dan menyusu ke negara.

Tetapi, semua tingkah lakunya berbungkus alasan yang amat bijak, yaitu masih ingin mengabdi kepada bangsa dan negara. Padahal, tidak lebih agar ia tetap bisa bertahta di singgasana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: