imsitumeang

Betulkah Fondasi Ekonomi Kokoh?

In Uncategorized on f 29, 10 at 10:19 am

Dilaporkan, menguat fondasi ekonomi Indonesia di sektor fiskal, moneter, dan perbankan. Berbagai indikator dipaparkan.

Indikatornya, antara lain, penurunan jumlah Sertifikat Bank Indonesia yang dikuasai asing, meningkat daya tahan cadangan devisa, dan posisi utang luar negeri terhadap cadangan devisa yang merendah. Indikator perbankan juga oke, yang menggambarkan perbankan memiliki kekuatan menghadapi kejutan pasar finansial.

Semua indikator terkini tersebut dibanding dengan tahun 2008 saat krisis keuangan di Amerika Serikat, dan Indonesia terseret. Kini, krisis keuangan Yunani dan Eropa menimbulkan persepsi yang berbeda. Ada yang menilainya bisa menyeret perekonomian Indonesia. Ada juga yang menyatakan “musuh” masih jauh.

Tetapi, semua indikator yang baik di sektor finansial itu belum memperkuat perekonomian. Bangunan perekonomian tidak hanya berdiri di atas fondasi moneter, fiskal, dan perbankan. Ada fondasi lain yang lebih berpengaruh, yakni sektor riil. Oleh karena itu, untuk memperkokoh bangunan perekonomian maka fondasi lain, yakni sektor riil, harus dipacu lagi. Tanpa keseimbangan itu, perekonomian tetap pincang.

Salah satu hakikat pembangunan ekonomi adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Di sinilah titik krusial masalah nasional. Ketimpangan antarsektor, antarwilayah, dan antargolongan ternyata tetap saja melebar. Semakin melebar kesenjangan, semakin membesar potensi ancaman instabilitas sosial. Indonesia pun kian menjauh dari sila kelima Pancasila yang mendasari pembentukannya, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Diakui, instrumen Pemerintah untuk membiayai pembangunan berupa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang meningkat. Tahun 2004 hanya sekitar Rp 400 triliun, tahun ini sekitar Rp 1.000 triliun. Produk domestik bruto sebagai ukuran perekonomian, juga pendapatan per kapita, meningkat walaupun jumlah utang juga membengkak.

Meskipun begitu, kemiskinan dan pengangguran tetap membesar. Alokasi dalam APBN lebih banyak dimanfaatkan untuk anggaran rutin, membayar utang, dan subsidi, sehingga tidak berhasil menstimulus pembangunan ekonomi yang kuat untuk menciptakan pekerjaan.

Pekerja di sektor informal, seperti pedagang kaki lima, yang berisiko mengalami kebangkrutan, ternyata terus meningkat akibat persaingan yang keras untuk memperoleh pembiayaan, bahkan sekadar membuka usaha sekalipun. Trotoar yang diramaikan pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan tukang ojek adalah bukti “kepalsuan” sebagian indikator ekonomi itu. Lalu, betulkah fondasi ekonomi kita bertambah kokoh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: