imsitumeang

Afrika Selatan Bisa, Kapan Kita?

In Uncategorized on f 29, 10 at 9:27 am

Pekan-pekan ini, kita menonton pertandingan sepakbola di Piala Dunia 2010. Yang terlahir dari hati dan pikiran hanya geregetan. Mengapa negara-negara di Afrika, seperti Afrika Selatan, Pantai Gading, Kamerun, Ghana, dan Aljazair bisa menjadi peserta? Mengapa negara-negara Asia, seperti Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang juga bisa bertampil di Piala Dunia? Indonesia kok tidak? Kita lantas bertanya-tanya.

Kita mengagumi tim-tim sepakbola negara-negara itu yang sebagian berhasil ke babak knock out atau 16 besar setelah melewati babak kualifikasi. Kita geregetan menyaksikan pesta akbar sepakbola kali ini. Kita mengagumi betapa hebat Korea Utara, meski akhirnya kalah. Kita mengagumi Afrika Selatan yang mengalahkan Perancis, meski tidak berhasil ke 16 besar. Kita juga mengagumi Jepang yang menundukkan Denmark. Masih banyak yang mengagumkan atau bisa membuat kita terkagum-kagum. Takjub!

Afrika Selatan, misalnya, tidak hanya menjadi peserta Piala Dunia kali ini, tetapi juga menjadi negara pertama di jazirah Afrika yang menjadi tuan rumah. Luar biasa! Kita masih mengingat, betapa 16 tahun yang lalu mereka menyelenggarakan pemilu multirasial setelah melewati era rezim apartheid yang dimenangi Kongres Nasional Afrika pimpinan Nelson Mandela. Sistem segregasi rasial itu dilegalkan pemerintah Partai Nasional sejak tahun 1948. Sistem politik itu yang menjamin pembatasan hak-hak penduduk nonkulit putih yang merupakan kelompok mayoritas dan pemerintahan minoritas kulit putih memperoleh hak-hak istimewa.

Tapi, sejarah yang buram itu telah berlalu. Afrika Selatan terlahir sebagai negara dan bangsa yang baru, yang mau memaafkan masa lalu kendati tetap mengingatnya (‘forget but not forgive’ atau ‘forgotten not forgiven’). Dan, ketika terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia kali ini, dunia mengakui kemampuan Afrika Selatan untuk keluar dari penjara masa lalu.

Piala Dunia, memang, sebuah momen yang istimewa. Negara kaya dan negara miskin bertemu, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Mereka bermain sesuai dengan aturan. Tidak ada kasta. Tidak ada istilah negara maju dan negara berkembang, negara demokrasi dan otoriter, kapitalis atau komunis. Para pemain yang menentukan irama permainan, bukan pelatih. Selama 90 menit, semangat, keterampilan, strategi, dan kerjasama yang menentukan kemenangan atau kekalahan.

Diakui, banyak persoalan yang dihadapi Afrika Selatan sebagai tuan rumah. Masalah keamanan, yang antara lain sebagai penyebab mengapa penonton dari luar negeri tidak membludak ke Afrika Selatan. Juga menjadi pertanyaan apakah Piala Dunia akan membantu pertumbuhan perekonomian mereka seperti yang dijanjikan Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dan pemimpin di negara itu. Masih menjadi pertanyaan yang membutuhkan pembuktikan.

Mereka menyadari banyak kekurangan. Tapi, mereka meyakini perhelatan itu sebagai awal kebangkitan Afrika Selatan, khususnya, dan Afrika, umumnya, di segala bidang, termasuk sepakbola didukung pemerintah dan rakyatnya. Bagaimana kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: