imsitumeang

Kita yang Kian Mati Rasa

In Uncategorized on f 24, 10 at 5:49 am

BEBERAPA persoalan yang gagal dituntaskan telah menggiring bangsa kita kian tenggelam dalam dimensi yang kompleks. Kasus-kasus yang belakangan ini seperti kasus Bank Century, kasus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, kasus Susno Duadji, dan kasus-kasus lain yang sebelumnya menjadi indikasi bahwa kaum elite lebih banyak mengalihkan isu dari persoalan yang satu ke persoalan yang lain ketimbang menuntaskannya.

Pada level tertentu, justru pengalihan itu melemahkan sendi-sendi bernegara. Satu penyebabnya, karena kaum elite, khususnya pejabat pemerintah dan politisi, mengalami mati rasa. Pikiran, ucapan, dan tindakan mereka inkonsisten. Ada kesenjangan antara pikiran, ucapan, dan tindakan.

Keprihatinan yang kerap diungkap mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya, di berbagai kesempatan pertemuan. Senyatanya, keprihatinan itu bukan mengada-ada. Jika mengamati kehidupan sehari-hari, kita tidak lagi menganggap tingkah laku inkonsisten sebagai anomali, tetapi kelaziman.

Prinsip-prinsip mengenai keluhuran berbudi, bersetia, jujur, dan idealisme dikalahkan oleh ketidakpekaan, ketidakpedulian, dan pragmatisme setiap menyelesaikan persoalan. Semangat kebangsaan dan kenegaraan direduksi dan dikerdilkan demi membela kepentingan individu, kelompok, dan golongan.

Kaum elite yang semestinya memberi teladan tentang kebudian, kepekertian, kemanusiaan, dan ketulusan lebih banyak mempertontonkan kemunafikan. Yang berlaku adalah barter dan transaksi setiap menyelesaikan persoalan. Kita menyaksikan interaksi yang “untung-rugi” dalam bentuknya yang rakus.

Sesungguhnya, kecenderungan itu gejala yang mengkhawatirkan. Karena tidak hanya merasuki kaum elite, juga merambat ke hampir semua elemen masyarakat. Karenanya, diperlukan upaya yang besar dan berani untuk menghentikan kemerosotan moral dan etika yang dialami bangsa ini. Jika dibiarkan, tidak ada yang bisa menjamin Indonesia akan bertahan atau eksis.

Kuncinya adalah keteladanan pemimpin atau atasan yang dicontoh yang terpimpin atau bawahan. Keteladanan untuk berbudi, bersetia, jujur, dan idealisme yang bertumpu moral dan etika, yang memihak kepada perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Jika semangat seperti itu sirna dari dalam diri pemimpin atau atasan kita saat ini, maka tantangan bagi seluruh komponen masyarakat untuk melahirkan kembali pemimpin-pemimpin atau atasan-atasan yang lebih muda, lebih berani, lebih amanah.

Karenanya, diperlukan dukungan untuk melahirkan kekuatan yang baru dari barisan orang yang memiliki nurani, intelek, dan merakyat. Solusi yang mujarab untuk kita yang kian mati rasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: