imsitumeang

Skandal Bank Century yang Terlunta-lunta

In Uncategorized on f 23, 10 at 2:55 am

SKANDAL Bank Century yang sempat merampas perhatian khalayak selama berbulan-bulan, sekarang tengah tenggelam. Tenggelam karena kasus penggelontoran uang negara Rp 6,7 triliun kepada sebuah bank yang sakit dan salah urus, Bank Century (sekarang bernama Bank Mutiara), itu seperti layang-layang yang terputus. Terlunta-lunta tak menentu.

Padahal, skandal itu mengguncang kredibilitas Pemerintah karena menyangkut aspek good governance yang krusial, yaitu kejujuran. Sungguh krusialnya sehingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggunakan haknya yang tinggi, yaitu hak angket. Hak Dewan yang tinggi derajat otoritasnya ketimbang hak-hak lainnya.

Rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century DPR yang memiliki derajat otoritatif yang tinggi itulah yang sekarang tengah terlunta-lunta. Tidak terbukti bahwa rekomendasi itu memiliki daya paksa untuk dilaksanakan.

Terhadap rekomendasi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap mendua. Secara verbal menolak, tetapi secara teknis Yudhoyono meneruskannya kepada penegak hukum jajarannya, Kepolisian dan Kejaksaan. Tetapi, berbulan-bulan berlalu belum ada satu butir pun rekomendasi Pansus DPR yang ditindaklanjuti.

Sejalan dengan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga sibuk bolak-balik memanggil para pejabat Bank Indonesia (BI). Tetapi, selalu dinyatakan bahwa pemanggilan mereka tidak tersangkut sama sekali dengan rekomendasi.

Kepolisian dan Kejaksaan belum bertindak apa-apa. Unsur-unsur pidana yang terindikasi selama rapat-rapat pemeriksaan Pansus DPR yang direkomendasikan, seperti pelanggaran terhadap undang-undang perbankan dan pencucian uang, didiamkan saja.

Malah, skandal Bank Century ditenggelamkan kasus mafia perpajakan Rp 28 miliar yang diperankan hanya seorang pegawai rencahan di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak bernama Gayus Halomoan Tambunan. Sebelum kasus Gayus, Kepolisian berhasil menunjukkan prestasinya setelah membongkar jaringan terorisme yang berbasis di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang berujung pada penembakan mati si gembong: Dulmatin.

Kita mulai pesimistis karena rekomendasi yang terlunta-lunta, bahkan skandalnya sekarang tengah tenggelam. Sepertinya, tidak ada mekanisme ketatanegaraan yang mewadahi pengajuan hak angket Bank Century agar tertuntaskan. Para inisiator hak angket Bank Century pun bersafari lagi ke tokoh-tokoh untuk beroleh dukungan agar naik kelas ke hak berikutnya, yaitu hak menyatakan pendapat.

Bisa saja Yudhoyono dan blok pendukungnya berteriak bahwa rekomendasi itu salah, sebaliknya yang bukan blok pendukung juga berteriak itu benar. Persoalan kebenaran atau kesalahan rekomendasi itu harus dijawab dengan mekanisme ketatanegaraan, yaitu proses hukum yang berkeadilan dan terbuka. Kalau kita memang konsisten berkoar Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) yang menghormati sebagai supremasi. Tidak bisa skandal itu dibiarkan seperti sekarang.

Adalah berbahaya bagi masa depan demokrasi kita bila muara langkah-langkah penegak hukum tidak diketahui. Atau, dengan perkataan lain, berbahaya bagi masa depan demokrasi kita ketika lembaga-lembaga negara semakin tidak mengetahui batas dan akhir fungsi, tugas, dan wewenangnya masing-masing.

Dan, yang lebih berbahaya lagi bagi masa depan demokrasi kita jika penguasa memanfaatkan semua fungsi, tugas, dan wewenangnya untuk mengelola skandal Bank Century menuruti kehendaknya. Satu krisis diciptakan untuk menenggelamkan krisis lainnya.

Berarti, negara digunakan untuk memelihara dan mempertahankan kekuasaannya semata-mata. Sangat berbahaya kalau penguasa di Republik Indonesia memobilisasi rakyatnya bukan membangun negara hukum tapi negara kekuasaan (machtstaat) belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: