imsitumeang

Menuju Negara Seolah-olah?

In Uncategorized on f 31, 10 at 4:29 am

KENYATAAN yang sangat mengkhawatir kini menimpa negeri ini, ialah Indonesia menuju negara seolah-olah. Seolah-olah dalam banyak aspek, dan celakanya menyangkut aspek berbangsa dan bernegara yang strategis. Semua yang seolah-olah itu lama kelamaan dianggap sebagai kenyataan, bahkan kebenaran.

Sebutlah, misalnya, urusan kita berperang melawan mafia hukum. Pemerintah cukup membentuk sebuah satuan tugas (satgas) yang sekali inspeksi ke ruang sel Ayin, mafia pun tumpas. Tepatnya, seolah-olah tumpas. Contoh lainnya, kinerja 100 hari pemerintahan. Dari sisi pemerintah, mereka bersuara merdu bahwa target tercapai, bahkan ada yang mengklaim 100%. Tapi dari sisi masyarakat, mereka bersuara sumbang bahwa target hanya seolah-olah tercapai. Puncaknya, berkembangnya kelakuan elite yang seolah-olah bertanggung jawab, padahal ramai-ramai cuci tangan.

Lihatlah pengucuran dana talangan Rp 6,7 triliun kepada Bank Century. Saat pengambilan keputusan bailout, pejabat-pejabat Bank Indonesia (BI) ramai-ramai mengikuti rapat. Komisi Keuangan di DPR pun mendukung keputusan itu. Belakangan, giliran kasus itu dimasalahkan oleh Panitia Khusus (Pansus) Angket Bank Century DPR, semua pemimpin ribut. Ironisnya, mereka ramai-ramai mencuci tangan.

Begitu pula menyangkut berbagai kebijakan seperti pembelian pesawat kepresidenan, pengadaan mobil dinas pejabat negara, dan pembangunan pagar Istana Negara. Ketika kebijakan itu dipersoalkan, para pengambil keputusan satu per satu lempar batu sembunyi tangan. Siapakah yang bertanggung jawab? Hanya seolah-olah ada.

Kenapa seolah-olah? Sebabnya, tak seorang pun menampakkan batang hidungnya ketika kebijakan itu disoalkan. Setelah publik melupakan kasus itu, mereka pun bermunculan satu per satu, dengan gagah memberi penjelasan. Celakanya, penjelasan itu disertai keseleo lidah, hingga tiga kali menyebutkan angka yang berbeda untuk harga mobil dinas.

Yang lenyap di negeri ini ialah watak ksatria, kualitas yang berani bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan. Berjiwa besar. Mereka membongkar topengnya sendiri, membongkar dunia yang seolah-olah. Semestinya, seperti itu kualitas elite kita, yang disebut pemimpin itu. Tanpa pemimpin berkualitas itu, negara ini hanya menuju negara seolah-olah. Negara beranomali, yaitu negara yang tetap ada sekalipun pemimpinnya hanya seolah-olah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: