imsitumeang

Hidup di Negeri Tanpa Optimisme

In Uncategorized on f 31, 10 at 4:51 am

SEJATINYA, manusia harus selalu optimis. Optimisme menjadi alasan manusia menjalani hidup yang bermakna, bergairah, dan berarti. Makanya, manusia harus menjadikan sikap optimis sebagai kebiasaan. Kita harus selalu optimis menyongsong masa depan.

Sebuah kritikan yang bernada kekhawatiran adalah Indonesia kini ibarat negara yang kehilangan optimisme. Tepatnya, kita di negeri tanpa optimisme. Indikatornya, dominasi berita buruk di media massa yang tersiar meluas. Sulit berita bagus yang menjanjikan optimisme.

Tidak semata-mata karena pers yang terbelenggu bad news is good news. Tetapi bad news tidak menyurut sebagai fakta. Good news tidak ditenggelamkan oleh bad news, tetapi sedikit sekali good news sebagai fakta.

Masih adakah kesempatan bagi kita untuk optimistis? Jangan-jangan sebagian kita tidak lagi memiliki optimisme, terlebih setelah menyaksikan lakon di panggung sosial dan politik akhir-akhir ini.

Tengoklah kasus mafia hukum dan korupsi, betapa aparat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman ditambah pengacara yang seharusnya menegakkan hukum justru menerabas hukum. Polisi, jaksa, hakim, dan pengacara menjadi aktor sekaligus sutradara drama mafia hukum dan korupsi yang sistemik.

Jika istilah sistemik diperdebatkan untuk kasus bailout Bank Century, sifat sistemik untuk mafia hukum dan korupsi yang melibatkan elite penegak hukum sudah eksak, tanpa perdebatan. Praktik mafia hukum dan korupsi yang sistemik inilah yang menggeser optimisme kita menuju pesimisme. Berbagai survei membuktikan penurunan tingkat kepercayaan publik kepada penegak hukum.

Peristiwa mutakhir yang juga melunturkan optimisme adalah huru-hara Tanjung Priok. Kita menjadi pesimistis karena ketidakmampuan pemimpin bernegosiasi, berkomunikasi, dan berempati dengan rakyatnya, atau mereka tidak memiliki sensitivitas dan sentimen keagamaan massa. Sungguh ironi ketika pemimpin tak berani berkomunikasi dengan rakyatnya. Mereka piawai bernegosiasi hanya ketika korban tewas maupun luka telanjur berjatuhan.

Bagian yang menyisakan sejumput optimisme barangkali hanya bidang ekonomi. Survei Gallup mencatat jika tahun 2006 hanya 24% rakyat Indonesia yang mempercayai kondisi ekonomi dalam keadaan baik, tahun 2007 menjadi 36%. Nilai rupiah juga menguat di kisaran 9.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Akan tetapi, optimisme terhadap kondisi ekonomi bisa berbalik menjadi pesimisme jika hukum tidak ditegakkan dan huru-hara yang membara sewaktu-waktu. Bukankah kemajuan ekonomi mensyaratkan penegakan hukum dan ketertiban sosial-politik?

Oleh karena itu, pemimpin tertinggi negeri ini harus mengembalikan optimisme kita melalui penegakan hukum dan ketertiban sosial-politik yang sungguh-sungguh, cepat, dan komprehensif. Jika tidak, kita bisa kehilangan kesabaran. Boleh jadi sebagian kita merebut optimisme melalui caranya. Revolusi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: