imsitumeang

Kekecewaan Kita Sebagai Pembayar Pajak

In Uncategorized on f 31, 10 at 6:15 am

KASUS dugaan makelar yang melibatkan aparat pajak Gayus Tambunan telah mencetuskan keprihatinan sekaligus kemarahan. Keprihatinan, karena ternyata kasus korupsi dan kolusi tidak bisa terlepas dari birokrat kita. Kemarahan, karena kasus itu membuat publik, yang belakangan meningkat kepercayaannya kepada aparat pajak, merasa ditipu dan dikhianati.

Gerakan boikot membayar pajak yang diserukan sebagian masyarakat melalui jejaring pertemanan Facebook adalah ungkapan keprihatinan sekaligus kemarahan. Jumlah pendukungnya yang setiap hari bertambah menjadi petunjuk betapa kekecewaan terus berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Kasus Gayus, seorang pegawai negeri golongan IIIA, yang menyimpan dana Rp 25 miliar di rekeningnya, membuktikan betapa reformasi birokrasi yang berhasil memperbaiki remunerasi administratif tetapi bergagal untuk merombak mental aparat yang koruptif.

Reformasi yang dilakukan dengan cara-cara modern tidak mampu membersihkan dorongan mencuri, menilap, dan menarik keuntungan pribadi dengan cara-cara yang kotor. Reformasi pajak yang sering didengungkan hanya bagus di luar, tetapi keropos di dalam.

Karena itu, kekecewaan pembayar pajak melalui gerakan boikot membayar pajak di Facebook harus dipahami. Yang terjadi adalah distrust. Di sana bermunculan keprihatinan dan kemarahan. Di sana bermunculan perasaan ditipu dan dikhianati.

Ironisnya, kasus itu terjadi tatkala kesadaran mereka sebagai wajib pajak tengah meningkat. Wajib pajak yang membayar pajak disebut orang bijak, tapi mereka diinjak-injak. Apa kata dunia?

Kasus Gayus diyakini adalah fenomena gunung es. Marilah kita memperhatikan kehidupan pegawai negeri di kantor pajak yang berpenampilan “beda” dengan pegawai negeri di kantor lain. Kesejahteraan mereka bisa beranjak sangat cepat meninggalkan pegawai negeri lainnya. Tak ayal, mereka memiliki rumah bagus, mobil mewah, entah apa lagi.

Pendapatan mereka diperoleh dari hasil patgulipat dengan perusahaan atau perorangan yang mengemplang pajak. Praktik yang telah berlangsung lama dan menjadi perbincangan awam di kalangan pegawai negeri.

Marilah kita juga memperhatikan kantor pajak yang rata-rata lebih mentereng ketimbang kantor lainnya. Perhatikan gedung Direktorat Jenderal Pajak di samping Gedung Bank Mandiri di Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Berarti, ada yang sangat salah, telah dan sedang terjadi, di dalam tubuh birokrat pajak. Akal sehat sulit menerima seorang pegawai negeri golongan IIIA memiliki rekening pribadi yang berisi dana Rp 25 miliar.

Kita membayangkan, bila ia mengaku hanya seorang pemain kelas teri, seperti apa yang disebut sebagai pemain kelas kakap atau, bahkan, kelas paus? Luar biasa!

Karena itu, sebagai pernyataan pendapat dan perasaan, telah ditipu dan dikhianati, kemarahan publik yang tercetus lewat gerakan boikot membayar pajak adalah wajar. Wajar dalam batasan peringatan bahwa pelanggaran oleh oknum pajak terhadap pajak yang dibayar wajib pajak bisa berdampak fatal, yaitu mereka enggan membayar pajak yang dipotong dari gaji yang diperoleh susah payah tetapi seenaknya dikorup melalui sindikat yang melibatkan aparat dan birokrat pajak itu sendiri.

Namun, kita menjaga agar gerakan itu terkendali. Jangan sampai ia menjadi gerakan menolak untuk membayar pajak selama-lamanya. Kalau itu muaranya, ia setali tiga uang dengan tindakan yang melanggar hukum. Yang harus dilakukan adalah menjadikan gerakan itu sebagai pengawas dan penekan agar kasus Gayus dan oknum lainnya diusut setuntas-tuntasnya.

Secara internal, Direktorat Jenderal Pajak harus benar-benar membersihkan dirinya dari aparat dan birokrat yang menilep pajak. Kita mendukung aparat hukum, juga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyeret oknum-oknum, termasuk hakim dan polisi, yang terlibat permainan ini. Kalau tidak, apa kata dunia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: