imsitumeang

Krisis Listrik yang Tiada Akhir

In Uncategorized on f 3, 10 at 11:36 am

Persoalannya bukan hanya kemampuan penyediaan suplai di hulu, yakni pembangkit. Jaringan distribusi di hilir untuk mengaliri listrik ke rumah, pabrik, dan tempat-tempat usaha konsumen pun tak mampu mengejar pertumbuhan kebutuhan konsumen.

Sejumlah proyek listrik dari paket 10.000 megawatt belum beroperasi tahun ini. Tidak satu pun dari 25 proyek pembangunan pembangkit listrik di luar Jawa akan beroperasi dimulai tahun 2009.

Penyelesaian proyek-proyek paket 10.000 megawatt terhambat akibat lambatnya proses pembangunan awal. Seharusnya dimulai tahun 2006, tetapi rata-rata efektif tahun 2008. Padahal, membangun sebuah pembangkit sampai menghasilkan energi listrik membutuhkan waktu konstruksi sekitar tiga tahun, bahkan ada yang hingga lima tahun.

Persoalan lain, banyak pembangkit, gardu, dan jaringan yang tua dan beroperasi hampir dalam kapasitas penuh. Sedikit gangguan saja, sarana vital itu langsung rusak dan berhenti mengaliri listrik. Padahal, beban tidak bisa dialihkan begitu saja ke sarana lain yang ada.

Jadi, jelaslah permasalahan kelistrikan nasional kita sesungguhnya. Pembangunan pembangkit dan jaringan untuk memenuhi kebutuhan, bahkan menambah cadangan kapasitas pada level yang aman jika terjadi gangguan, tidak bisa ditawar dan ditunda lagi.

Pembangunan kelistrikan sebagai kebutuhan dasar yang mutlak untuk akselerasi pembangunan ekonomi demi penciptaan kesejahteraan rakyat memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Berdasarkan rencana umum kelistrikan nasional tahun 2008-2027, kebutuhan investasi untuk pembangkit, jaringan transmisi dan gardu induk, serta jaringan distribusi diperkirakan US$ 208,7 miliar. Investasi per tahun diperkirakan Rp 100 triliun.

Karena pengelolaan kelistrikan nasional masih monopolistik oleh perusahaan negara (PLN), logikanya negara, pemerintah, juga harus sekuat tenaga, bahkan habis-habisan (all-out). PLN harus dijamin negara dalam mencari pendanaan proyek-proyeknya.

Persoalan, bahkan berlaku umum bagi kita sebagai bangsa, ialah lemahnya manajemen. Sering kali kita terlambat mengantisipasi potensi problem yang bakal dihadapi. Padahal, sebenarnya bisa dikalkulasi dengan cermat. Baru gelagapan jika potensi itu menjadi realitas.

Contoh nyata, energi murah berupa gas dan batu bara untuk pembangkitan listrik justru banyak diutamakan bagi kepentingan ekspor. Padahal, seharusnya kepentingan domestik (seperti listrik) mutlak didahulukan.

Pembangunan kelistrikan nasional membutuhkan terobosan kebijakan pemerintah yang all-out. Jika tidak, krisis listrik sungguh akan menjadi cerita dan derita tiada akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: