imsitumeang

Menagih Janji 100 Hari

In Uncategorized on f 31, 10 at 4:57 am

Usia 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono menggenap tanggal 28 Januari 2010. Tradisi negara-negara yang mapan berdemokrasi, seratus hari merupakan fase kritis pertama sebuah pemerintahan.

Hitungan waktu untuk meraport sebuah pemerintahan, apakah di track yang benar atau salah. Juga, apakah grand design direalisasikan atau malah belum dibuat.

Fakta membuktikan rasionalitas bahwa 100 hari adalah usia yang teramat pendek untuk menghasilkan kinerja pemerintahan. Tetapi, usia tersebut yang justru didengungkan rezim dan akhir-akhir ini juga didengungkan rakyat secara gegap gempita. Usia 100 hari ditargetkan untuk melahirkan prestasi yang signifikan.

Dan, itulah sebabnya masyarakat kemudian menagihnya.

Yang tidak kalah gencarnya adalah adu ketangkasan argumen mengenai tercapai atau tidak target-target yang dicanangkan dalam 100 hari. Para pejabat bersuara bahwa amat tidak fair menilai kinerja pemerintah hanya dalam kurun 100 hari. Sebuah dalih yang amat logis, apalagi jika kita tidak melongok sejarah asal-muasal target kerja 100 hari itu.

Namun, dalih itu menjadi silat lidah jika kita menengok ihwal hiruk pikuk target waktu kinerja di awal pelantikan presiden dan wakil presiden. Adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang menjanjikan target 100 hari dengan keyakinan yang teguh.

Semua kementerian memiliki target kinerja. Tapi, apa boleh buat, janji sudah dicanangkan dengan ambisius. Maka, masyarakat pun menagihnya dengan harapan setinggi langit.

Jangan menggerutu jika kesenjangan antara janji dan harapan sedemikian menganga sehingga menyebabkan defisit kepercayaan. Sebuah defisit yang awalnya dipicu oleh kemerosotan kepercayaan kepada kemampuan pemimpin.

Ketika semua kementerian kemudian mengumumkan semua target 100 hari tercapai 100%, masyarakat hanya meraba-raba dalam sektor dan aspek apa sukses paripurna yang kasatmata. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai komandan kabinet lebih sibuk lagi memasang double cover yang membentenginya ketimbang agresif memacu kinerja.

Sebagai pemimpin incumbent, semestinya ia sudah memiliki master design dan roadmap kinerja pemerintahan. Tapi, mengapa ia lebih sibuk membuat roadmap dan master design lima tahun kedua? Bukankah ia sudah memilikinya di masa pertama pemerintahannya? Jangan-jangan master design dan roadmap yang dibuat selama ini salah arah?

Berderet pertanyaan itu akan terus bermunculan karena faktanya master design dan roadmap tersebut tidak dibuktikan melalui kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Janji bekerja cepat dan tepat, misalnya, tidak konsisten.

Faktanya, birokrasi di seputar presiden kian membengkak. Sebuah contoh bagaimana janji efisiensi dan efektivitas ternyata pahit implementasinya.

Publik membutuhkan fakta yang menyentuh kehidupan mereka. Publik sudah kian cerdas sehingga mudah membedakan apakah pemimpin mereka memberi gula yang manis atau hanya empedu yang pahit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: