imsitumeang

Demonstrasi, Antara Kata dan Laku

In Uncategorized on f 31, 10 at 4:31 am

TEPAT 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, 28 Januari 2010, demonstrasi memecah di beberapa kota besar Indonesia. Ribuan manusia ke jalan-jalan yang bereskalasi dan membesar jumlahnya.

Bereskalasi dan membesar jumlahnya, tetapi praktis dalam kedamaian. Tidak seperti yang sering dikhawatirkan (ditakut-takuti) bahwa setiap demonstrasi akan merusak cita dan citra demokrasi, demonstrasi tersebut ternyata aman-aman saja.

Kita tidak ingin berdusta, kericuhan memang terjadi di beberapa lokasi, tetapi terlalu kecil jumlahnya sehingga disebut kacau.

Singkatnya, dari berbagai aksi unjuk rasa yang menasional itu mencerminkan kedewasaan rakyat merawat demokrasi dan menggunakan haknya.

Polisi pun semakin meyakini perkembangan kedewasaan demonstran, sehingga mereka tidak mengenakan pelindung kepala dan tameng. Cuma bermodal pentungan.

Demikianlah, demonstrasi yang damai menunjukkan kemenangan yang hebat, baik di sisi masyarakat maupun di sisi negara.  

Karenanya, demonstrasi yang meluas itu tidak boleh semata-mata dikerdilkan dengan argumentasi yang menyoal ‘mengerti atau tidak mengerti program 100 hari yang dicanangkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Tidak boleh juga diremehkan seakan-akan hanya hobi orang-orang yang menyukai kegaduhan.

Berdemonstrasi adalah hak. Tetapi, hanya mengagungkan demonstrasi sebagai satu-satunya cara yang efektif dan efisien menegur kekuasaan atau penguasa bukan pikiran dan kelakuan yang memperkuat dimensi kelembagaan dalam berdemokrasi.

Adalah juga kerisauan yang sangat substansial apabila demonstrasi kemudian dijadikan sebagai pilihan untuk mengekspresikan aspirasi kepada kekuasaan atau penguasa.

Harus diakui, memang ada yang menghilang selama 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang kedua. Hilang dalam hitungan waktu sangat pendek setelah bulan madu yang panjang–lima tahun pemerintahan kesatu, hasil pemilu yang langsung dipilih rakyat–dan yang kemudian memenangi kembali pemilu untuk kedua kalinya berbasis legitimasi yang sama kuatnya.

Demonstrasi telah selesai dengan damai. Pesan pun telah disampaikan, yang sangat penting: seruan membangun situasi dan kondisi saling mempercayai yang sempat menghilang.

Bukankah yang menghilang dapat ditemukan kembali? Caranya, semua pihak memendekkan jarak yang masih menjauh antara kata dan laku.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: