imsitumeang

Setelah Pemilu Usai

In Uncategorized on f 22, 09 at 6:46 am

Alhamdulillah, pencontrengan pemilu presiden/wakil presiden tanggal 8 Juli 2009 telah usai. Kendati hasilnya diprotes, tak ada kegaduhan yang berarti. Suatu prestasi luar biasa. Kita telah melompat jauh berdemokrasi. Padahal, rezim Soeharto diruntuhkan 10 tahun lalu. Belum begitu lampau. Namun, kita merasakan masa kegelapan terkubur dalam. Seolah tradisi berdemokrasi melekat lama. Tentunya, plus-minus kita patut mensyukurinya.

Kita menyaksikan pemilu di Iran menelan korban jiwa dan melahirkan aksi massa. Padahal, mereka lebih dulu memasuki fase demokrasi, yakni tahun 1980. Memasuki peradaban demokrasi yang sejati bukan perkara mudah. Hingga kini, Malaysia masih menyisakan regulasi yang represif. Di Thailand bahkan berdarah-darah, hingga kini. Demokratisasi di Korea Selatan menelan waktu lebih lama dari kita. Sedangkan, Indonesia bisa melaluinya dengan cepat.

Rakyat makin menyadari bahwa suaranya sangat penting bagi nasib bangsanya. Terbentuk keterkaitan antara pemilu dengan ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, politik, bahkan agama. Acara debat antarcalon presiden/wakil presiden diikuti. Visi, misi, intonasi, bahasa tubuh, dan gaya bicara tiap kontestan dicerna. Aspek yang mengena di hati rakyat sangat bergantung latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, dan psikografi yang melingkupi mereka.

Kita juga menyaksikan bahwa pelaksanaan pemilu yang dulu menyeramkan dan menimbulkan waswas, kini menjadi tontonan. Bahkan, menjadi bagian paket wisata turis mancanegara. Debat menjadi acara yang digemari publik, yang sebenarnya kelanjutan talk show politik yang berating relatif bagus. Quick count juga menjadi tontonan. Padahal, hanya SBY yang memercayai polling dan quick count Pemilu 2004. Kini, semua kontestan menggunakan jasa polling—meskipun diiringi kontroversi, tapi sebetulnya move belaka.

Dalam konteks ini, siapa yang menang dan siapa yang kalah, tak penting lagi. Yang menang tak boleh jumawa dan yang kalah harus legawa adalah keharusan belaka, bagian proses. Karena, yang utama bagaimana memapankan tradisi berdemokrasi beserta nilai-nilainya. Elite harus memahami politik bukan semata kekuasaan, tapi amanah yang menuntut kebijakan.

Yang diberi ucapan selamat bukan kontestan yang menang saja, tapi justru kita semua. Kita sang pemenangnya. Kandidat yang menang harus bersiap memikul beban amanah. Mewujudkan cita-cita konstitusi: kemakmuran dan keadilan yang mencerdaskan bagi kejayaan Indonesia. Sebuah amanah konstitusi yang harus dipedomani.

Dengan demikian, kita memaknai pemilu bukan lagi menang-kalah, apalagi perkara teknis lainnya. Kita melampaui persoalan seperti itu. Merawat demokrasi bukan sekadar aspek prosedural dan kelembagaan, tapi menukik substansinya menuju cita-cita bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: