imsitumeang

Pelajaran Penting Pilpres 2009

In Uncategorized on f 9, 09 at 7:50 am

Pemilihan Umum Presiden/Wakil Presiden kali ini memberikan pembelajaran berharga kepada kita. Apa saja?

Kesatu, memilih adalah kemerdekaan. Perjuangan sesungguhnya rakyat Indonesia adalah meletakkan haknya ke tangan seseorang. Tidak mudah. Dibutuh perjuangan dalam dirinya karena setiap resiko yang mengikuti atau konsekuensi adalah tanggung jawabnya juga. Maka, 5 tahun lagi, kita harus memikirkan baik-baik kepada siapa meletakkan hak.

Kedua, menumbuhkan semangat berkompetisi. JK telah menunjukkan permainan cantik, menantang, agresif, menggeliat, dan tidak segan-segan menyerang, namun tetap bersahabat dan menghargai kompetitornya. SBY pun telah menunjukkan kesigapannya menerima semua serangan, tetap menjaga emosinya, tetap tegak menghadapi lawan-lawannya. Dan, Megawati telah menunjukkan keberanian berdebat dan menepis anggapan “jago kandang”.

Terlepas dari kekurangan mereka bertiga, semangat berkompetisi harus ditumbuhkan di benak kita, terutama rakyat kecil yang meletakkan hak ke tangan pasangan calon selama 5 tahun yang diputus 5 menit di kotak berukuran kurang 5 meter persegi.

Ketiga, faktor incumbent membuat SBY lebih mudah menata pencitraan. SBY memanfaatkan otoritasnya sehingga mengungguli pencitraan dibanding JK dan Mega. Kefiguran pesaing-pesaingnya masih kurang. Kekalahan JK menunjukkan klaim keberhasilan yang ditunjukkannya selama ini kepada masyarakat tidak ditanggapi atau diapresiasi, sekalipun dia melakukannya.

Keempat, politik aliran semakin menyusut, cair, atau malah sudah tidak ada. Penyebabnya bukan kepragmatisan tetapi tokoh-tokoh agama yang tidak lagi memiliki basis hingga ke akar rumput. Harusnya ormas berefleksi sekaligus berbenah. Dan, ini juga membuktikan pemimpin agama tidak mengelola basis massa.

Jadi, preferensi pemilih bukan lagi identitas kultural, tapi tokoh. Dalam konteks pemenang pilpres, figur SBY lebih kuat dibanding tokoh-tokoh agama. Akibat kemerdekaan memilih dan perkembangan demokrasi yang tidak seperti dahulu. Kefiguran SBY yang mengalahkan tokoh-tokoh agama dan pesaing-pesaingnya membuktikan rakyat tidak menyimak dan mendiskursus isu atau kebijakan dan program yang diperjuangkannya, tetapi tokoh.

Kelima, karena tokoh-tokoh agama tidak mengakar maka mereka tidak lagi mampu mendulang suara. Buktinya, dukungan organisasi massa keagamaan kepada JK-Wiranto tidak berhasil meningkatkan suaranya. Rupanya, pencitraan masih yang utama. Terjadi delegitimasi struktural dan terjebak birokatisasi.

Keenam, quick count-exit poll yang kepagian padahal waktu pencontrengan belum berakhir untuk wilayah WIB, WIT, maupun WITA. Jika TV One menampilkan hasil quick count yang dilansir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) maka Metro TV menayangkan hasil exit poll.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku tidak berwenang menangani kasus quick count dan exit poll yang ditayangkan teve. Kasus ini termasuk wilayah abu-abu yang diserahkan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers.

Ketujuh, siapapun yang memenangkan pilpres, tanggung jawab berada di semua pihak. Bukan cuma yang memilih, yang tidak memilih pun bertanggung jawab. Karenanya, yang memilih sang pemenang harus di garda terdepan mengawasi dan mengkritisi SBY-Boediono, sebagai bukti pertanggungjawabannya memilih mereka.

Pemimpin adalah teladan rakyatnya. Bila pemimpin melakukan perbuatan baik selama pemerintahannya maka rakyat mengikuti dan menuruti kepemimpinannya. Kekuasaan, jabatan, dan posisi keduniaan lainnya adalah cara seorang pemimpin mengabdi kepada Allah SWT dengan melayani rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan. Pemimpin jangan pernah menggadaikan masa depan anak-anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: