imsitumeang

Archive for Juli 9th, 2009|Daily archive page

Jadikan Pilpres Jujur dan Adil

In Uncategorized on f 9, 09 at 9:42 am

Jadikan pemilu presiden/wakil presiden, hari Rabu, tanggal 8 Juli 2009, terlaksana jujur dan adil.

Ajakan itu disampaikan karena menjelang hari-H masih terdengar berbagai keberatan, misalnya daftar pemilih tetap (DPT) dan netralitas Komisi Pemilihan Umum (KPU). Memang, kinerja KPU kurang mantap. Namun, keinginan kita melaksanakan pilpres yang baik adalah satu alternatif.

Alternatif lain, misalnya menunda pilpres, meskipun menimbulkan persoalan rumit dan preseden yang sulit ditebak implikasinya. Adakalanya kita menghadapi pilihan yang serba dilematis.

Dalam situasi dan kondisi demikian, pilihan the lesser evil, kerugian yang lebih kecil, adalah bijak. Makanya, penundaan diusulkan. Bisa jadi analisa tersebut meleset. Bersyukurlah jika begitu. Namun, tidak salah jika kita bersepakat menghindari musibah politik yang lebih ruwet dan rumit.

Kategori masalah DPT-nya kompleks, mulai pemilih terdaftar lebih sekali, pemilih meninggal tapi terdaftar, anggota TNI/Polri terdaftar, pemilih ganda, penduduk tidak dikenal atau sudah pindah, belum memiliki NIK.

Penyelenggaraan pilpres memang memiliki kekurangan di sana-sini. kompetensi dan kualifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sekarang sangat lemah, berbeda dengan KPU zaman Nazaruddin Sjamsuddin. Nazaruddin bersama Ramlan Surbakti, dan Chusnul Mar’iyah menjelaskan persoalan pemilu sangat lengkap kepada wartawan.

Andaikan berbagai kekurangan itu benar-benar mengganggu maka substansi strategisnya adalah keterpengaruhan terhadap penyelenggaraan pilpres. Ramifikasi permasalahannya akan lebih kecil ketimbang jika kita menunda pilpres.

Sikap kritis sekaligus korektif harus diungkap terhadap penyelenggaraan pemilu anggota legislatif (pileg) hari Kamis, tanggal 9 April 2009, lalu yang terselenggara relatif baik dan kini pilpres sebagai kelanjutan demokratisasi di negeri kita. Semuanya turut membesarkan kemauan dan komitmen kita menyelenggarakan pilpres.

Beberapa status yang aku tampilkan di fecebook:

jangan berhenti hanya menjadi “vote”, lanjutkan menjadi “voice”. jangan berhenti hanya menjadi “voter” atau “supporter”, lanjutkan menjadi “active citizen”. dengan cara itu, kita tidak terjebak elektoralisme.

merujuk hasil quick count, ‘selamat menang’ kepada beye boed, tim sukses juga pendukungnya. ‘selamat kalah’ kepada mega-bowo dan jeka-wir beserta tim (tak) sukses juga pendukungnya. bersama kalian pemilu menarik dan meriah. aku mengakui, beye-boed sebagai presiden-wakil presiden terpilih. mari kita siapkan calon pemimpin menuju pemilu 2014.

please… hasil exit poll dan quick count tahan dulu sebelum nyontreng berakhir (metro tv & tv one)

indonesia mencontreng! hari ini 176.367.056 pemilih akan memberi suara. semoga pemilu kali ini tidak mencoreng wajah demokrasi kita.

Quick count Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2009. Silakan dibanding? – LSI (Lembaga Survei Indonesia) – LSI (Lingkaran Survei Indonesia) – LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) – PUSKAPTIS (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) – LSN (Lembaga Survei Nasional) – CIRRUS (CIRRUS Surveyors Group) – Johans Polling – Metro TV

Bersekutulah kalian berdua. Lawan! Cuma dia calon presiden yang tidak memasalahkan karut marut DPT. Dia diuntungkan, kalian berdua dirugikan. Hak konstitusional kami, mengikuti pemilu presiden 2009, dicederai.

Jika ditemukan daftar pemilih tetap (DPT) fiktif alias siluman, Pemilu Presiden/Wakil Presiden harus ditunda! Kecurangan DPT hanya menguntungkan calon presiden/wakil presiden tertentu. Hasil Pemilu 2009 tidak berlegitimasi.

Yth Ketua/Anggota KPU. Bapak/Ibu dijanjikan apa oleh SBY-Boediono? Kenapa kami belum bisa ketahui nama kami termasuk DPT atau tidak. Anda harus jelaskan!

Hari-hari tegang jelang nyoblos. Jika karut-marut DPT tak kunjung selesai hari ini, lebih baik JK-Wiranto dan Mega-Prabowo undurkan diri. Biarkan SBY-Boediono sebagai peserta pemilu satu-satunya!

‘wahai calon-calon lain… kalian sewa jasa harry potter ya? kenapa kami sekeluarga merasa disihir? ngaku sajalah!’ ucapku di depan jamaah zikir, istana cikeas, jumat. beye mengaku disihir lawan-lawannya. saat pengajian dzikir nurussalam di puri cikeas, , bogor, jumat, ia bilang, sekarang banyak yang gunakan ilmu sihir. ‘saat ini musim pemilu, banyak yang gunakan ilmu sihir,’ katanya. ‘ketika kami menuju balai sarbini, sejak keluar dari rumah kami terus berzikir karena mengalami sesuatu yang aneh. namun, akhirnya kami selamat sampai tujuan,’ tuturnya.

fenomena pemilu: intellectual prostitutes dan “intelektual tukang”, jawara dan tim sukses takabur, “the brothers” si oportunist, “menggilir” suku-suku jadi presiden, rekayasa negative campaign, cuci tangan iklan ilegal “satu putaran”, “the real debate”, UI: jeka ungguli beye dan mega di debat, monopoli “polling” SMS saat debat, DPT fiktif alias siluman, ekspose survei pesanan, …

Iklan

Pelajaran Penting Pilpres 2009

In Uncategorized on f 9, 09 at 7:50 am

Pemilihan Umum Presiden/Wakil Presiden kali ini memberikan pembelajaran berharga kepada kita. Apa saja?

Kesatu, memilih adalah kemerdekaan. Perjuangan sesungguhnya rakyat Indonesia adalah meletakkan haknya ke tangan seseorang. Tidak mudah. Dibutuh perjuangan dalam dirinya karena setiap resiko yang mengikuti atau konsekuensi adalah tanggung jawabnya juga. Maka, 5 tahun lagi, kita harus memikirkan baik-baik kepada siapa meletakkan hak.

Kedua, menumbuhkan semangat berkompetisi. JK telah menunjukkan permainan cantik, menantang, agresif, menggeliat, dan tidak segan-segan menyerang, namun tetap bersahabat dan menghargai kompetitornya. SBY pun telah menunjukkan kesigapannya menerima semua serangan, tetap menjaga emosinya, tetap tegak menghadapi lawan-lawannya. Dan, Megawati telah menunjukkan keberanian berdebat dan menepis anggapan “jago kandang”.

Terlepas dari kekurangan mereka bertiga, semangat berkompetisi harus ditumbuhkan di benak kita, terutama rakyat kecil yang meletakkan hak ke tangan pasangan calon selama 5 tahun yang diputus 5 menit di kotak berukuran kurang 5 meter persegi.

Ketiga, faktor incumbent membuat SBY lebih mudah menata pencitraan. SBY memanfaatkan otoritasnya sehingga mengungguli pencitraan dibanding JK dan Mega. Kefiguran pesaing-pesaingnya masih kurang. Kekalahan JK menunjukkan klaim keberhasilan yang ditunjukkannya selama ini kepada masyarakat tidak ditanggapi atau diapresiasi, sekalipun dia melakukannya.

Keempat, politik aliran semakin menyusut, cair, atau malah sudah tidak ada. Penyebabnya bukan kepragmatisan tetapi tokoh-tokoh agama yang tidak lagi memiliki basis hingga ke akar rumput. Harusnya ormas berefleksi sekaligus berbenah. Dan, ini juga membuktikan pemimpin agama tidak mengelola basis massa.

Jadi, preferensi pemilih bukan lagi identitas kultural, tapi tokoh. Dalam konteks pemenang pilpres, figur SBY lebih kuat dibanding tokoh-tokoh agama. Akibat kemerdekaan memilih dan perkembangan demokrasi yang tidak seperti dahulu. Kefiguran SBY yang mengalahkan tokoh-tokoh agama dan pesaing-pesaingnya membuktikan rakyat tidak menyimak dan mendiskursus isu atau kebijakan dan program yang diperjuangkannya, tetapi tokoh.

Kelima, karena tokoh-tokoh agama tidak mengakar maka mereka tidak lagi mampu mendulang suara. Buktinya, dukungan organisasi massa keagamaan kepada JK-Wiranto tidak berhasil meningkatkan suaranya. Rupanya, pencitraan masih yang utama. Terjadi delegitimasi struktural dan terjebak birokatisasi.

Keenam, quick count-exit poll yang kepagian padahal waktu pencontrengan belum berakhir untuk wilayah WIB, WIT, maupun WITA. Jika TV One menampilkan hasil quick count yang dilansir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) maka Metro TV menayangkan hasil exit poll.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku tidak berwenang menangani kasus quick count dan exit poll yang ditayangkan teve. Kasus ini termasuk wilayah abu-abu yang diserahkan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers.

Ketujuh, siapapun yang memenangkan pilpres, tanggung jawab berada di semua pihak. Bukan cuma yang memilih, yang tidak memilih pun bertanggung jawab. Karenanya, yang memilih sang pemenang harus di garda terdepan mengawasi dan mengkritisi SBY-Boediono, sebagai bukti pertanggungjawabannya memilih mereka.

Pemimpin adalah teladan rakyatnya. Bila pemimpin melakukan perbuatan baik selama pemerintahannya maka rakyat mengikuti dan menuruti kepemimpinannya. Kekuasaan, jabatan, dan posisi keduniaan lainnya adalah cara seorang pemimpin mengabdi kepada Allah SWT dengan melayani rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan. Pemimpin jangan pernah menggadaikan masa depan anak-anak bangsa.

Hasil Quick Count, SBY-Boediono Menang

In Uncategorized on f 9, 09 at 7:05 am

Hasil quick count pemilihan umum presiden/wakil presiden (pilpres) tahun 2009 yang dilakukan beberapa lembaga memenangkan pasangan SBY-Boediono. Berdasarkan hasil hitung cepat mereka, pasangan calon nomor 2 ini memenangi pemilu kali ini dalam satu putaran.

LSI (Lembaga Survei Indonesia) mencatat Mega-Prabowo 26,56%, SBY-Boediono 60,85%, JK-Wiranto 12,59%. LSI (Lingkaran Survei Indonesia) mencatat Mega-Prabowo 27,36%, SBY-Boediono 60,15%, JK-Wiranto 12,49%. LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan, Ekonomi, dan Sosial) mencatat Mega-Prabowo 27,40%, SBY-Boediono 60,28%, JK-Wiranto 12,32%.

Selanjutnya, Puskaptis (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) mencatat Mega-Prabowo 28,16%, SBY-Boediono 57,95%, JK-Wiranto 13,89%; CIRUS  mencatat Mega-Prabowo 27,49%, SBY-Boediono 60,20%, JK-Wiranto 12,31%; dan LRI (Lembaga Riset Informasi) mencatat Mega-Prabowo 27,02%, SBY-Boediono 61,11%, dan JK-Wiranto 11,87%.

Secara nasional, quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat SBY-Boediono memperoleh dukungan suara 60,70% sedangkan di 33 provinsi di atas 20%. Tertinggi di DKI Jakarta (70,14%) dan terkecil di Sulawesi Selatan (33%).

Total suara yang disurvei berbeda-beda. Misalnya, total suara Puskaptis 299.954 pemilih. Sampel provinsi 33, sampel kabupaten/kota 150, sampel kecamatan 100, dan sampel desa 1.000.

Metode pengambilan data dengan mencatat jumlah suara sah di Tempat Pemungutan Suara (TPS), Rabu (8/7), pukul 13.00-17.00 WIB. Jumlah TPS adalah 2.000. TPS-TPS dipilih acak menurut metodologi  statistik dengan ambang batas kesalahan perkiraan +/-1% dari tingkat kepercayaan.

Walau angka golongan putih (golput) pilpres diprediksi menurun dibanding pemilu anggota legislatif (pileg) (DPR/DPD/DPRD), namun masih tinggi. Bahkan telak mengalahkan JK-Wiranto dan tipis mengalahkan Mega-Prabowo. Quick count Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat, angka golput pilpres 27,42% dan pileg 35%.

Angka golput diambil dari jumlah pemilih DPT ditambah jumlah pemilih non-DPT atau tak terdaftar tapi menggunakan KTP. DPT ditambah pemilih tidak terdaftar dikurangi pemilih yang menggunakan hak suaranya, baik yang sah maupun tidak sah.

Kemenangan SBY-Boediono sudah diprediksi. Yang menarik justru perolehan suara JK-Wiranto. Hasil quick count, JK-Wiranto hanya mendapat antara 12-13%. JK-Wiranto masih di bawah perolehan suara Mega-Prabowo yang mendulang suara 26-28%. JK-Wiranto kalah telak.

Jumlah ini kecil jika dibanding perolehan suara Partai Golkar di Pileg yang mencapai 14,45%, ditambah suara Partai Hanura yang mendapat 3,77%. Apalagi elektabilitas JK-Wiranto menjelang pilpres disebut-sebut terus menaik. Bahkan, tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah mendukungnya. Selain itu, iklan-iklan JK-Wiranto yang komunikatif juga cukup mengenalkan mereka.

Selain itu, dukungan tokoh-tokoh organisasi massa (ormas) Islam ternyata tidak diikuti pengikut-pengikutnya. Padahal dulu JK mengomentari petinggi partai politik dan ormas Islam yang mendukung SBY-Boediono.

“Ada orang yang bertanya kepada saya, ‘Bagaimana Pak, di seberang sana banyak partai Islam?’ Boleh parkir di tempat lain, tapi penumpangnya kan boleh di tempat lain. Yang memilih kan bukan busnya, tapi penumpangnya,” ujar JK seusai menerima beberapa ormas kepemudaan Islam di Posko JK-Wiranto, Jl Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, Minggu (17/5).

Pilpres 2009 mungkin akhir karir politik JK dan Wiranto. Keduanya pernah berlaga dua kali. Untuk mengikuti Pilpres 2014, keduanya terlalu tua. JK akan berusia 72 tahun dan Wiranto 67 tahun.