imsitumeang

Polisi yang Belum Banyak Berubah

In Uncategorized on f 7, 09 at 2:09 am

Polisi termasuk yang sedikit menerima pujian. Masyarakat pelit memuji polisi tapi gampang mencelanya. Apakah berarti kinerja kepolisian sangat buruk? Tidak juga.

Sejak gerakan reformasi, polisi memang telah dan sedang berubah. Tetapi perubahannya seperti siput, tidak burung.

Mengapa masyarakat pelit memuji tapi gampang mencela polisi? Karena ekspektasi masyarakat terhadap peran polisi.

Tanggal 1 Juli 2009 adalah Hari Bhayangkara ke-63. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mewarisi beban yang amat berat. Reformasi memaksanya tanpa persiapan matang berubah menjadi sipil bersenjata dari militer berbedil.

Akibat sistem lama yang menggabungkan kepolisian ke dalam wadah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Dalam sistem lama, polisi anak tiri ABRI.

Ketika gerakan reformasi menggelorakan demokrasi, polisi tanpa persiapan matang mengambil alih keamanan yang ditangani tentara selama Orde Baru (Orba).

Apa biang mengapa masyarakat pelit mengapresiasi polisi? Karena demokrasi membuka ekspektasi masyarakat tanpa kendali, sementara perbaikan kinerja polisi terkendala persoalan. Tidak berimbang antara ekspektasi tentang polisi ideal dan kemampuan faktual polisi memenuhinya.

Mengubah persepsi yang buruk di masa lalu memerlukan langkah luar biasa dan konsistensi kinerja polisi. Krisis kepercayaan yang amat besar tidak bisa direbut dengan prestasi biasa-biasa saja. Harus diciptakan kinerja luar biasa yang mengubah persepsi masyarakat.

Sejauh ini, perubahan yang kentara adalah keinginan polisi menjadi pelayan masyarakat. Diubahlah pusat-pusat pengaduan masyarakat yang mendorong setiap warga mengadukan persoalannya. SIM, STNK, dan pajak kendaraan dilayani melalui bank atau layanan keliling. Sosok sipil yang melayani mulai terlihat.

Tetapi, yang belum berubah banyak adalah sebagai penegak hukum. Belum terasa kenyamanan dan kepastian apabila masyarkat berurusan hukum dengan polisi. Berurusan dengan mereka hanya menambah ketimbang mengurangi dan menyelesaikan perkara.

Skeptis masyarakat berurusan dengan polisi terungkat melalui sindiran. Yaitu, melaporkan kambing yang dicuri kita harus menjual sapi. Kambing tidak ditemukan, sapi pun melayang.

Semuanya adalah problematika polisi yang rakus uang yang dipopulerkan dengan sindiran delapan enam (86). Demi delapan enam polisi menggadai peraturan bahkan harga diri. Preman-preman yang di jalan-jalan dalam berbagai bentuk ternyata menjadi bagian kerakuran polisi kepada delapan enam.

Kita memaparkannya, tentu, tidak menumbuhkan kebencian masyarakat terhadap polisi. Tetapi justru kritik karena kita sesungguhnya sangat mencintai mereka.

Polisi, apa pun reputasinya, berperan vital menegakkan keamanan. Bayangkan apabila sebuah negara hidup tanpa polisi. Mana tahan…

Romantisme masyarakat kepada polisi terdefinisi dalam judul lagu Benci tapi Rindu. Ada polisi dibenci dan dicaci, tapi tidak ada polisi mana tahan…

Sebuah kritik sekaligus ekspresi kecintaan kita kepada polisi. Viva Polri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: