imsitumeang

Kampanye Negatif dan Saling Serang

In Uncategorized on f 1, 09 at 3:28 am

MASA kampanye pemilu presiden/wakil presiden kini memasuki pekan terakhir. Dengan berbagai cara, setiap pasangan calon presiden (capres)/calon wakil presiden (cawapres) beserta tim sukses atau tim kerjanya merebut hati pemilih yang diperkirakan 176 juta orang.

Banyak yang menilai, meski memasuki lebih setengah masa kampanye, rakyat Indonesia belum disuguhi kampanye yang bermartabat. Yang ditebar justru racun politik yang tidak sehat melalui kampanye saling serang. Betulkah? Salahkan kalau saling serang? Salahkan kalau saling klaim kesuksesan?

Ketiga pasangan calon telah berjanji tidak saling serang ketika deklarasi pemilu damai. Bahkan, capres/cawapres lantang mengumandangkannya. Faktanya lain. Sempat terjadi saling sindir, saling menjelek-jelekkan. Inilah yang menjadi menu utama kampanye capres/cawapres beserta tim suksesnya.

Sejumlah isu pun disodorkan ke publik mulai neolib, kuda miliaran rupiah, pengusaha menjadi penguasa, jilbab, hingga sejarah masa lalu. Bahkan, isu berbau suku, agama, ras, antar-golongan (SARA) juga terangkat seperti penyebaran artikel Monitor Indonesia mengenai istri Boediono yang beragama Katholik dalam kampanye dialogis Jusuf di Asrama Haji Medan.

Kejadian ini menyeret Adi Zein Ginting. Adi mengaku di ruang Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Poltabes Medan bahwa ia diperintah Sukri mefotokopi dan menyebarkan artikel itu. Sukri diperintah Makmur Sunar Dalimunthe, seorang pendukung anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terpilih dari Partai Demokrat Abdul Wahab Dalimunthe yang juga koordinator wilayah tim kampanye SBY-Boediono kawasan Sumatera bagian Utara (Sumbagut).

Dan, ungkapan tim sukses SBY-Boediono Ruhut “Poltak” Sitompul dan Rizal Mallarangeng. Mereka semula santun, tapi ujung-ujungnya keseleo lidah juga. Ruhut di Dialog Kenegaraan DPD menyerang Fuad Bawazier (tim sukses JK-Wiranto) dengan menyatakan negara Arab tidak pernah membantu Indonesia. Sedangkan Rizal gencar menyerang cawapres Prabowo Subianto soal karir di Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan status dipecat dan kepemilikan 98 kuda yang tiga di antaranya Rp 3 miliar namun ia berbicara ekonomi kerakyatan.

Lantaran menyerempet persoalan sensitif, Ruhut dan Rizal diisukan dicopot penyokong tim kampanye nasional salah satu pasangan calon. Belakangan mereka muncul lagi di layar-layar kaca.

Kampanye saling serang tidak cuma giat dilakukan anggota tim sukses, pasangan calon pun getol. Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, di Kupang, Minggu (14/6), menyebutkan visi dan misinya yang menolak kapitalisme untuk menepis tudingan neolib.

Ia mengobral wacana, “Kita tidak suka kapitalisme global. Kita juga tidak ingin ada kapitalisme rambut hitam.” Susilo kemudian menambahkan, “Kalau janji, semua orang bisa; saya lebih baik, saya lebih cepat. Jangan terlalu mudah bikin janji.”

Pada saat yang bersamaan, Muhammad Jusuf Kalla di Padang mengatakan motto ‘lebih cepat, lebih baik’ sangat dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara-negara tetangga. “Jadi pernyataan saya mengenai bahwa JK-Win bisa lebih cepat lebih baik adalah bukan merupakan tindakan takabur,” ujarnya melalui blog http://jusufkalla.kompasiana.com.

Bagi Anda yang beragama Islam, khususnya warga Muhammadiyah, tentunya sangat akrab dengan kalimat “fastabiqul khairat” yang sekaligus motto Muhammadiyah. Artinya secara harfiah adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia merujuk surat Al-Maidah ayat 2: “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”. Juga dalam surat Al-Baqarah ayat 148:  “Makaberlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”.

Lain dengan Megawati Soekarnoputri. Saat berkampanye di Malang, Minggu (14/6), Megawati mengklaim keberhasilan Jembatan Suramadu. “Yang buat tiang pancangnya itu adalah Ibu Presiden Megawati. Sekarang, jangan dilihat jembatan sudah jadi dan berdiri megah, tapi siapa yang mengawali.”

Kampanye adalah bagian pendidikan politik. Mestinya, melalui kampanye setiap pasangan calon mengedepankan visi, misi, dan program masing-masing. Seranglah visi, misi, dan program dengan data dan argumentasi. Tapi yang terjadi justru kampanye negatif, baik yang dikemas dalam bentuk berita, iklan politik, maupun talk show. Apakah tidak memberi pendidikan politik?

Sebenarnya, kampanye negatif berguna atau tidak? Pada dasarnya, kampanye negatif justru berguna untuk mencerdaskan rakyat, terutama calon pemilih. Kampanye negatif membantu mereka mengkritisi kelemahan calon pemimpin pilihan mereka sehingga mengubah pilihan calon pemilih. Hanya saja, kultur rakyat yang belum dapat menerima kampanye negatif untuk mencerdaskan dirinya.

Maraknya lontaran isu negatif dari satu pasangan calon terhadap kandidat lain menjelang pencontrengan tanggal 8 Juli 2009 kerap menimbulkan kontroversi. Pasalnya, rakyat kerap membenci pihak yang melontarkan kampanye negatif. Mereka merespon tidak baik. Ketika ada berita yang memuat kampanye negatif, mereka justru sinis. Alhasil, kampanye negatif justru cenderung menguntungkan pihak yang ‘terdzolimi’.

Semestinya, rakyat diberi pilihan, program yang terukur dan terarah beserta alternatif yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat serta mengejar ketertinggalan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: