imsitumeang

“Cuci Gudang” Calon Presiden/Wakil Presiden

In Uncategorized on f 30, 09 at 4:15 am

TIGA pasangan calon presiden/wakil presiden mengikuti pemilu presiden/wakil presiden tanggal 8 Juli 2009. Ketiganya mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) tanggal 16 Mei 2009, hari terakhir pendaftaran.

Mereka adalah Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto (Partai Golkar dan Partai Hanura), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (Partai Demokrat dan mitra koalisinya), serta Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (PDI Perjuangan dan Partai Gerindra).

Jika dibedah, ketiga pasangan memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaannya, ketiga pasangan menggabungkan unsur sipil dan militer, suatu kombinasi yang masih dibutuhkan sesuai dengan budaya politik di negeri ini. Ketiganya juga mewakili agama mayoritas, yaitu Islam, suatu kenyataan yang tidak mungkin terabaikan.

Dari ketiga pasangan, yang tertua adalah Jusuf (67 tahun), diikuti Boediono (66 tahun), Mega dan Wiranto (masing-masing 62 tahun), Susilo (60 tahun), serta yang termuda adalah Prabowo Subianto (58 tahun).

Kebelummunculan calon pemimpin yang berumur 40-an merupakan persoalan. Usia masing-masing merupakan kemunduran zaman karena Bung Karno menjadi presiden saat berumur 44 tahun dan Pak Harto 45 tahun. Bandingkan dengan Amerika Serikat, yang kerap menjadi rujukan atau referensi demokratisasi banyak kalangan di Indonesia.

Di usianya yang 47 tahun, Barrack Hussein Obama berhasil mengalahkan rivalnya, John McCain yang berumur 72 tahun. Pria berkulit hitam itu membuktikan kalau perbedaan ras tak menghalangi dirinya memimpin negeri adidaya itu. Obama terpilih menjadi presiden ke-44 sekaligus kulit hitam pertama di negara yang dulu dilanda isu rasial.

Keterpilihan Obama menambah daftar Presiden Amerika Serikat yang berusia relatif muda. Obama akan berumur 47 tahun 5 bulan saat dilantik sebagai presiden tanggal 20 Januari 2009. Obama dilahirkan tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawaii.

Namun, 4 dari 43 Presiden Amerika Serikat sebelumnya berusia lebih muda dari Obama. Mereka adalah Ulysses S Grant (46 tahun 10 bulan), Theodore “Teddy” Roosevelt (42 tahun 10 bulan), John Fitzgerald “Jack” Kennedy (43 tahun 7 bulan), dan William “Bill” Clinton (46 tahun 5 bulan).

Secara keseluruhan, menurut http://www.news.com.au, 8 Presiden Amerika Serikat yang mendiami Gedung Putih berusia 40-an tahun. Empat lainya adalah James Polk (49 tahun 4 bulan), Franklin Pierce (48 tahun 3 bulan), James Garfield (49 tahun 3 bulan), dan Grover Cleveland (47 tahun 11 bulan).

Usia rata-rata Presiden Amerika Serikat saat dilantik adalah 55 tahun. Jadi presiden termuda adalah Kennedy (29 Mei 1917–22 November 1963), presiden ke-35 yang terbunuh hari Jumat, 22 November 1963, di Dallas, Texas, pukul 12:30 Central Standard Time (18:30 UTC). Sedangkan presiden termuda saat melanjutkan kepemimpinan adalah Roosevelt, setelah Presiden William McKinley terbunuh.

Perbedaannya, Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto memenuhi unsur Jawa-non Jawa, suatu realitas kenusantaraan yang harus dipertimbangkan sekaligus pembuktian politik aliran berbasis etnis yang masih dibutuhkan. Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto masih memenuhi unsur Jawa-non Jawa dengan kadar darah campuran. Megawati mewarisi darah campuran Jawa-Bengkulu sementara Prabowo peranakan Jawa-Manado. Hanya Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang murni Jawa, lebih sempit lagi Jawa Timur. Susilo dari Pacitan dan Boediono dari Blitar.

Yang juga membedakan, hanya Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang kombinasi partai-nonpartai. Boediono dari kampus sedangkan dua pasangan lain dari partai. Sebetulnya, calon unsur nonpartai sangat dibutuhkan mengingat kehadirat kaum intelektual dan teknokrat diharapkan mengeliminisir konflik kepentingan partai.

Periode 2009-2014 merupakan ‘cuci gudang’ calon-calon tua. Siapa pun yang terpilih sebagai presiden, selesailah era mereka. Era Susilo, Jusuf, Megawati, dan Wiranto untuk mencalonkan diri kembali menjadi presiden periode 2014-2019. Juga akhir bagi Boediono yang berumur 71 tahun. Yang tersisa adalah Prabowo yang berusia 63 tahun saat itu.

Karenanya, periode ini amat strategis bagi kaum muda menyiapkan diri menjadi pemimpin nasional lima tahun mendatang. Saat itu tantangan zaman jauh berubah. Siapa pun pemimpin muda yang kelak terpilih harus mempertahankan identitas Indonesia sebagai puak majemuk. Hanya dengan keragaman sebagai Indonesia maka kita bisa berdiri dan melangkah tegap di tengah jagat menyongsong masa depan. Identitas yang tidak boleh diabaikan, apalagi diberangus mereka yang berkuasa.

Hasil Pemilu DPR/DPD/DPRD tahun 2009 dan tiga pasangan capres/cawapres menunjukkan terjadi pergeseran dalam khazanah perpolitikan Indonesia. Partai berbasis agama tidak berkembang, bahkan stagnasi. Pasangan capres/cawapres kali ini pun tidak terlalu menonjolkan kombinasi nasionalis-agamais. Semua pasangan capres/cawapres berbasis kebangsaan.

Memang, Indonesia memerlukan pemimpin yang menaungi semua golongan, etnik, dan agama. Pemimpin yang juga meningkatkan taraf hidup rakyat dan membawa Indonesia menuju persaingan global. Siapakah mereka? Biarlah rakyat yang menentukannya dengan hati dan pikiran yang merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: