imsitumeang

Debat yang Mengecewakan

In Uncategorized on f 22, 09 at 3:06 am

Ketika debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) akan digelar, masyarakat bersemangat menyambutnya. Pertama kali capres dan cawapres bertemu dalam satu forum untuk mempresentasikan program-programnya sekaligus beradu argumen di antara mereka.

Apa yang terjadi? Mengecewakan. Kering. Masyarakat kecewa karena menemukan adu argumen yang dinamakan debat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hanya pemaparan visi dan misi capres/cawapres.

Debat capres putaran pertama bertema “Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia” diikuti Megawati Soekarnoputeri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Muhammad Jusuf Kalla. Diagendakan lima kali debat, tiga di antaranya diikuti calon presiden dan, dua lainnya, calon wakil presiden.

Debat yang dipandu Rektor Universitas Paramadina, Anies Rasyid Baswedan, dibagi empat sesi, yaitu penyampaian visi-misi, pendalaman, diskusi dengan kesempatan calon menanggapi pandangan calon lain, serta penutup. Di sesi diskusi, setiap capres boleh mengomentari pandangan capres lain. Dengan catatan, kalau ada pertanyaan, harus melewati moderator, tidak diajukan langsung.

Aturan debat menjadikan debat menjemukan. Masing-masing capres tidak tertantang mempertahankan pandangannya. Juga tidak tertantang mengkritik program pesaingnya. Justru mereka saling memuji.

Aneh. Debat tapi tidak berdebat. Padahal, jika diskusi digelar tim-tim kerja mereka masing-masing, justru terjadi perdebatan yang seru, saling serang, dan saling mempertahankan pandangan, kadang saling menjatuhkan.

Kita tidak berharap debat yang saling menjatuhkan, tetapi setidaknya mereka memperdebatkan program masing-masing. Jika tidak, debat menjadi tidak bermakna. Masyarakat menjadi buta calon. Di negara-negara maju yang kehidupan demokrasinya berkembang, debat sangat menentukan ketertarikan calon pemilih.

Anehnya lagi, ketika capres-capres di satu podium, justru mereka saling sungkan. Padahal, ketika mereka di panggung kampanye masing-masing mereka sering ‘perang pernyataan’, saling sindir.

Kita mengetahui betapa keras di panggung kampanye capres Megawati mengkritik kebijakan capres (incumbent) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), misalnya mengenai kebijakan utang. Sebaliknya, SBY tak segan menyindir kebijakan masa lalu Megawati yang dinilainya mengalami kegagalan. Juga, target pertumbuhan ekonomi yang tidak masuk akal. Dalam berbagai kesempatan, Muhammad Jusuf Kalla juga menyindir SBY yang ragu-ragu mengambil tindakan sehingga perekonomian bangsa tidak cepat bergerak. SBY pun membalasnya dengan sindiran bahwa lebih cepat tidak selalu lebih baik, tetapi harus cermat.

Sindir-menyindir dan kritik-mengkritik diharapkan dalam debat capres, apalagi jika ada sesi perdebatan langsung. Tapi, kita harus mengalami kekecewaan. Debat mirip monolog. Tidak mengeksploitasi kemampuan dan kelemahan masing-masing capres. Debat yang bermutu penting bagi setiap kandidat karena masih puluhan juta pemilih yang belum menentukan sikap (swing voter). Mereka sebagian menentukan pilihan setelah mengetahui calon melalui debat antarcapres atau cawapres.

Masih tersisa empat debat lagi, yakni dua debat capres dan dua debat cawapres. KPU harus belajar dari debat putaran pertama agar di putaran berikutnya capres/cawapres benar-benar berdebat. Debat yang agresif, bukan monoton. KPU harus mengubah aturan debat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: