imsitumeang

Persaingan Antar-Calon Presiden

In Uncategorized on f 19, 09 at 1:16 am

Persaingan antar-calon presiden menjelang Pemilu 2009 makin menarik saja. Masing-masing tak hanya mempromosikan kualitas diri dan keluarga, tapi juga program-programnya. Mereka juga mulai saling menyerang, bahkan saling mengklaim. Semua sah. Namanya juga kontestasi dan kompetisi. Apa yang disebut sebagai negative campaign—atau black campaign untuk takaran tertentu—tidak masalah, asalkan fakta bukan fitnah.

Di tengah situasi kondisi tersebut tentu ada calon yang tak siap dan menyusun strategi meraih simpati belaka. Misalnya, mengingatkan kampanye harus santun dan tidak menjurus black campaign. Padahal, masalah kesantunan sangat relatif dan subjektif. Bisa berbeda sesuai perspektif dan zaman. Sedangkan, masalah negative campaign merupakan bagian pencarian kebenaran. Silakan.

Yang paling dipentingkan adalah aturan main. Tentu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuatnya. Dan, semua pihak telah mengetahuinya. Selain itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga mengawasi. Di tingkat selanjutnya, polisi, jaksa, hakim, dan Mahkamah Konstitusi (MK). Kita berharap mereka adil dan jujur.

Sebetulnya, yang menentukan adalah calon pemilih, yakni rakyat. Kita. Bukankah yang dilakukan calon-calon presiden bersama calon-calon wakil presiden dan skondannya sedang menarik simpati kita? Berarti, calon dan timnya harus mampu membaca kemauan rakyat. Bisa menyentuh hati dan pikiran kita. Rakyat pun bermacam-macam; sosial, ekonomi, suku, agama, lokasi, juga pendidikan. Masing-masing memiliki psikografi yang berbeda-beda.

Apakah saling klaim dalam perdamaian Aceh akan efektif? Apakah saling klaim pada program konversi gas akan mengena? Apakah saling klaim pembagian bantuan langsung tunai (BLT) memikat rakyat? Apakah saling klaim pembangunan jembatan Suramadu berdampak? Apakah mempromosikan pesona diri yang manjur? Apakah menyoal neolib meruntuhkan lawan? Apakah menyoal bisnis keluarga menghancurkan calon lain?

Struktur masyarakat yang beragam dan jurang antar-kelompok masyarakat yang melebar membuat kampanye di Indonesia lebih rumit dibanding kampanye di Amerika Serikat, misalnya. Kelas menengah kita ditaksir baru 4%. Mereka harus diajak berbicara dan berpikir secara rasional. Namun, budaya paternalistik dan bapakisme yang masih kuat mempengaruhi lapis sosial di bawah.

Pertanyaannya, apakah waktu kampanye yang tersisa cukup membuat rembesan? Sedangkan, lapis sosial yang terbesar lebih mudah menangkap yang simbolik dan jangka pendek. Keadaan tersebut bisa menguntungkan atau merugikan incumbent, bergantung prestasi dan pesonanya selama ini.

Kita harus mengkhawatirkan pembajakan Pemilu 2009 oleh segelintir orang. Karena penyelenggaraanya yang langsung memakan biaya sangat mahal. Padahal, dana yang disediakan sangat besar. Kita memimpikan kejayaan Indonesia yang harus dirintis dan dikritisi melalui pemilu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: