imsitumeang

Jangan Ada Siti-Siti Lagi

In Uncategorized on f 19, 09 at 1:48 am

Lagi-lagi, berita memilukan dari Malaysia. Seorang pembantu rumah tangga (PRT) dari Indonesia, Siti Hajar, dihajar majikannya selama tiga tahun. Bukan hanya itu, gajinya tidak diberikan. Dia makan nasi tanpa lauk pauk.

Begitulah derita Siti, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Garut, yang mencari nafkah di negeri orang. Waktu dijalaninya, bukannya kesejahteraan yang didapat, tetapi penyiksaan. Penyiksaan yang di luar batas-batas kemanusiaan.

Kasus Siti yang ke sekian ribu kali dalam daftar kasus penyiksaan PRT di Malaysia. Sekarang saja, ketika kita bersiap menyabut pesta demokrasi, mungkin ada warga kita yang disiksa atau disekap di Negeri Jiran.

Tiga macam tipikal perlakuan PRT di Malaysia, yakni penyiksaan, gaji yang tidak dibayar, dan yang terparah diperkosa. Penyiksaan dan gaji yang tidak dibayar adalah kasus yang kerap terjadi. Juga terjadi di Singapura dan di negara-negara Arab.

Perlakuan berbeda di Hongkong dan Taiwan. Hampir tidak terdengar PRT yang gajinya tidak dibayar, disiksa, apalagi diperkosa di kedua negara. Justru, masyarakat di kedua negara sangat menghargai PRT. Selain gaji yang tinggi, mereka pun diberi hak libur, yaitu tiap hari Ahad.

Penghargaan PRT di Hongkong tidak terlepas dari ketegasan Pemerintah mereka yang memperlakukan PRT sebagaimana pekerja lainnya. Pemerintah mereka pun sangat tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan majikan, tidak pandang bulu. Keadaan tersebut membuat masyarakat mereka tidak berani macam-macam.

Semestinya, negara-negara di kawasan Arab serta, terutama, Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga melakukan langkah serupa. Pemerintah mereka harus mempedulikan nasib manusia, entah dia sebagai PRT atau pekerjaan lain. Sejauh ini, mereka belum sungguh-sungguh memanusiakan PRT.

Di sisi lain, Pemerintah kita harus serius mengatasi masalah seperti ini. Langkah yang mengatasi kasus Siti sudah baik dibanding sebelumnya. Harapannya, bukan langkah politis menjelang Pemilu 2009, karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri menelepon Siti.

Sistem pengawasan atau monitoring PRT juga diperlukan agar efektif dan efisien secara menyeluruh. Jika terjadi penyiksaan seperti yang dialami Siti, tidak harus menunggu tiga tahun untuk diketahui. Perlindungan terhadap WNI di luar negeri harus ditegakkan, siapa pun dan apa pun profesinya.

Selain itu, dipikirkan penyetopan pengiriman PRT untuk Malaysia atau di negara-negara yang PRT kita sering diperlakuan tidak manusiawi. Kalaupun mengirim, kita memilih negara-negara yang baik memperlakukan PRT.

Kita tidak menginginkan terjadi lagi penyiksaan PRT kita di luar negeri. Kita tidak menginginkan Siti-Siti yang lain menderita di negeri orang demi menghidupi keluarganya di Tanah Air. Jangan ada Siti-Siti lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: