imsitumeang

Archive for Juni 19th, 2009|Daily archive page

Jangan Ada Siti-Siti Lagi

In Uncategorized on f 19, 09 at 1:48 am

Lagi-lagi, berita memilukan dari Malaysia. Seorang pembantu rumah tangga (PRT) dari Indonesia, Siti Hajar, dihajar majikannya selama tiga tahun. Bukan hanya itu, gajinya tidak diberikan. Dia makan nasi tanpa lauk pauk.

Begitulah derita Siti, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Garut, yang mencari nafkah di negeri orang. Waktu dijalaninya, bukannya kesejahteraan yang didapat, tetapi penyiksaan. Penyiksaan yang di luar batas-batas kemanusiaan.

Kasus Siti yang ke sekian ribu kali dalam daftar kasus penyiksaan PRT di Malaysia. Sekarang saja, ketika kita bersiap menyabut pesta demokrasi, mungkin ada warga kita yang disiksa atau disekap di Negeri Jiran.

Tiga macam tipikal perlakuan PRT di Malaysia, yakni penyiksaan, gaji yang tidak dibayar, dan yang terparah diperkosa. Penyiksaan dan gaji yang tidak dibayar adalah kasus yang kerap terjadi. Juga terjadi di Singapura dan di negara-negara Arab.

Perlakuan berbeda di Hongkong dan Taiwan. Hampir tidak terdengar PRT yang gajinya tidak dibayar, disiksa, apalagi diperkosa di kedua negara. Justru, masyarakat di kedua negara sangat menghargai PRT. Selain gaji yang tinggi, mereka pun diberi hak libur, yaitu tiap hari Ahad.

Penghargaan PRT di Hongkong tidak terlepas dari ketegasan Pemerintah mereka yang memperlakukan PRT sebagaimana pekerja lainnya. Pemerintah mereka pun sangat tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan majikan, tidak pandang bulu. Keadaan tersebut membuat masyarakat mereka tidak berani macam-macam.

Semestinya, negara-negara di kawasan Arab serta, terutama, Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga melakukan langkah serupa. Pemerintah mereka harus mempedulikan nasib manusia, entah dia sebagai PRT atau pekerjaan lain. Sejauh ini, mereka belum sungguh-sungguh memanusiakan PRT.

Di sisi lain, Pemerintah kita harus serius mengatasi masalah seperti ini. Langkah yang mengatasi kasus Siti sudah baik dibanding sebelumnya. Harapannya, bukan langkah politis menjelang Pemilu 2009, karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri menelepon Siti.

Sistem pengawasan atau monitoring PRT juga diperlukan agar efektif dan efisien secara menyeluruh. Jika terjadi penyiksaan seperti yang dialami Siti, tidak harus menunggu tiga tahun untuk diketahui. Perlindungan terhadap WNI di luar negeri harus ditegakkan, siapa pun dan apa pun profesinya.

Selain itu, dipikirkan penyetopan pengiriman PRT untuk Malaysia atau di negara-negara yang PRT kita sering diperlakuan tidak manusiawi. Kalaupun mengirim, kita memilih negara-negara yang baik memperlakukan PRT.

Kita tidak menginginkan terjadi lagi penyiksaan PRT kita di luar negeri. Kita tidak menginginkan Siti-Siti yang lain menderita di negeri orang demi menghidupi keluarganya di Tanah Air. Jangan ada Siti-Siti lagi.

Iklan

Persaingan Antar-Calon Presiden

In Uncategorized on f 19, 09 at 1:16 am

Persaingan antar-calon presiden menjelang Pemilu 2009 makin menarik saja. Masing-masing tak hanya mempromosikan kualitas diri dan keluarga, tapi juga program-programnya. Mereka juga mulai saling menyerang, bahkan saling mengklaim. Semua sah. Namanya juga kontestasi dan kompetisi. Apa yang disebut sebagai negative campaign—atau black campaign untuk takaran tertentu—tidak masalah, asalkan fakta bukan fitnah.

Di tengah situasi kondisi tersebut tentu ada calon yang tak siap dan menyusun strategi meraih simpati belaka. Misalnya, mengingatkan kampanye harus santun dan tidak menjurus black campaign. Padahal, masalah kesantunan sangat relatif dan subjektif. Bisa berbeda sesuai perspektif dan zaman. Sedangkan, masalah negative campaign merupakan bagian pencarian kebenaran. Silakan.

Yang paling dipentingkan adalah aturan main. Tentu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuatnya. Dan, semua pihak telah mengetahuinya. Selain itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga mengawasi. Di tingkat selanjutnya, polisi, jaksa, hakim, dan Mahkamah Konstitusi (MK). Kita berharap mereka adil dan jujur.

Sebetulnya, yang menentukan adalah calon pemilih, yakni rakyat. Kita. Bukankah yang dilakukan calon-calon presiden bersama calon-calon wakil presiden dan skondannya sedang menarik simpati kita? Berarti, calon dan timnya harus mampu membaca kemauan rakyat. Bisa menyentuh hati dan pikiran kita. Rakyat pun bermacam-macam; sosial, ekonomi, suku, agama, lokasi, juga pendidikan. Masing-masing memiliki psikografi yang berbeda-beda.

Apakah saling klaim dalam perdamaian Aceh akan efektif? Apakah saling klaim pada program konversi gas akan mengena? Apakah saling klaim pembagian bantuan langsung tunai (BLT) memikat rakyat? Apakah saling klaim pembangunan jembatan Suramadu berdampak? Apakah mempromosikan pesona diri yang manjur? Apakah menyoal neolib meruntuhkan lawan? Apakah menyoal bisnis keluarga menghancurkan calon lain?

Struktur masyarakat yang beragam dan jurang antar-kelompok masyarakat yang melebar membuat kampanye di Indonesia lebih rumit dibanding kampanye di Amerika Serikat, misalnya. Kelas menengah kita ditaksir baru 4%. Mereka harus diajak berbicara dan berpikir secara rasional. Namun, budaya paternalistik dan bapakisme yang masih kuat mempengaruhi lapis sosial di bawah.

Pertanyaannya, apakah waktu kampanye yang tersisa cukup membuat rembesan? Sedangkan, lapis sosial yang terbesar lebih mudah menangkap yang simbolik dan jangka pendek. Keadaan tersebut bisa menguntungkan atau merugikan incumbent, bergantung prestasi dan pesonanya selama ini.

Kita harus mengkhawatirkan pembajakan Pemilu 2009 oleh segelintir orang. Karena penyelenggaraanya yang langsung memakan biaya sangat mahal. Padahal, dana yang disediakan sangat besar. Kita memimpikan kejayaan Indonesia yang harus dirintis dan dikritisi melalui pemilu.