imsitumeang

Archive for Juni 15th, 2009|Daily archive page

Jatuh Lagi, Jatuh Lagi!!!

In Uncategorized on f 15, 09 at 4:12 am

Memori kolektif kini pendek, sangat pendek. Setiap kali musibah alat utama sistem senjata (alutsista) militer, setiap kali pula terdengar lantang teriakan mengenai minimnya alokasi anggaran belanja Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kemudian, kesadaran itu menguap dalam kesenyapan tanpa bekas.

Adalah fakta yang terang-benderang bahwa alutsista TNI rapuh, uzur, dan tertinggal dibanding negara-negara lain. Fakta tidak terbantahkan setiap kali pesawat dan heli TNI (jatuh/crash). Kita harus mengakuinya, tidak sedikit pesawat militer kita yang terjun bebas bukan di medan tempur.

Kerapuhan, keuzuran, dan ketertinggalan mesin perang TNI semakin membuktikan pembangunan militer kian terpinggirkan. Pembangunan militer tidak melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, yaitu menciptakan tentara profesional.

Yang dimaksudkan dengan tentara profesional, sesuai penjelasan Pasal 2 huruf d UU TNI, antara lain, yang mahir menggunakan peralatan militer, mahir bergerak, dan mahir menggunakan alat tempur, serta mampu melaksanakan tugas secara terukur dan memenuhi nilai-nilai akuntabilitas. Karenanya, tentara harus dilatih menggunakan alutsista.

Apakah itu pesawat angkut, patroli, tempur (di jajaran TNI Angkatan Udara), atau di jajaran TNI Angkatan Laut (AL) seperti kapal angkut, patroli, tempur, pemburu, radar. Termasuk, di jajaran TNI Angkatan Darat (AD) seperti kendaraan taktis (rantis).

Profesionalitas TNI selama ini hanya dibangun lewat baris-berbaris dan aba-aba karena negara tidak mengucurkan dana militer. Jangankan membeli peralatan baru, dana untuk merawat mesin perang saja sudah ngos-ngosan. Makanya tidak mengherankan, prajurit TNI terpaksa berlatih dengan pesawat tua dan tidak terawat. Tragisnya, pesawat tua itu mencium bumi untuk mengantarkan nyawa prajurit-prajurit handal TNI.

Sampai kapan kita membiarkan nyawa putra-putri terbaik melayang percuma karena peralatan tempur yang tua dan tidak terawat? Nyawa mereka kan sia-sia kalau kita mengambil keputusan yang tidak segera dieksekusi.

Rencana mengandangkan mesin perang tua dan tidak terawat telah diputuskan tapi tidak dieksekusi. Belakangan, rentetan pesawat dan heli crash. Kesadaran baru harus ditumbuhkan bahwa alutsista tua dan tidak terawat menghujam ke bumi bukan sekadar persoalan anggaran belanja, tapi kebijakan yang hanya diucapkan.

Apakah kita harus menunggu hingga seluruh prajurit handal TNI mati, bukan di medan tempur tapi akibat kelalaian negara. Jauh panggang dari api. Jatuh lagi, jatuh lagi!!!

Iklan

Kita Kehilangan Insani Unggul TNI

In Uncategorized on f 15, 09 at 3:21 am

Setiap kali musibah alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI), terentaklah kesadaran kebangsaan kita. Setiap kali terjadi juga menjadi momen perenungan. Wajar jika pertanyaan yang bermunculan adalah mengapa musibah alutsista TNI masih terjadi lagi? Belum cukupkah rentetan musibah yang terjadi sebelumnya? Apa yang salah sehingga TNI yang harus mengalami ujian yang berat?

Berbagai wacana dikemukakan berbagai kalangan dan pengamat, mulai tuanya alutsista hingga minimnya anggaran belanja. Biarlah itu menjadi bahan perdebatan. Tapi, kita ingin menyoroti dampak fundamental dari sekadar kehilangan alutsista. Yang menyedihkan adalah kita kehilangan insani unggul TNI.

Dalam kecelakaan pesawat dan helikopter TNI Angkatan Udara (TNI AU), kita kehilangan prajurit dan perwira handal. Misalnya, prajurit handal yang menjadi korban dari satuan infanteri, pasukan khusus yang amat sulit dididik dan dikembangkan. Dalam karier ketentaraan, tidak sedikit dari kalangan mereka yang satu saat menempati posisi-posisi kunci TNI. Tak diragukan lagi, mereka adalah insani unggul TNI. Karena itu, kita amat kehilangan.

Kehilangan bertambah ketika kini kita menghadapi banyak tantangan, termasuk yang menyangkut dinamika lokal, nasional, regional, dan internasional. Ketika masalah Blaok Ambalat memanas, solusi damai didorong percaya diri terhadap pengetahuan tentang situasi dan kondisi TNI dan kehandalan pasukan serta kemampuan peralatan.

Rakyat sebagai pemangku kepentingan berhak menyampaikan pesan tersebut agar selanjutnya TNI saksama mengoperasikan dan merawat asetnya yang terbatas. Apabila terjadi musibah, bukan saja kehilangan alutsista, kita juga kehilangan insani unggul TNI.

Marilah kita mengupayakan keselamatan selama mengoperasi alutsista TNI sehingga selain insani unggul TNI yang terjaga, juga perangkat peralatan yang tidak menyusut sia-sia. Mengiringinya, reputasi dan kredibilitas TNI pun  juga terpelihara.

Menunggu Banyak Proyek Seperti Jembatan Suramadu

In Uncategorized on f 15, 09 at 2:55 am

Bangga. Perasaan yang memuncul setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Jembatan Surabaya-Madura atau Suramadu tanggal 10 Juni 2009. Jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu dibangun enam tahun dengan biaya Rp 4,5 triliun.

Seperti diniatkan pemrakarsanya, di antaranya Soekarno dan Bacharuddin Jusuf Habibie yang pemancangan pertamanya dilakukan Presiden Megawati Soekarnoputri, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura akan mendorong kesejahteraan masyarakat Madura. Teorinya, perekonomian akan bertumbuh setelah tersedia infrastruktur, apakah jalan raya atau jalan kereta api, jembatan, atau telekomunikasi.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhan jembatan. Selain jembatan, sarana penghubung lain seperti ferry dan pesawat. Namun, jembatan diyakini lebih memacu mobilitas orang dan barang.

Kita telah berhasil membangun jembatan besar lain, yakni rangkaian Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) yang diselesaikan tahun 1997. Jembatan antarpulau kecil di Provinsi Kepulau Riau itu tonggak keberhasilan dan kemandirian anak bangsa.

Para insinyur kita berhasil memecah persoalan teknis Jembatan Suramadu, mengingat di wilayah tersebut berpotensi gempa juga tiupan angin kencang. Dari proyek ini, kita bisa mengembangkan elemen yang tidak kalah penting dari pencapaian teknis dan kemajuan ekonomi, yakni pengembangan kebangsaan. Interaksi lebih intens akan meningkatkan saling pengertian antarkomunitas, seiring dengan itu juga kebangsaan.

Logika yang sama telah diterapkan tatkala kita meluncurkan Proyek Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa tahun 1970-an. Jika Palapa mempersatukan Nusantara secara makro, Jembatan Suramadu menambah detail penyatuan tersebut.

Dari pelbagai sudut, pembangunan proyek infrastruktur bermanfaat besar, yang di dalam dirinya sendiri terkandung potensi ekonomi. Di China, masa krisis justru disolusikan melalui proyek infrastruktur.

Sekali lagi, melalui proyek seperti Jembatan Suramadu, banyak yang bisa dikembangkan dan dicapai. Karenanya, kita berharap pemerintahan sekarang dan kelak pemerintahan baru bervisi mengembangkan kebangsaan. Proyek yang menunggu banyak, misalnya saja Jembatan Jawa-Sumatera.

Kita mendambakan pemimpin visioner, seperti Soekarno dan BJ Habibie.