imsitumeang

Menyikapi Hasil Survei

In Uncategorized on f 10, 09 at 1:26 am

Hasil survei pemilu presiden/wakil presiden yang dipublikasikan media massa memicu kritik. Independensi lembaga survei digugat dan ditanya.

Transisi perpolitikan Indonesia dari negara otokrasi ke demokrasi sejak tahun 1998 telah membuka ruang keterbukaan. Keterbukaan politik yang memberi kesempatan lembaga riset secara berkala meriset opini masyarakat, termasuk meriset popularitas dan elektabilitas calon yang bertarung dalam pemilu.

Lembaga survei menjelma menjadi sebuah instrumen demokrasi yang tentunya harus terus-menerus menjaga kredibilitasnya. Sekali kredibilitas tergadai—yang berwujud ketertutupan metodologi sehingga susah diaudit hingga model pertanyaan survei yang diarahkan kepada calon tertentu—berakhir pula eksistensinya.

Etika penelitian harus menjadi pegangan. Relasi antara lembaga survei dan sponsor harus diatur sebagai kode etik. World Association Public Opinion Research mencatat, relasi tersebut harus jelas dan tegas, sehingga mudah diketahui masyarakat termasuk asal muasal dananya.

Sebagai sesuatu yang relatif baru di tengah situasi kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya memahami metodologi, hasil survei yang dipublikasikan kerap memicu kontroversi dan syakwasangka. Ujung-ujungnya, kredibilitas lembaga survei menjadi taruhan.

Gugatan masyarakat, termasuk pasangan calon presiden/wakil presiden semakin santer menyusul pengumuman hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI). Survei yang dibiayai Fox Indonesia—konsultan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono—memprediksikan 71% responden akan memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono -Boediono, 16,4% Megawati-Prabowo, dan 6% Jusuf Kalla-Wiranto.

Menyusul Lembaga Riset Indonesia (LRI). Hasil survei LRI yang diumumkan tanggal 7 Juni 2009 atau tiga hari berseleng setelah LSI, Susilo Bambang Yudhoyono -Boediono akan dipilih 33,02%, Jusuf Kalla-Wiranto 29,29%, dan Megawati-Prabowo 17,56%. LRI memperdiksi, pemilu akan dua putaran. Tapi LRI tidak mengungkap donaturnya.

Perbedaan hasil survei bisa membingungkan masyarakat. Di Filipina, lembaga survei juga sering disponsori. Namun, hasil survei diumumkan pihak sponsor, bukan lembaga survei. Yang menjadi pertanyaan, apakah hasil survei untuk kebutuhan internal yang disponsori lembaga juga konsultan pasangan calon harus diumumkan juga? Apalagi, pengumuman justru membingungkan masyarakat!

Saatnya masyarakat mengkritisi hasil survei, termasuk relasi lembaga survei dengan donatur, yang cenderung menjadi alat si donatur!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: