imsitumeang

Kependudukan yang Terlupakan

In Uncategorized on f 9, 09 at 1:26 am

Reformasi telah bergulir satu dekade. Nafsu dan selera melenyapkan semua yang berbau Orde Baru, sekarang memperoleh koreksi kembali. Karena ternyata kita terpaksa kembali pada kewarasan bahwa tidak semua yang dilakukan masa lalu buruk adanya.

Kebanggaan pada reformasi telah membuat kita lupa diri. Lupa bahwa negara harus memiliki GBHN. Lupa bahwa negara harus mempunyai ideologi. Lupa bahwa sistem multipartai yang sekarang bikin pusing tujuh keliling pernah dilenyapkan di masa lalu karena gagal. Dan juga kita lupa pada tertib sosial.

Di antara banyak yang diabaikan adalah soal kependudukan. Pengabaian juga terlihat dari fokus masalah yang menjadi perhatian para calon presiden yang sedang berkampanye dan menjual visi misi sekarang ini. Mereka semua berlomba menjual visi ekonomi dengan mengadu angka pertumbuhan. Tetapi lupa ada satu aspek yang bakal menelan semua angka pertumbuhan itu jika tidak didukung politik kependudukan yang benar.

Orde Baru telah menciptakan prestasi besar dalam bidang pengendalian penduduk melalui gerakan keluarga berencana. Angka pertumbuhan penduduk yang pada 1970 mencapai 2,7% per tahun bisa ditekan menjadi 1,3% per tahun di awal 2000.

Sejak 2000, bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, ledakan penduduk mengancam. Di sejumlah provinsi angka pertumbuhan penduduk sudah melebihi angka rata-rata nasional yang 1,3%. Di beberapa provinsi angka pertumbuhan bahkan di atas 3%.

Pemerintah tenang-tenang saja menghadapi ancaman yang amat serius ini. Sejak reformasi alokasi bidang kependudukan dipangkas, BKKBN sebagai lembaga tidak diberi tempat dan fungsi penting. Sejalan dengan otonomi daerah, BKKBN di daerah dilebur ke dalam dinas kependudukan dan menjadi beban keuangan daerah.

Inilah yang menyebabkan keluarga berencana kehilangan makna di kalangan pemerintah daerah, semata-mata karena alasan keuangan. Dengan target pertumbuhan penduduk 2,7% sejak 1970-an, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 yang diperkirakan menjadi 280 juta bisa ditekan hanya menjadi 201 juta. Angka 280 juta, menurut perkiraan Badan Pusat Statistik baru akan dicapai Indonesia pada 2025 bila laju pertumbuhan penduduk ditekan rata-rata di bawah 2%.

Bagaimana menekan laju pertumbuhan penduduk? Tidak bisa lain kecuali mengaktifkan kembali kesadaran keluarga berencana.

Ancaman bagi Indonesia adalah partisipasi KB yang rendah di kalangan generasi baru karena matinya gerakan keluarga berencana akibat pemerintah yang kehilangan prioritas dalam soal pengendalian penduduk.

Bila partisipasi KB rendah terjadi di dalam masyarakat yang angka kematian penduduknya rendah akibat kemajuan di bidang kesehatan dan kemakmuran, di sanalah awal ledakan penduduk itu terjadi. Karena itu, pemerintah harus sadar untuk menganut politik kependudukan yang benar.

Bila hendak meningkatkan kesejahteraan melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, laju pertumbuhan penduduk harus dikendalikan sehingga angka kelahiran maupun angka kematian sama-sama rendah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: