imsitumeang

Archive for Juni 9th, 2009|Daily archive page

Kependudukan yang Terlupakan

In Uncategorized on f 9, 09 at 1:26 am

Reformasi telah bergulir satu dekade. Nafsu dan selera melenyapkan semua yang berbau Orde Baru, sekarang memperoleh koreksi kembali. Karena ternyata kita terpaksa kembali pada kewarasan bahwa tidak semua yang dilakukan masa lalu buruk adanya.

Kebanggaan pada reformasi telah membuat kita lupa diri. Lupa bahwa negara harus memiliki GBHN. Lupa bahwa negara harus mempunyai ideologi. Lupa bahwa sistem multipartai yang sekarang bikin pusing tujuh keliling pernah dilenyapkan di masa lalu karena gagal. Dan juga kita lupa pada tertib sosial.

Di antara banyak yang diabaikan adalah soal kependudukan. Pengabaian juga terlihat dari fokus masalah yang menjadi perhatian para calon presiden yang sedang berkampanye dan menjual visi misi sekarang ini. Mereka semua berlomba menjual visi ekonomi dengan mengadu angka pertumbuhan. Tetapi lupa ada satu aspek yang bakal menelan semua angka pertumbuhan itu jika tidak didukung politik kependudukan yang benar.

Orde Baru telah menciptakan prestasi besar dalam bidang pengendalian penduduk melalui gerakan keluarga berencana. Angka pertumbuhan penduduk yang pada 1970 mencapai 2,7% per tahun bisa ditekan menjadi 1,3% per tahun di awal 2000.

Sejak 2000, bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, ledakan penduduk mengancam. Di sejumlah provinsi angka pertumbuhan penduduk sudah melebihi angka rata-rata nasional yang 1,3%. Di beberapa provinsi angka pertumbuhan bahkan di atas 3%.

Pemerintah tenang-tenang saja menghadapi ancaman yang amat serius ini. Sejak reformasi alokasi bidang kependudukan dipangkas, BKKBN sebagai lembaga tidak diberi tempat dan fungsi penting. Sejalan dengan otonomi daerah, BKKBN di daerah dilebur ke dalam dinas kependudukan dan menjadi beban keuangan daerah.

Inilah yang menyebabkan keluarga berencana kehilangan makna di kalangan pemerintah daerah, semata-mata karena alasan keuangan. Dengan target pertumbuhan penduduk 2,7% sejak 1970-an, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 yang diperkirakan menjadi 280 juta bisa ditekan hanya menjadi 201 juta. Angka 280 juta, menurut perkiraan Badan Pusat Statistik baru akan dicapai Indonesia pada 2025 bila laju pertumbuhan penduduk ditekan rata-rata di bawah 2%.

Bagaimana menekan laju pertumbuhan penduduk? Tidak bisa lain kecuali mengaktifkan kembali kesadaran keluarga berencana.

Ancaman bagi Indonesia adalah partisipasi KB yang rendah di kalangan generasi baru karena matinya gerakan keluarga berencana akibat pemerintah yang kehilangan prioritas dalam soal pengendalian penduduk.

Bila partisipasi KB rendah terjadi di dalam masyarakat yang angka kematian penduduknya rendah akibat kemajuan di bidang kesehatan dan kemakmuran, di sanalah awal ledakan penduduk itu terjadi. Karena itu, pemerintah harus sadar untuk menganut politik kependudukan yang benar.

Bila hendak meningkatkan kesejahteraan melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, laju pertumbuhan penduduk harus dikendalikan sehingga angka kelahiran maupun angka kematian sama-sama rendah.

Iklan

Agenda Bangsa bukan hanya Isu Ekonomi

In Uncategorized on f 9, 09 at 12:07 am

RUANG politik kita akhir-akhir ini hanya disesaki oleh agenda tunggal, yakni isu ekonomi. Tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) berikut tim sukses mereka hanya riuh meniup terompet, bukan memainkan orkestra.
Seolah-olah persoalan lainnya sudah selesai dan tidak ada lagi isu yang tingkat kegawatannya segenting agenda ekonomi. Juga sepertinya persoalan ekonomi tidak ada kaitannya sama sekali dengan agenda lainnya seperti sosial, budaya, lingkungan, keamanan.
Lebih parah lagi, genderang yang ditabuh bukanlah substansi ekonomi, melainkan debat wacana soal neoliberalisme dan kerakyatan yang mengawang-awang.
Padahal, isu pertahanan, diplomasi, kependudukan, juga kebudayaan tak kalah gawatnya untuk diperhatikan. Di tengah debat sengit tak berujung soal neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan, misalnya, diam-diam sudah sembilan kali kapal perang Malaysia melanggar perbatasan di Ambalat tanpa mampu dihalau.
Contoh lain, soal kependudukan yang sejak reformasi hanya sayup-sayup terdengar, kini semakin tak terdengar. Padahal, tiga tahun lalu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional sudah memberikan alarm bahwa laju pertambahan penduduk di Indonesia sangat cepat dan membahayakan.
Apabila tidak ada intervensi dengan meningkatkan program keluarga berencana, ledakan penduduk niscaya tidak bisa dikendalikan lagi. BKKBN menghitung, bila setiap tahun ada setengah persen saja pasangan usia subur yang tidak menjalankan program pengendalian jumlah anak, diperkirakan pada 2015 jumlah warga negeri ini akan mencapai 300 juta jiwa.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,6 juta jiwa per tahun. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran tersebut diperparah pola penyebaran penduduk yang tidak merata.
Situasi tersebut secara paralel akan membuat semakin sulit meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kemiskinan pun akan kian sulit diberantas. Karena itu, mata rantai sebab akibat itu harus diputus dengan tidak memisahkan agenda kependudukan dengan agenda ekonomi.
Di bidang sosial budaya, hari-hari belakangan bangsa ini juga sedang dihadapkan pada persoalan serius menyangkut masa depan pluralisme bangsa. Dalam beberapa tahun terakhir, aksi-aksi anarkistis yang mencederai kebinekaan bangsa dipertontonkan secara kasatmata.
Kaum minoritas dibuat ketakutan tanpa perlindungan yang memadai dari negara. Seolah-olah telah terjadi pembiaran oleh negara atas tindakan antipluralisme tersebut.
Agenda-agenda tersebut tidak boleh dipandang remeh, untuk kemudian disingkirkan dengan alasan krisis ekonomi. Para capres dan cawapres beserta tim sukses harus berani mengagendakan hal-hal tersebut untuk diuji oleh rakyat.
Rakyat harus mendapatkan gambaran yang utuh mau ke manakah bangsa ini hendak dibawa oleh semua pasangan capres-cawapres itu. Rakyat harus pula punya kesempatan untuk menguji apakah calon pemimpin mereka mampu mengurai problem bangsa yang sangat kompleks itu dan mampu menyelesaikannya.
Jadi, buanglah jauh-jauh debat kusir yang hanya mau menang sendiri.