imsitumeang

Soal Provokasi Malaysia

In Uncategorized on f 8, 09 at 5:13 am

Tajuk Rencana

Kompas, Senin, 8 Juni 2009

Desakan agar Malaysia menghentikan provokasi armada perangnya di perairan Ambalat milik Indonesia sudah berkali-kali disampaikan.

Keefektifan desakan itu praktis kecil. Malaysia terus saja melakukan manuver armada perangnya di perairan Ambalat, yang diklaim milik Indonesia. Provokasi itu terkesan meningkat setelah Malaysia berhasil mendapatkan Sipadan dan Ligitan dari tangan Indonesia tahun 2002.

Masih harus ditunggu sejauh mana desakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memiliki keefektifan untuk menghentikan provokasi Malaysia di perairan Ambalat. Desakan Presiden dilontarkan Sabtu 6 Juni lalu ketika menerima beberapa anggota DPR RI yang akan ke Malaysia pekan ini untuk menyelesaikan secara diplomatik persengketaan perbatasan perairan di Ambalat.

Provokasi Malaysia dilakukan justru pada saat berlangsung diplomasi dan perundingan soal penetapan garis batas perairan Ambalat. Keberanian Malaysia melakukan provokasi perlu dilihat secara dialektis, bukan linear. Secara dialektis, Malaysia melakukan provokasi bukan pertama-tama karena keberaniannya, tetapi lebih karena Indonesia dipersepsikan lemah.

Secara timbal balik dapat dikatakan, keberanian Malaysia bersumber pada kelemahan Indonesia. Tanpa takut-takut pula Malaysia dapat menjarah hutan dan ikan Indonesia. Tidaklah mungkin Malaysia seberani itu jika Indonesia dipandang kuat.

Jelas pula, keangkuhan Malaysia melakukan provokasi laut dan menjarah hutan serta ikan hanyalah akibat, bukanlah sebab. Sumber persoalan utama terletak pada bangsa Indonesia sendiri yang tidak mampu meningkatkan kemajuan ekonomi, ketertiban, dan keamanan.

Citra Indonesia secara keseluruhan memang masih kedodoran. Puluhan juta orang terperangkap dalam kemiskinan, dan angka pengangguran tinggi pula. Praktik korupsi terus merebak luas yang memperlihatkan ketidakmampuan Indonesia memperbaiki kelemahan dirinya. Potret suram itu membuat Indonesia dilihat dengan sebelah mata. Padahal, pada masa lalu, kawan atau lawan memperlihatkan sikap segan dan hormat kepada Indonesia.

Gambaran kelemahan itu meluas dan mendalam. Kelemahan antara lain terlihat di langit Indonesia yang sepi dari raungan suara pesawat tempur. Pemandangan serupa terlihat di laut. Gugusan kapal perang Indonesia terlihat sangat kecil dan bergerak lamban, antara lain karena usia, di tengah samudra luas Nusantara.

Dengan menggunakan momentum pemilu presiden, kiranya bangsa Indonesia mampu memilih pemimpin yang dapat melakukan terobosan kemajuan yang mampu mengusung wibawa dan martabat bangsa sejajar dengan bangsa besar lainnya di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: