imsitumeang

Neolib dan Kerakyatan Ramai-Ramai ke Pasar

In Uncategorized on f 8, 09 at 11:42 pm

POLEMIK yang sekaligus menjadi platform pembeda di antara calon presiden yang bersaing dalam pemilu mendatang adalah neoliberalisme dan kerakyatan. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, walaupun membantah berulang kali, tetap saja dicap kaum neolib.
Sebaliknya pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo sama-sama mengklaim penganut sekaligus pembela paham ekonomi kerakyatan.
Tanpa penjelasan yang memadai tentang perbedaan di antara dua paham ekonomi itu, para calon presiden ramai-ramai terjun ke pasar. Di sana mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak menganut neolib.
Yang pertama dan yang paling rajin adalah Jusuf Kalla. Dia memulai dengan kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, kemudian ke Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Ke mana-mana Jusuf Kalla pergi, pasar selalu menjadi tempat yang dikunjungi.
Tidak kalah dengan Jusuf Kalla, capres SBY mengunjungi Pasar Sukowati di Denpasar, Bali. Selain di pasar ada kerumunan manusia, mengunjungi pasar dilakukan SBY untuk menepis tuduhan terhadap dirinya sebagai orang neolib.
Megawati yang mampu menciptakan drama ‘wong cilik’ dengan memilih Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang sebagai lokus deklarasi juga terjun ke pasar. Dalam rangka pembuatan iklan yang memperlihatkan keberpihakannya kepada ekonomi kerakyatan, Mega masuk Pasar Blok A di Jakarta Selatan.
Sama-sama mengunjungi pasar oleh kedua kubu yang sedang mencari poin perbedaan memperjelas bahwa mereka sesungguhnya tidak menghayati betul distingsi antara kerakyatan dan neolib.
Sesungguhnya tidak ada negara di dunia yang melaksanakan neoliberalisme maupun ekonomi kerakyatan secara murni. Neoliberalisme sebagai paham yang mendewakan pasar tanpa campur tangan negara terlalu banyak ternyata memerlukan banyak regulasi atau intervensi. Tidak mungkin sebuah perekonomian bebas dari intervensi negara.
Sebaliknya, paham ekonomi kerakyatan tidak bisa mengunci pintu rapat-rapat dari pengaruh dan mekanisme pasar. Baik karena pengaruh globalisasi maupun pengaruh kebutuhan pertumbuhan dan kesejahteraan itu sendiri. Semakin sebuah bangsa keluar dari kemiskinan karena perkembangan ekonomi yang membaik, dia mau tidak mau harus membuka diri untuk diekspos atau mengekspos mekanisme pasar.
Jadi, kita sesungguhnya tidak sedang beperkara dengan kaum neolib atau kaum kerakyatan. Kita semua, terutama dalam masa pencarian mandat baru kepemimpinan nasional di masa depan, sedang menggugat seluruh kemandekan dari proses pencarian kesejahteraan dan keadilan.
Karena itu, para capres jangan menyibukkan diri dengan cap neolib atau kerakyatan. Berilah kepada rakyat, dalam proses kampanye sekarang, harapan dan rasionalitas tentang kepastian akan kemakmuran dan kesejahteraan itu.
Perasaan hati kolektif bangsa ini yang paling menyakitkan adalah kelambanan negara merealisasikan kemakmuran dan keadilan itu. Padahal kita bernegara di atas tanah dan air yang kaya raya. Setiap kali kampanye pemilu datang, selalu hadir tokoh dan kaum yang menjanjikan kemampuan dan kemauan. Namun, selalu kandas di tengah jalan.
Jadi, janganlah mengacaukan diri sendiri dengan paham-paham yang tidak kita pahami secara mendalam. Neolib atau kerakyatan semua bermuara pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Kalau sekarang para capres ramai-ramai ke pasar, anggaplah mereka sedang mencuri show komunikasi. Tidak ada penjelasan yang membuat kita paham tentang perbedaan di antara mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: