imsitumeang

Visi Pemimpin

In Uncategorized on f 20, 09 at 3:05 am

Tajuk Republika
Rabu, 28 Januari 2009

Visi dan mimpi masa depan. Dua hal itu yang tampaknya tidak dimiliki para pemimpin kita, yang saat ini sudah berbusa-busa menggelontorkan janji-janji manis. Mereka yang menginginkan kursi panas RI-1 terus berkampanye di media massa, membuka aib dan kejelekan pemerintah sekarang dari berbagai sudut pandang.

Pemerintah berkuasa pun ikut mempertontonkan sebuah permainan–atau lebih tepatnya sebuah dagelan politik konyol–dengan memamerkan segala ‘keberhasilan’ ekonomi untuk sekadar membalas kampanye lawan politiknya yang berkata lain.

Mereka hanya sibuk mengutak-atik angka-angka dan menyebut sukses-sukses dalam proses ekonomi dan produksi. Atau, bagi mereka yang berambisi menjadi presiden, tak henti-hentinya menjanjikan beragam kemudahan dan kemurahan kepada rakyat yang tentu saja berdampak negatif terhadap kelompok lain di masyarakat.

Tak ada cita-cita dan harapan besar yang disampaikan para individu yang mengaku-ngaku sebagai pemimpin itu kepada bangsa ini. Mereka tidak memiliki mimpi masa depan, visi the next future yang cerdas. Mereka tidak memberikan harapan-harapan yang jauh lebih besar, meyakinkan, dan komprehensif kepada bangsa ini tentang kehidupan 20-30 tahun lagi. Bahkan, 50 tahun lagi.

Martin Luther King, Nelson Mandela, dan Barack Obama telah memberikan pelajaran berharga tentang sosok bagaimana seharusnya pemimpin eksis.  have a dream, kata Luther King, menggambarkan cita-cita besarnya untuk mempersamakan hak warga kulit hitam di AS.

Nelson Mandela, sejak di penjara hingga terpilih sebagai presiden Afrika Selatan, bekerja keras untuk menciptakan sebuah visi Afrika Selatan untuk 30-50 tahun ke depan. Ia tidak gelisah terhadap pemerintah berkuasa dan tidak juga berpikir sempit dengan hanya melihat satu-dua aspek keburukan lawan-lawannya.

Barack Obama memiliki sebuah Audacity of Hope yang memperkenalkan cita-cita presiden AS itu untuk masa depan negerinya. Apa yang ingin kita harapkan buat Amerika dalam 30-50 tahun mendatang? Begitu Obama memperkenalkan dirinya sebagai calon presiden. Ia tidak hanya berpikir bagaimana ekonomi Amerika esok atau pekan depan atau bulan depan. Tapi, jauh melampaui semua itu.

Hari-hari belakangan ini, kita dengan pedih melihat beragam kontes yang memperlihatkan kualitas dan mental pemimpin kita, yang cenderung berpikir parsial dan tidak berpijak pada masa depan. Kita melihat sebuah permainan aneh. Misalnya, hanya karena harga BBM turun tiga kali, lalu pemerintah dianggap berhasil dan prorakyat.

Kita juga menyaksikan betapa berapi-apinya seorang capres mengucapkan misinya untuk menyediakan sembako murah kepada rakyat. Atau, seorang calon presiden yang dengan gagahnya merasa pilu dengan kondisi ekonomi saat ini dan berjanji akan mengembalikan minyak-minyak murah kepada rakyat.

Entah apa lagi yang dijanjikan para pemimpin itu kepada rakyat? Apa mereka tidak melihat perubahan global ke depan yang bakal menyaksikan semakin keringnya ladang-ladang minyak kita? Apa mereka tidak sadar betapa petani di Tanah Air masih banyak yang bergelut dengan kemiskinan? Apa yang terjadi jika produk-produk pertanian mereka dijual murah?

Kita berharap, para pemimpin bangsa ini lebih bijaksana dan cerdas dalam mengedukasi bangsa yang sudah semakin pintar ini. Kita tidak ingin memiliki pemimpin yang bervisi pendek dan terpecah-pecah. Tentu, masih ada waktu bagi mereka untuk mengubah dagelan konyol itu menjadi sebuah kontes bermutu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: