imsitumeang

Tapanuli, Milik Siapa?

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:56 am

Tajuk Republika
Jumat, 06 Februari 2009

Reformasi membawa perubahan. Termasuk, perubahan untuk melakukan pemekaran wilayah. Baik wilayah kecamatan, kota, kabupaten, hingga provinsi. Semua pemekaran itu dalihnya untuk menggapai harapan yang lebih baik.Begitu pula yang terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Provinsi yang merupakan miniatur Indonesia. Di situ ada berbagai etnis, termasuk etnis India, Arab, dan Cina. Juga agama; Islam, Kristen Protestan, Khatolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Awalnya adalah pemekaran di sejumlah kabupaten. Di situ harapan dipancangkan, di situ pula harapan tinggal harapan. Yang muncul adalah sejumlah elite lokal baru, dan peraturan-peraturan baru. Sementara, harapan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, masih harus menunggu waktu yang tidak pasti. Ini fenomena umum di sejumlah wilayah pemekaran.Apa sebab? Karena APBD kabupaten pemekaran ternyata sangat minim. Sementara DAU yang diharapkan elite baru itu berlipat-lipat dari APBD. Sebuah mimpi di siang bolong. Tanpa kerja keras, namun mendapatkan harta berlimpah.

Di sini ironi muncul, karena dana banyak tersedot untuk memenuhi kebutuhan elite baru. Akibatnya, pembagian kue tidak merata, karena hanya dimakan orang-orang tertentu.Rakyat yang sudah terkapar terus diiming-imingi mimpi. Mimpi akan lebih baik andaikan membentuk provinsi baru. Salah satu mimpi itu awalnya adalah membentuk Provinsi Tapanuli yang menggabungkan semua daerah bekas Keresidenan Tapanuli era penjajahan Belanda. Tentu saja, di luar bekas Keresidenan Sumatra Timur.

Ibaratnya, walau tidur satu kasur, ternyata masyarakat di bekas Keresidenan Tapanuli memiliki mimpi yang berbeda. Mimpi masyarakat di wilayah Utara dengan dominasi etnis Batak Toba dengan keimanan mayoritas Kristen, ternyata berbeda dengan mimpi masyarakat di wilayah Selatan.Di Selatan, dengan etnis Mandailing dan Angkola yang didominasi umat Islam, memiliki mimpi lain. Begitu juga yang terjadi di wilayah pesisir atau Tengah yang merupakan campuran dua etnis besar, dan dua agama itu pun memiliki mimpi yang berbeda pula.

Ada aksi, ada reaksi, dan ada interaksi. Setelah gagal mempersatukan sejumlah daerah bekas Keresidenan Tapanuli dalam satu provinsi, muncul tiga mimpi besar, yakni Provinsi Tapanuli (Utara), Provinsi Sumatra Tenggara (Tapanuli Selatan), dan Provinsi Tapanuli Barat. Namun, polemik yang tak berujung itu terus dipaksakan oleh segelintir elite dengan mengabaikan masalah sejarah, sosiologi, dan antropologi budaya. Salah satunya, klaim penyebutan Tapanuli tetap digunakan untuk sebuah provinsi baru. Walaupun, wilayah Utara hanya sekitar 1/3 dari daerah Tapanuli. Tapanuli sesungguhnya identik dengan harmonisasi Bhinneka Tunggal Ika, menyatukan perbedaan yang ada di antara sejumlah etnis dan agama.

Karena itulah, pembentukan pemekaran wilayah yang diduga berdasarkan sektarianisme dan primordialisme harus diwaspadai. Pemerintah pusat, DPR, dan DPRD Sumatra Utara harus mengambil sikap tegas bahwa kemajemukan di Sumatra Utara adalah final. Dan, masyarakat Sumatra Utara di mana pun berada, jangan terpancing dengan provokasi segelintir elite yang memaksakan kehendak pembentukan provinsi baru yang mengabaikan harmonisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: