imsitumeang

Produk Dalam Negeri

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:40 am

Tajuk Republika
Selasa, 24 Februari 2009

Resesi ekonomi dunia yang dipicu rontoknya sektor keuangan Amerika Serikat (AS), menyebabkan pasar ekspor dunia lesu. Ini jelas berdampak signifikan terhadap sejumlah negara yang mengandalkan pendapatan dari ekspor. Ekspor kita ke pasar dunia ikut kena imbasnya. Lesunya pasar dunia menyebabkan permintaan barang menurun drastis. Industri dalam negeri pun terancam.

Tak ada pilihan lain kecuali memperkuat pasar dalam negeri. Dan, awal pekan ini, sebuah kebijakan diterbitkan melalui Instruksi Presiden (inpres) RI No 2/2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (P3DN). Inpres ini mewajibkan 468 produk lokal yang wajib digunakan di dalam negeri. Jumlah produk tersebut dimasukkan dalam 21 kelompok. Jumlah 468 produk itu juga merupakan peningkatan cukup signifikan dibandingkan daftar sebelumnya, yang hanya mencantumkan 250 produk.

Inpres yang ditandatangani delapan menteri ini kita yakini bisa memberikan angin segar bagi perindustrian Indonesia. Setelah adanya inpres ini, lesunya pasar ekspor dunia boleh jadi tak berdampak besar. Pasalnya, produk-produk yang selama ini diproduksi untuk ekspor–karena permintaan ekspor lesu–bisa dialihkan ke pasar dalam negeri. Sehingga, tujuan menguatkan pasar dalam negeri bisa benar-benar tercapai.

Namun, kita juga melihat masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan pascaterbitnya Inpres 2/2009. Baik dari sisi produsen maupun konsumen.

Di sisi produsen, misalnya, tantangan yang mesti segera dijawab adalah kualitas. Sudah bukan rahasia lagi, kualitas produk-produk dalam negeri, jauh di bawah produk-produk impor. Pandangan miring terhadap produk sendiri inilah yang harus segera dikikis habis. Jadi, aneh rasanya, jika produk dalam negeri wajib pakai, tapi kualitasnya rendah dan harganya tinggi.

Apakah itu melalui program alih teknologi atau program-program lain, yang jelas program peningkatan kualitas produk dalam negeri mutlak diperlukan. Soal ini, pemerintah dan dunia usaha harus bergandeng tangan. Dengan begitu, kita tidak hanya bersaing dengan harga murah, tetapi juga pada kualitas, yang pada gilirannya akan mendongkrak daya saing produk nasional.

Pekerjaan rumah selanjutnya, dari sisi konsumen, adalah mendongkrak daya beli konsumen. Inpres di atas perlu diperkuat dengan kebijakan-kebijakan yang bisa mendongkrak daya beli konsumen. Tanpa ini, produk-produk dalam negeri hanya akan menjadi pajangan semata, tidak ada pembeli. Kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong peningkatan pendapatan maupun penurunan harga perlu menjadi prioritas. Pungutan liar jelas-jelas masih menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Dan, yang tak kalah penting supaya inpres produk dalam negeri berjalan efektif adalah adanya kebijakan yang jelas dan tegas untuk memproteksi produk dalam negeri, termasuk dari serbuan produk impor. Sampai saat ini, tak ada yang menyangkal jika dikatakan kita masih kacau balau; mana yang akan diproteksi dan mana yang tidak. Peluang memasukkan barang ke Indonesia masih terbuka lebar, legal atau ilegal.

Tak ada cara lain kecuali memperketat pengawasan produk impor, termasuk menghilangkan impor ilegal. Bahkan, bila perlu, pemerintah tak lagi membuka keran impor bagi produk-produk yang bisa dihasilkan di dalam negeri. Ini sekaligus melindungi industri-industri dalam negeri. Jangan biarkan industri dalam negeri hancur karena penyelundupan. Itu kalau mau produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: