imsitumeang

Ponari dan Mahalnya Sakit

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:44 am

Tajuk Republika
Rabu, 18 Februari 2009

Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam sebulan ini dijubeli puluhan ribu orang. Kabar tentang ‘lahirnya’ seorang bocah sakti penyembuh berbagai penyakit menjadi sebab penuh sesaknya kampung itu.Ponari, bocah kelas tiga SD berusia sembilan tahun, diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan berkat batu berwarna yang didapatnya setelah tersambar petir, Januari lalu. Dari pertama keluarganya yang disembuhkan, kabar kesaktian bocah cilik itu menyebar. Dari puluhan, ratusan, ribuan, hingga puluhan ribu orang pun berdatangan ke tempat praktik sang bocah.

Sebagian ‘pasien’ yang datang, yang rela antre bahkan berhari-hari dan terpaksa menginap untuk mendapat kupon antrean seharga Rp 1.000, mengaku memilih Ponari karena tidak mampu lagi membeli obat-obatan yang harganya selangit. Seorang pasien wanita yang sejak enam bulan terus sakit kepala mengatakan untuk sekali berobat di dokter, dia harus bayar Rp 50 ribu. Sementara dengan berobat pada Ponari, hanya membayar seikhlasnya.

Di belahan kota lain, kita juga dikejutkan oleh kabar adanya ribuan bayi yang kekurangan gizi. Di Yogyakarta, misalnya, sedikitnya 2.000 balita kekurangan gizi, sementara di Purwakarta ada 200 bayi.Ketidakmampuan membeli makanan bergizi, mahalnya harga susu, dan tidak sanggupnya para orang tua membawa anak-anaknya ke dokter menjadi beberapa sebab munculnya kasus kekurangan gizi tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, mereka mengatakan sudah sangat sulit. Apalagi memikirkan soal asupan gizi makanan kepada anak-anak mereka.

Kesehatan menjadi barang yang sangat mahal, dan kata-kata sakit menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian saudara-saudara kita. Bagi mereka yang mampu secara ekonomi, tentu tidak terlalu memusingkan tingginya harga obat dan biaya jasa dokter. Tetapi, hukum itu tidak berlaku bagi mereka yang secara ekonomi hidup dalam kemiskinan.Padahal, negara bertanggung jawab menyiadakan kesehatan yang memadai dan murah bagi warganya. Di sejumlah negara, ongkos kesehatan dibebankan kepada negara. Orang-orang miskin di Inggris, misalnya, tidak perlu khawatir jika berhadapan dengan rumah sakit. Kaum ibu yang hendak melahirkan tidak pusing dengan biaya kelahiran–bahkan operasi Caesar (kalau diperlukan) yang mahal–karena semuanya disediakan secara gratis.

Kita berharap para pemimpin bangsa memberikan perhatian lebih pada jaminan kesehatan masyarakat. Jangan sampai, hanya mereka yang mampu secara materi yang mendapat layanan kesehatan yang memang mahal. Kita ingin seluruh rakyat bisa bergembira di kala harus berhadapan dengan dokter dan rumah sakit. Penyediaan obat murah menjadi keharusan yang mesti diwujudkan agar tak terjadi lagi kisah pilu ribuan bayi yang kekurangan gizi, anak-anak terkena busung lapar, dan antrean melukai di depan tempat praktik Ponari si bocah dukun itu. Pemerintah dan para pemimpin bangsa kita harapkan rela mengorbankan sedikit anggaran negara untuk membiayai kesehatan gratis yang berkualitas.

Kita sangat prihatin melihat anggaran kesehatan kita selalu di bawah tiga persen dari total APBN. Dengan anggaran kesehatan Rp 5,1 triliun, artinya dana kesehatan buat 200 juta lebih rakyat Indonesia hanya Rp 145 per orang per tahun. Jelas, jumlah itu jauh dari memadai. Jadi, inilah saatnya kita menegakkan secara proporsional apa-apa yang menjadi hak warga negara, khususnya dalam bidang kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: