imsitumeang

Pelajaran dari Amerika Latin

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:05 am

Tajuk Republika
Rabu, 18 Maret 2009

Ernesto (Che) Guevara mungkin merasa bangga dan bahagia luar biasa jika masih hidup saat ini. Ia tidak hanya mengajarkan bangsa Amerika Latin mandiri dan berdiri di atas kekuatan sendiri, tetapi juga mengubah haluan ‘perjuangan’ kebangsaan dalam satu revolusi sosial. Ia percaya kapitalisme hanya membuat si miskin bertambah miskin, dan negara tidak lagi memiliki harga diri.

Seperti dikatakan mantan presiden Kuba, Fidel Castro, bahwa revolusi sosial di Amerika belum selesai, dan El Salvador baru saja menambah rasa bangga Che–sang dokter yang menjadi kemudian pejuang kiri. Hasil penghitungan suara pemilihan presiden pada Selasa (17/3), partai MFLN, pengusung Mauricio Funes, politikus kiri mantan pemberontak, meraup suara mayoritas, 51,3 persen.

Funes, dulunya jurnalis televisi terkenal di negera berpenduduk tujuh juta jiwa itu, mengalahkan Rodrigo Avila dari Partai Arena yang hanya mendapat 48,7 persen. Funes (49 tahun) juga dikenal sebagai anak emas Hugo Chavez, presiden Venezuela.

Hasil ini menandakan kemenangan bersejarah kaum kiri di negeri kecil yang pernah didera perang saudara itu. Ini untuk pertama kalinya golongan marxist (penerus pemikiran dan gerakan Karl Marx) ini tampil sebagai penguasa di El Salvador sejak berakhirnya perang saudara 18 tahun lalu.

Revolusi sosialis telah menarik minat sebagian besar rakyat Amerika Selatan dan Tengah yang sudah muak dengan kebohongan-kebohongan kapitalisme. Mereka yang secara tegas telah menjadi korban pasar bebas dan sistem yang melebarkan ketimpangan ekonomi, pun akhirnya melawan. Maka, muncullah pemimpin-pemimpin kiri yang menarik perhatian dunia, seperti Hugo Chavez dan Evo Morales (Bolivia).

Perlawanan itu jelas tidak terjadi dengan sendirinya. Ada alasan kuat yang mendasari itu semua. Seperti kita ketahui, sebagian besar negara Amerika Latin tergolong sukses dalam ekonomi rakyat. Segalanya berubah ketika Barat (Eropa dan AS) datang membawa ide-ide perubahan yang mengedepankan mekanisme pasar, liberalisasi perdagangan, dan privatisasi.

Di awal-awal perubahan bersama kapitalis Barat itu, negara seperti Brasil, Argentina, dan Chile memang mengalami pelesatan ekonomi yang membuat decak kagum. Tapi, itu hanya sesaat. Setelah itu booming kehancuran melanda seluruh negeri. Tak cuma kekayaan mereka yang hilang, tetapi juga harga diri sebagai bangsa.

Dari kapitalisme yang serakah itulah kemudian muncul gerakan pembebasan hingga tercetusnya pemikiran ketergantungan yang dipelopori ilmuwan kiri Andre Gunder Frank dan disusul Immanuel Wallerstein. Inti gerakan itu, menolak sistem kapitalis dan lebih memilih sosialis yang ternyata lebih menguntungkan bangsa dan rakyat mereka.

Dari kasus Amerika Latin ini, semestinya bangsa Indonesia bisa belajar banyak untuk menjadi bangsa mandiri. Alm presiden Soekarno menyebutnya sebagai bangsa yang berdikari. Kita sudah menjadi korban keganasan praktik-praktik kapitalisme yang sampai saat ini masih jauh dari memakmurkan bangsa.

Kita sudah menggadaikan energi kita kepada asing, menjual kebun-kebun kita pada perusahaan multinasional, dan mengikat leher kita pada utang luar negeri yang entah sampai generasi ke berapa baru bisa dilunasi. Tidak cuma tubuh kita sebagai bangsa besar telah tergadaikan, tetapi roh kita pun menjadi tak berarti lagi.

Sudah saatnya bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan sistem ekonomi yang tidak adil dan menyengsarakan ini. Tentu, bagi kita, revolusi sosial bukan jawaban tepat. Kita punya ekonomi Islam yang di Barat sendiri sudah diakui bisa menjadi alternatif. Gereja Katolik Vatikan pun menegaskan itu. Lalu, mengapa kita masih ragu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: