imsitumeang

Rindu Politik Bersih

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:12 am

Tajuk Republika
Kamis, 05 Maret 2009

Pemilu legislatif makin dekat saja, 9 April 2009. Dan, kita menyaksikan sejumlah caleg tertangkap maling motor, illegal logging, dan yang menghebohkan menerima suap. Yang terakhir ini berstatus anggota DPR. Ini sekaligus menambah panjang daftar anggota DPR yang terlibat kasus korupsi.

Kita sudah sama menyadari kendati Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) giat menangkapi koruptor, toh korupsi tetap berlangsung. Bahkan, komisi ini dengan sengaja melakukan eksposur yang besar agar menggema, ternyata tak ada yang jera. Bagi siapa saja yang terbiasa berhubungan dengan birokrasi dan penyelenggaraan negara, termasuk politik, kita akan menyaksikan bahwa korupsi tetap berjalan lancar. Yang tertangkap hanya yang sial dan tak hati-hati. Giatnya pemberantasan korupsi bukan berakibat orang tak mau korupsi, tapi korupsi dilakukan semakin rapi. Ada dugaan kebocoran anggaran memiliki proporsi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan di masa Orde Baru.

Ramainya politisi tertangkap basah memberi kesan bahwa korupsi telah beralih dari eksekutif ke legislatif. Yang benar adalah legislatif kini menjadi ladang korupsi baru, sedangkan di eksekutif dan yudikatif bukannya mengecil tapi justru membesar. Cuma mereka lebih rapi dan canggih. Inilah korupsi yang termasuk kategori untouchable corrupt, korupsi yang tak tersentuh. Bukan karena kuatnya kuasa tapi karena sulitnya mengungkap. Dalam situasi ini, tentu politisi adalah koruptor yang paling telanjang dan paling goblok: mudah dideteksi dan mudah diungkap. Kalimat ini terasa ironis.

Sudah saatnya para politisi kembali ke jati dirinya dan ke tugas awalnya: menjadi pengawas. Toh, kolaborasi de – ngan eksekutif untuk sama-sama korup sebetulnya sangat me lelahkan, dan tentu saja keluar dari misi utamanya. De – ngan membiasakan menjadi korup maka rakyat pun giliran menagihnya. Rakyat pun minta disuap: melalui pembagian uang maupun barang serta melalui pembangunan infrastruktur serta berbagai program pembangunan lainnya. Yang pertama jelas-jelas money politics, yang kedua pembangunan telah diselewengkan menjadi ajang transaksional. Ini jelas sangat tidak sehat bagi kemajuan dan kemuliaan bangsa.

Di hari yang makin dekat dengan pencoblosan ini menjadi ajang pemerasan para caleg oleh rakyat. Ada yang minta di kirim pulsa, minta duit, minta sembako, minta dibangun kan rumah ibadah, minta dibuatkan jalan dan jembatan, dan seterusnya. Para caleg sedang stres berat. Ke – hi dupan politik sama sekali tak sehat. Sekilas kita bisa meng hibur diri bahwa inilah saatnya memutar uang di daerah dan di bawah. Namun di balik itu, dana itu dipeoleh dari ha sil korup dan setelah terpilih akan menjadi koruptor sejati.

Partai-partai politik sudah saatnya melakukan kerja sama untuk menghentikan money politics. Tak harus menunggu prakarsa KPK seperti beberapa waktu lalu. Sudah saatnya prakarsa itu datang dari diri sendiri. Jika ada yang melanggar, tetap melakukan money politics, maka mereka yang akan melaporkan ke Bawaslu. Absurd? Tidak. Ini adalah perjuangan kita bersama. Kita rindu kehidupan politik yang bersih. Kita rindu pemilu yang berkualitas: bukan sekadar tak ada konflik tapi juga bersaing secara sehat. Jika ini bisa kita lakukan, maka tahap selanjutnya adalah kehidupan parlemen yang bersih. Insya Allah fungsi penga wasan akan lebih efektif. Maka, pemberantasan korupsi di eksekutif lebih terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: