imsitumeang

Jurang Utang

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:35 am

Tajuk Republika
Rabu, 25 Februari 2009

Franklin D Roosevelt, presiden AS, pernah merasakan betapa perihnya Amerika Serikat (AS) jatuh ke dalam jurang utang besar. Program jor-joran membangun ekonomi demi membuka lapangan kerja baru menyebabkan pembengkakan defisit anggaran. Ekonomi tidak juga membaik, New Deal runtuh, dan utang bertumpuk selangit.

Selasa (24/2), DPR menerima alasan logis dan rasional pemerintah untuk menaikkan defisit anggaran menjadi 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Alasan yang dikemukakan Menkeu Sri Mulyani dan tim ekonomi lainnya persis dengan yang diungkapkan Roosevelt dan juga Barack Obama beberapa waktu lalu: ekonomi tak bergerak tanpa adanya stimulus yang berdampak pada menganganya jurang defisit anggaran.

Kita sangat menghargai alasan logis pemerintah terkait dengan turunnya pendapatan dari pajak dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) di 2009 ini. Krisis keuangan global yang berujung pada resesi ekonomi di sejumlah negara maju memaksa pemerintah harus berbaik hati kepada pengusaha dengan mengurangi dan memotong pajak.

Akibatnya, penerimaan pajak di tahun ini berkurang Rp 59 triliun dari tahun sebelumnya. Sementara itu, PNBP turun sebesar Rp 73,1 triliun. Di sisi lain, ekspor migas dan nonmigas terganggu dengan rendahnya permintaan, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pada Januari lalu, ekspor nonmigas turun drastis dari rata-rata 12 miliar dolar AS menjadi hanya 6 miliar dolar AS.

Persoalannya, dengan tingginya defisit APBN, berarti pemerintah harus kasuk-kusuk menambalnya dengan utang. Penerbitan obligasi negara dan utang luar negeri menjadi beberapa opsi yang bisa digunakan, selain tentunya memanfaatkan surplus APBN 2008 sebesar Rp 51 triliun.

Utang luar negeri sebesar Rp 37 triliun lebih menjadi pilihan utama, mengingat menerbitkan obligasi di saat krisis akan sangat berat. Selain pasar yang suram, tingginya imbal hasil yang kontraproduktif bagi ekonomi menjadi penghadang penerbitan itu.

Utang menyebabkan bangsa ini terpuruk hebat di 1998 saat krisis finansial menghajar Asia. Kini, jumlah utang swasta dan pemerintah di atas 130 miliar dolar AS atau jauh melebihi utang pada saat itu.

Artinya, ada persoalan luar biasa jika kita masih berharap pada utang demi melonggarkan defisit APBN, entah itu utang dari Bank Pembangunan Asia, Jepang, IMF, maupun Bank Dunia. Yang tadinya berharap terjadi pembukaan lapangan kerja baru, malah sebaliknya: angka pengangguran meningkat.

Seorang Paul Krugman, ekonom peraih nobel, saja mengingatkan Obama tentang bahaya utang pascakrisis yang bakal menghantam Amerika dan dunia akibat terlalu longgarnya defisit anggaran. Sementara kita di sini, dengan <I>pede<I>nya membuka jurang lebar demi memuluskan program stimulus yang tidak memberikan gambaran jelas atas perbaikan ekonomi.

Nyatanya, setiap hari, kita selalu dihadapkan pada kabar adanya PHK di sana-sini. Pada sisi lain, kita juga masih dikejutkan dengan berita ada ribuan bayi yang kekurangan gizi, rumah tangga yang tercerai-berai karena sang kepala keluarga tak lagi mempunyai penghasilan, dan semakin membengkaknya jumlah orang yang mengemis di jalan.

Kita hanya mengingatkan pemerintah dan DPR agar lebih berhati-hati dalam memutuskan kebijakan ekonomi, apalagi menyangkut anggaran negara dan utang. Jika sudah krisis mendera, yang paling menderita adalah rakyat kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: