imsitumeang

Histeria Swasembada Beras

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:19 am

Tajuk Republika
Selasa, 10 Maret 2009

Beras. Dalam beberapa pekan terakhir, komoditas penting yang satu ini menjadi pembicaraan. Produksi beras yang terus meningkat membuat Indonesia mengalami surplus beras, dan tahun ini kemungkinan besar mencapai swasembada beras. Bahkan, meski baru prediksi, sejumlah partai politik di pemerintahan menjadikan isu swasembada sebagai keberhasilan.

Pada saat bersamaan, muncul pula wacana serta keinginan besar untuk mengekspor beras. Sesuatu yang selama bertahun-tahun sulit dilakukan. Kini peluang tersebut terbuka lebar. Produksi padi pada tahun ini diperkirakan akan mencapai 60,93 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat 1,13 persen atau 0,68 juta ton dibandingkan produksi tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) malah menyebutkan jika dibanding kenaikan jumlah penduduk, kenaikan produksi beras ini mampu memenuhi laju pertumbuhan penduduk.

Sengaja atau tidak, muncul harapan yang sangat tinggi terhadap keberhasilan mencapai swasembada beras ini. Apalagi, setelah dihantam gelombang krisis global, nilai dan volume ekspor nonmigas kita, yang selama ini menjadi andalan, mengalami penurunan drastis. Maka, muncullah harapan, bahwa sektor pertanian, terutama beras, bisa diandalkan untuk menutupi penurunan volume dan nilai ekspor nonmigas.

Harapan-harapan tinggi itu jelas patut diupayakan bisa terealisasi, meski tentunya masih membutuhkan kerja keras dan koordinasi dari instansi terkait. Hanya saja, ada baiknya pula jika kita tidak terseret gelombang ‘histeria’ swasembada beras. Swasembada memang baik, tapi untuk serta-merta mengekspor beras, perlu dikaji lebih dalam lagi.

Produksi beras boleh jadi mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Tapi kita juga tak boleh lupa, secara geografis, Indonesia, dikenal rawan bencana alam. Kondisi ini perlu dipertimbangkan. Jangan sampai langkah ekspor beras justru menyulitkan pemenuhan kebutuhan pangan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Kita jelas tak berharap bencana terus-menerus terjadi. Tapi, bencana bisa terjadi sewaktu-waktu, kapan saja. Wacana dan semangat untuk mengekspor beras sudah semestinya tak mengabaikan kesiapan pangan saat bencana.

Begitu pula dari sisi produksinya. Lahan produksi memang bisa bertambah. Namun, itu bisa jadi tak berarti jika bencana melanda. Saat musim hujan, misalnya, ratusan hektare lahan sawah puso karena kebanjiran. Dan saat musim panas, ratusan hektare pula yang mengalami kekeringan. Ini jelas bisa mengganggu produksi padi, yang ujung-ujungnya menekan produksi beras. Maka, sudah semestinya pula, wacana dan keinginan besar mengekspor beras, tidak mengabaikan upaya-upaya mempertahankan swasembada beras itu sendiri.

Situasi dan kondisi pasar ekspor yang sepanjang tahun ini masih lesu, juga perlu diperhitungkan. Krisis ekonomi global, harus diakui, masih sangat terasa di pasar ekspor internasional. Dan ini menyebabkan harga ekspor mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga internasional lebih rendah daripada dalam negeri.

Ini berarti, kalaupun kita mampu mengekspor beras, maka kemungkinan besar pada tingkat harga yang rendah. Lantaran itu, jika memang surplus beras, akan lebih bermanfaat bila kelebihan produksi tersebut diolah sehingga mempunyai nilai tambah yang mampu mendongkrak harga. Beras menjadi tepung beras, misalnya, sebagai pengganti tepung gandum yang masih diimpor.

Segala upaya menjadikan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi yang lebih mempunyai nilai tambah, selayaknya menjadi alternatif. Dan swasembada beras, sebagai sebuah keberhasilan, jadi lebih bermanfaat bagi rakyat, ketimbang sekadar ‘histeria’ dan rebutan klaim partai politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: