imsitumeang

Harus Adu Program

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:49 am

Tajuk Republika
Senin, 09 Februari 2009

Menjelang pemilu legislatif pada 9 April 2009, suhu politik kini sudah semakin panas. Beberapa calon presiden dari sejumlah partai telah mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menyerang lawan-lawan politiknya. Bukan hanya para calon presiden, partai yang mengusung mereka pun ikut memanaskan suasana menjelang pesta demokrasi lima tahunan itu.

Calon presiden Megawati yang juga ketua umum PDIP, misalnya, menyatakan bahwa pemerintahan SBY hanya putar-putar naik dan turun seperti yoyo. Maksudnya, penurunan harga BBM hingga tiga kali dalam beberapa bulan terakhir ini tidak banyak artinya karena sebelumnya pemerintah SBY telah menaikkannya dengan harga yang lebih tinggi. Apalagi, kenaikan BBM itu kemudian disertai dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya.

Dengan kata lain, Mega menilai pemerintahan SBY tidak berprestasi alias rapornya merah. Partai Megawati menjanjikan, bila PDIP berkuasa (baca: Megawati terpilih jadi presiden), harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari akan diturunkan dengan harga yang terjangkau oleh rakyat.
Sebaliknya, Partai Demokrat menilai bahwa penurunan harga BBM hingga tiga kali dalam waktu yang relatif singkat merupakan prestasi yang luar biasa dari pemerintahan SBY.

Sementara itu, Partai Golkar lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan NKRI. Mereka juga menjanjikan alokasi dana pendidikan 20 persen dari APBN. Partai Gerindra menjanjikan kemakmuran rakyat Indonesia apabila calon presiden mereka, Prabowo Subianto, terpilih jadi RI 1. Begitu juga dengan calon-calon presiden lainnya. Intinya, semua partai dan calon presiden menjanjikan Indonesia yang lebih baik bila mereka berkuasa.

Adu program dalam kampanye tentu merupakan hal yang baik. Bahkan, merupakan keharusan. Hanya saja, yang ada sekarang ini baru sebatas slogan. Baru sebatas janji-janji kampanye, yang belum tentu bisa direalisasikan.

Kalau sebatas janji-janji, semua partai dan calon presiden tentu sudah jago. Dan, tidak ada janji-janji partai yang tidak baik. Persoalannya, bagaimana mereka bisa merealisasikan dan membuktikan janji-janji kampanye tersebut?

Misalnya, bagaimana merealisasikan harga kebutuhan pokok sehari-hari menjadi murah? Bagaimana cara dan hitungannya? Begitu pula dengan alokasi dana pendidikan 20 persen dari APBN. Apakah tidak mengganggu sektor lain, seperti kesehatan dan pelayanan masyarakat miskin lainnya. Lalu, dana pendidikan itu ditujukan untuk apa saja? Untuk kesejahteraan gurukah, pembangunan dan renovasi sekolahkah, menggratis biaya sekolah, atau apa?

Atau lagi, bagaimana para calon presiden dan partainya mengurus para orang miskin yang jumlahnya cukup banyak? Hampir di setiap perempatan jalan dan sudut-sudut kota-kota besar selalu saja terdapat gelandangan, anak-anak telantar, dan peminta-minta. Bukankah UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 dan 3 sudah mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara dan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak?

Hal-hal semacam itulah yang seharusnya dijelaskan oleh calon presiden dan partai yang mengusungnya, lengkap dengan cara dan detail hitungannya. Tidak sekadar slogan. Tidak hanya mengumbar janji.

Sebaliknya, kita juga berharap rakyat bisa lebih cerdas. Jangan mau dibodohi dengan slogan dan janji-janji kampanye. Kita harus dapat membedakan mana janji kosong dan janji yang bisa direalisasikan. Kita harus bisa membedakan mana pemimpin prorakyat atau yang justru memanfaatkan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: