imsitumeang

Dari Poco-poco ke Yoyo

In Uncategorized on f 20, 09 at 3:06 am

Tajuk Republika
Kamis, 29 Januari 2009

Kita gembira menyaksikan politik Indonesia yang makin matang. Perbedaan politik diekspresikan dan diartikulasikan secara rileks. Megawati Soekarnoputri, selaku ketua umum PDIP yang sedari awal menyatakan diri sebagai oposisi, memproduksi perumpamaan-perumpamaan politik. Suatu saat ia menyebut pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono seperti penari poco-poco. Seolah-olah bergerak, tapi sebetulnya jalan di tempat. Cuma maju-mundur.

Selasa (27/1) lalu, Megawati kembali meluncurkan perumpamaan. Kali ini, ia menyebut pemerintah seperti sedang memainkan yoyo. Memutar rakyat sehingga bingung. Tentu saja semua perumpamaan itu tidak serta-merta. Megawati mengungkapkan soal jumlah penduduk miskin, angka pengangguran, kebijakan menaikturunkan BBM, dan kepemilikan modal di BUMN. Sebagai oposisi, tentu saja kemudian ia mempromosikan programnya.

Suasana ini tentu saja bagus. Ada checks and balances. Sehingga, pemerintah tidak asyik dengan jalannya sendiri. Ada pihak yang mengingatkan. Namun, tentu saja, kita juga harus mengecek kinerja Fraksi PDIP di parlemen. Apakah melaksanakan fungsi checks and balances atau justru cuma menyetujui program-program pemerintah. Dengan demikian, jangan sampai kritik Megawati tersebut cuma dikomunikasikan ke publik, tapi justru tidak diperjuangkan di parlemen.

Apa pun perkembangan ini tentu saja harus kita syukuri dan kita apresiasi. Daripada seperti yang dilakukan sejumlah partai lainnya: ikut dalam pemerintahan, tapi di belakang ikut ngomeli pemerintah. Ikut makan nangkanya, tapi tidak mau terkena getahnya. Koalisi longgar semacam itulah yang membuat pemerintah sering tergopoh-gopoh. Pada sisi lain, sikap PDIP yang berani ambil sikap oposisi juga mendapat apresiasi publik. Hal itu terbukti dengan membaiknya citra PDIP dibandingkan sebelumnya yang hancur dan dihukum publik pada Pemilu 2004 lalu.

Namun, jangan lupa, pembuktian sesungguhnya adalah pada Pemilu 2009 nanti. Publik akan menilai, apakah kritik yang disampaikan Megawati bisa diterima atau justru makin memelorotkan mereka. Yang jelas, citra pemerintah di mata publik terus membaik. Hal ini menunjukkan ada kepuasan relatif masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Kritik oposisi harus dijawab pemerintah dengan kinerja yang bagus. Selebihnya adalah kemampuan masyarakat dalam menilai jalan mana yang terbaik: jalan yang ditempuh pemerintah atau usulan jalan yang diusung oposisi. Titik inilah yang paling rumit.

Politik memang bukan jalan lurus. Dia penuh tikungan, tanjakan, dan rintangan. Bahkan, manipulasi–menonjolkan atau mendahulukan yang menguntungkan dan menyimpan atau menunda yang merugikan. Justru di situ letak permainan para politikus. Kita sebagai rakyat tidak boleh terjebak. Kita harus tetap fokus pada substansi dan kepentingan publik. Bukan pada keuntungan politik sesaat. Institusi-institusi yang diharapkan mewakili publik, seperti media massa, ormas, lembaga riset, dan lembaga akademik harus menjadi katalisator bagi terjaganya amanat konstitusi dan kebenaran. Kita berharap kematangan demokrasi yang sedang mekar ini tak dirusak kembali oleh ketaksabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: