imsitumeang

Berbagi Rezeki Pemilu di Penerbangan

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:28 am

www.bisnis.com
Kamis, 19/03/2009 13:55 WIB

Oleh Hery Lazuardi, John Andhi Oktaveri, Tri D. Pamenan, Ratna Ariyanti, Erwin Nurdin, Hendra Wibawa dan Raydion

Pengelola perusahaan penerbangan di dalam negeri bisa sedikit bernapas lega. Ketika maskapai di banyak negara kekurangan penumpang akibat krisis ekonomi global, maskapai di dalam negeri masih bisa menikmati pertumbuhan.

Penumpang pesawat diyakini meningkat pada bulan ini yang bertepatan dengan masa kampanye pemilihan umum legislatif. Arus penumpang pesawat diharapkan tetap tinggi hingga pemilihan presiden dan wakil presiden pada Juni.

Meskipun Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memproyeksikan arus penumpang pesawat hanya tumbuh 4% pada Maret. Namun, kenaikan itu setidaknya menjadi angin segar pada saat musim sepi penumpang seperti sekarang, apalagi setelah arus penumpang pada Januari turun 3,7%.

Kenaikan ini sudah diduga sebelumnya karena partai politik sudah memesan pesawat sewa sejak jauh hari. Bahkan, menurut Direktur Transwisata Prima Aviation Rustam Suhanda, beberapa parpol memesan pesawat jet eksekutif khusus untuk kampanye.

Pesawat carter yang diminati petinggi parpol bervariasi, mulai dari pesawat Fokker 100 hingga pesawat jet eksekutif Beech 390 Premier I berkapasitas enam orang.

Transwisata memiliki empat pesawat fixed wing dan dua rotary wing atau helikopter. Pesawat bermesin jet perusahaan ini, yakni Fokker 100, Fokker 28 (F28 MK-4000), dan Beech 390 Premier I, sedangkan yang bermesin turboprop Cassa 200. Maskapai carter ini juga memiliki helikopter tipe Bell 407 dan Super Puma NAS 332.

Rustam enggan mengungkapkan nama partai dan nilai sewa pesawat tersebut. Yang jelas, tarifnya bervariasi, tergantung lama pemakaian, rute, hingga lama menunggu di bandara. Sewa Fokker 100, misalnya, dipatok mulai US$7.500 hingga di atas US$10.000, tergantung pemakaiannya.

Pesawat reguler
Kalau beberapa petinggi parpol memilih pesawat carter eksekutif, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla ternyata lebih suka menyewa pesawat yang dioperasikan maskapai penerbangan reguler.

Wakil presiden yang populer dengan panggilan JK ini menyewa pesawat Boeing 737-300 milik Sriwijaya Air selama 2 pekan.

JK mengontrak pesawat berkapasitas 167 tempat duduk itu selama 2 pekan mulai 17 Maret. Rencananya, pesawat itu digunakan untuk berkampanye keliling Indonesia, dari Aceh hingga Papua, sampai dengan 6 April.

Sekjen DPP Partai Golkar Sumarsono mengatakan biaya untuk mencarter pesawat berasal dari saweran anggota partai, selain menggunakan pesawat pribadi milik kader. “Kami patungan untuk mencarter pesawat. DPP tidak punya uang banyak,” katanya.

Salah satu pesawat yang dicarter adalah Pelita Air Service, terutama bagi tokoh Golkar yang akan berkampanye ke sejumlah daerah, seperti Wakil Ketua Umum Agung Laksono.

Kader Partai Golkar lain yang tergolong mampu, seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakrie, menggunakan pesawat pribadi untuk kegiatan kampanye. Begitu juga dengan Kalla yang menggunakan dana sendiri dan pesawat pribadinya. “Sejauh mungkin Pak JK tidak menggunakan fasilitas negara,” kata Sumarsono.

Sriwijaya Air ternyata tidak hanya mendapatkan kontrak sewa pesawat dari Partai Golkar. Permintaan juga berdatangan jauh hari sebelum musim kampanye dimulai, antara lain dari Partai Demokrat, PDI Perjuangan, dan Partai Amanat Nasional.

“Pak Harmoko [mantan menteri penerangan era Orde Baru] juga menyewa pesawat kami,” kata Ruth Hanna Simatupang, juru bicara Sriwijaya Air.

Partai Demokrat juga menyediakan pesawat khusus untuk petinggi partai. Selama berkampanye ke luar kota, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab dipanggil SBY menggunakan dua pesawat TWA yang dicarter khusus.

Satu pesawat akan digunakan oleh SBY dan tim intinya, sedangkan satu pesawat lagi untuk mengangkut rombongan wartawan dan artis pendukung acara. Menurut jadwal SBY-Bravo Media Center, SBY akan berkampanye di 15 kota mulai 20 Maret.

Selain Sriwijaya Air, maskapai penerbangan reguler lainnya juga mengincar rezeki pemilu.

Merpati Nusantara Airlines, misalnya, menawarkan carter pesawat untuk kampanye, selain mengandalkan penerbangan reguler.

GM Corporate Secretary Merpati Sukandi mengatakan pihaknya membuka kemungkinan partai politik mencarter pesawat maskapai BUMN itu. “Meski saat ini belum ada yang masuk, tetapi saya berharap Merpati juga mendapatkan rezeki kampanye,” katanya.

Dia memperkirakan arus penumpang Merpati meningkat 10% selama masa kampanye legislatif hingga pemilihan presiden dan wakil presiden.

Penumpang meningkat
Garuda Indonesia bahkan menikmati peningkatan penumpang hingga 15% memasuki masa kampanye. “Penumpang Garuda naik 10%-15% dibandingkan periode Januari dan Februari,” kata Kepala Komunikasi Perusahaan Garuda Pujobroto.

Dia mengakui beberapa parpol berencana mencarter pesawat Garuda untuk tujuan kota-kota tertentu. “Memang ada permintaan carter pesawat ke sejumlah kota di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.”

Potensi peningkatan arus penumpang selama masa kampanye juga diakui oleh Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air. Dia mengatakan maskapai penerbangan sedikit terbantu oleh kegiatan kampanye selama masa sepi penumpang pada Februari-April.

Hal senada diungkapkan Dirut Indonesia AirAsia Dharmadi. Dia menyatakan ada dampak positif kampanye terhadap arus penumpang di dalam negeri.

“Secara khusus tidak ada pesawat kami yang dicarter, tetapi penumpang memang terlihat peningkatan, baik untuk domestik maupun internasional,” ujarnya.

Namun, Ketua Umum Indonesia Air Charter Association (IACA) Ari Singih menilai aktivitas penerbangan carter pada Maret tidak sebaik bulan yang sama tahun lalu.

Menurut dia, krisis keuangan global sangat memengaruhi bisnis penyewaan pesawat di hampir perusahaan penerbangan carter. “Kemungkinan kondisi ekonomi masih buruk,” ungkap Ari yang juga Managing Director Premiair.

Selain maskapai penerbangan reguler, parpol mempunyai banyak pilihan maskapai carter. Saat ini terdapat 24 maskapai penerbangan carter di Indonesia. Lima maskapai di antaranya masuk kategori I versi Departemen Perhubungan, yakni Travira Utama, National Utility Helicopter, Airfast Indonesia, Pelita Air Service, dan Ekspres Transportasi Antarbenua.

Adapun maskapai carter kategori II, yakni Nyaman Air, Aviastar Mandiri, Nusantara Buana Air, Air Pacific Utama, Gatari Air Service, Kura-Kura Aviation, Sayap Garuda Indah, Deraya Air Taxi, Derazona Air Service, Asco Nusa Air, Asi Pudjiastuti, SMAC, Penerbangan Angkasa Semesta, Transwisata Prima Aviation, Dirgantara Air Service, Eastindo, Survei Udara Penas, Alfa Trans Dirgantara dan Intan Angkasa Air Service. (hery.lazuardi@bisnis.co.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: