imsitumeang

Beratnya Pasar Tunggal ASEAN

In Uncategorized on f 20, 09 at 2:31 am

Tajuk Republika
Selasa, 03 Maret 2009

Imbas krisis global belum benar-benar tuntas. Bahkan, penanganannya pun belum sepenuhnya tersosialisasi dengan baik. Beragam konsep dan teori ekonomi dilontarkan untuk menangani sekaligus mengantisipasi krisis serupa terjadi kembali di masa mendatang. Semua itu tentu menguras pemikiran tim ekonomi pemerintahan saat ini.

Dan, sejak akhir pekan kemarin, pekerjaan rumah tim ekonomi dipastikan bertambah. Pasalnya, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) sepakat untuk memperkuat upaya-upaya menghilangkan sekat-sekat perdagangan di kawasan dan akan melawan proteksionisme untuk menciptakan pasar tunggal pada 2015. Kesepakatan ini merupakan bagian dari Deklarasi Peta Jalan Menuju Komunitas ASEAN 2009-2015 berdasarkan Piagam ASEAN. Dengan demikian, ASEAN selangkah lagi menuju masyarakat tunggal ASEAN, sebuah komunitas di kawasan yang terintegrasi.

Kesepakatan itu jelas bukan perkara sembarangan. Pasar bebas dan melawan proteksionisme seolah menjadi salah satu jurus andalan demi terealisasinya ASEAN bersatu. Tahun 2015. Itu berarti kita hanya punya waktu sekitar enam tahun atau kurang lebih satu periode pemerintahan. Padahal, masih banyak persoalan yang harus dibenahi terkait perdagangan internasional kita.

Banyak hal yang mesti dilakukan agar kita benar-benar siap memasuki pasar bebas ASEAN yang juga diharapkan menjadi base production bagi perusahaan-perusahaan di kawasan. Arus barang, jasa, dan investasi menjadi bisa bergerak bebas di kawasan. Ini mirip-mirip Uni Eropa, tanpa mata uang tunggal. Siapkah kita?

Paling tidak, pemerintah, termasuk yang akan terbentuk dari hasil pemilu tahun ini harus melakukan perubahan kebijakan dalam negeri terkait perekonomian. Sebut saja, misalnya, kebijakan di bidang investasi, baik portofolio maupun langsung. Begitu pula dengan kebijakan penurunan tarif perdagangan. Juga, kebijakan domestik di sektor jasa, khususnya tenaga kerja. Dan, karena Indonesia telanjur menyepakati pasar bebas ASEAN, penyesuaian kebijakan dalam negeri sebaiknya dilakukan secara berhati-hati.

Di sektor investasi, kita sudah memiliki UU Penanaman Modal yang dianggap cenderung proinvestor asing karena tidak membedakan perlakuan dengan investor dalam negeri. Jika kebijakan penurunan tarif perdagangan dilakukan sekadar mengikuti kesepakatan, bukan mustahil pasar negeri ini bakal didominasi produk impor. Produk agrikultur, misalnya. Sekarang pun publik lebih mengenal beras Vietnam dan buah-buahan Bangkok ketimbang dari daerah sendiri.

Pasar tunggal ASEAN boleh jadi bisa mengangkat daya saing kawasan di level dunia. Namun, bagi petani dalam negeri, belum tentu. Apa jadinya nasib petani kita jika arus produk pertanian impor dari Vietnam atau Thailand bebas masuk Indonesia. Belum lagi, nasib usaha kecil menengah yang bakal terlempar dari peta persaingan karena berhadapan dengan industri besar dari Malaysia, Thailand, Filipina, atau Singapura. Usaha kecil dan petani kita pun bukan tak mungkin cuma bisa menonton karena produknya tak mampu menyaingi produk impor berharga murah.

Kita tak ingin itu terjadi. Tidak semua sektor industri dan perdagangan kita siap menuju pasar tunggal ASEAN sehingga harus dikecualikan dari kesepakatan pembukaan pasar. Dan, ‘melawan proteksi’ jelas bukan kata yang tepat. Kita justru butuh kebijakan proteksi yang jelas dan tegas untuk melindungi petani, pedagang, dan usaha kecil. Pasar tunggal ASEAN memang mampu memperkuat ekonomi kawasan. Tapi, bukan dengan mengorbankan hak petani dan usaha kecil untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: