imsitumeang

Pelajaran dari Kamboja

In Uncategorized on f 19, 09 at 1:00 am

Kompas, Kamis, 19 Februari 2009

Kaing Guek Eav atau Duch menjadi tokoh pertama Khmer Merah yang diajukan ke Pengadilan Genosida Kamboja.

Ini sebuah langkah berani.

Tidak berlebihan kiranya kalau kita katakan bahwa pengadilan atas salah satu tokoh Khmer Merah itu adalah sebuah langkah berani. Apa yang dilakukan Pemerintah Kamboja adalah sebuah langkah untuk menyelesaikan masa lalu lewat aturan hukum yang berlaku. Tentu, rakyat berharap pengadilan bisa independen dalam mengadili para pelaku genosida; mengadili mereka yang bertanggung jawab atas tewasnya 1,7 juta orang Kamboja.

Memang, saat yang sangat bersejarah itu baru tiba setelah 30 tahun rezim Khmer Merah tumbang, atau 13 tahun setelah muncul prakarsa membentuk pengadilan genosida itu, dan hampir tiga tahun setelah pengadilan itu dibentuk.

Kiranya bukan soal waktu lama atau sebentar yang memberikan arti pada langkah yang diambil Pemerintah Kamboja, melainkan keputusan untuk mengadili para penjahat peranglah yang memberikan arti penting bagi pengadilan itu sendiri.

Duch adalah tokoh yang dituduh ”melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan”. Ia bertanggung jawab atas kematian sekurang-kurangnya 12.380 orang di pusat penyiksaan Tuol Sleng, Phnom Penh. Duch adalah satu dari lima tokoh Khmer Merah yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Keputusan untuk mengadili Duch dan kawan-kawannya adalah sebuah langkah yang tepat untuk menuntaskan dendam sejarah. Kamboja berusaha membuka sejarah baru dengan menyelesaikan masa lalu dengan cara yang elegan: jalur hukum. Mereka tidak menggantung persoalan. Mereka tidak membiarkan masalah dengan status yang tidak jelas.

Yang dilakukan Khmer Merah adalah sebuah tindakan yang jauh di luar batas-batas kemanusiaan. Waktu itu, para korban bagi mereka tidak lebih hanyalah angka; pembunuhan berarti berkurangnya jumlah penduduk yang tidak mereka kenal; sengsara adalah derita yang dialami orang lain.

Bukankah sikap-sikap semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu saja? Karena itu, lewat pengadilan, mereka dituntut untuk mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah mereka lakukan.

Menurut hemat kita, dengan cara demikian, Kamboja akan memperoleh pelajaran berharga dalam perjalanan menjadi sebuah bangsa. Keberanian untuk mengoreksi diri adalah bentuk kedewasaan sebuah bangsa.

Kita berpendapat, kejahatan terhadap kemanusiaan tidak bisa dibiarkan. Hukum harus ditegakkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: